[3] My Fault

2.4K 216 6
                                        

-------------------

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

-------------------

"Iya, kau kan mendekatinya" jawab Jeonghan. Setelah itu terdengar sorakan dan tawa yang riuh. Aku mengurungkan niatku untuk masuk dan mendengarkan ucapan mereka.

"Ya! aku sudah membuatnya jatuh padaku sebelum satu bulan.. mana nintendo yang kau janjikan?". Hatiku terasa dihujam ribuan panah secara bersamaan.

Suara lembut yang biasanya memanggil dan mengkhawatirkanku ternyata hanya bualan belaka. "Kejam sekali kau, Choi Seungcheol.. memainkan gadis hanya untuk nintendo" goda Hoshi.

"Lalu jika tak untuk taruhan, aku harus menyukainya?" tanya Seungcheol. "Aku Choi Seungcheol, aku juga mau seseorang yang se level denganku.. kau tak lihat gadis yang memujiku banyak sekali yang lebih darinya?" lanjutnya

Aku meremas kantung plastik yang kubawa. Selama ini ia meyakinkanku bahwa ia tulus hanya untuk taruhan. Instingku diawal tidak salah. Kalau saja aku menuruti instingku, pasti saat ini aku tidak berdiri didepan pintu UKS seperti sekarang layaknya orang bodoh.

"Oh Y/N?" panggil Wonwoo. "Ah, ini aku titip untuk Seungcheol Oppa" kataku sambil memberikan kantung plastik yang kupegang. "Kau tidak masuk?" tanya Wonwoo.

Aku menggeleng dan memberinya salam sebelum pergi menuju kelas. Rasanya air mataku bisa jatuh kapanpun saat ini. Aku tahu dia tampan, dan banyak sekali gadis yang lebih cantik dariku yang menginginkannya.

Tapi kenapa dia harus membuatku sebagai taruhan. Karena sedari awal aku terlihat murahan baginya?. Aku masuk kedalam kelas dan mencoba menutupi rasa sakitku dengan senyuman.

Jina telah menungguku di dibangkuku. "Jina-ya, setelah lihat pertandingan pukul 12 ya kita makan bingsu" ucapku. Ia mengangguk "Mian aku tak bisa menemanimu, aku berjanji pada Appa hingga siang hari" jawabnya.

Aku hanya menanggapi jawaban Jina dengan tersenyum. Hatiku masih sakit, aku ingin segera pulang dan menangis. Jam yang ada dinding pun terasa lambat sekali berputarnya.

Saat bel pulang sekolah aku segera mengemasi barangku dan mengajak Jina pulang. "Ah Seungcheol Oppa masih sakit ya, jadi tak bisa mengantarmu" kata Jina.

"Iya, dia butuh istirahat" jawabku asal. Kami menyusuri lorong untuk mencapai gerbang. Mataku menatap artikel yang aku buat dikerumuni oleh banyak gadis. Gadis-gadis cantik yang pandai bersolek itu semuanya suka pada Seungcheol.

Tentu saja ia merasa tak selevel denganku. "Ya, Y/N-ah.. Wonwoo Oppa memanggilmu daritadi" ucap Jina membuyarkan lamunanku. Aku menoleh kebelakang dan menemukan Wonwoo berlari kearahku.

Long Short Story SeventeenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang