Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
-------------------
Aku membuka pesan itu dan muncul artikel berjudul "Kekasih Idol Top, Kwon Hoshi adalah Seorang Pemeras?". Dalam artikel itu terpampang jelas fotoku dan Hoshi saat kami kencan di sebuah mall.
Kami saling bertatapan dalam panggilan video itu. "Ish! Dasar gila!" runtuk Hoshi. Ia menyambar ponselnya dan mematikan panggilan. Setelah 10 menit artikel itu naik, sosial mediaku yang awalnya penuh pujian karena menjadi support system Hoshi berubah drastis penuh kecaman.
Ponselku tak berhenti berdering dan aku memutuskan untuk mengeluarkan akun insta ku. Tanganku gemetar, apa ini yang Hoshi ceritakan tadi.
Aku meletakkan ponselku dan mencoba menghembuskan nafas perlahan menenangkan diri. Tak lama ada sebuah panggilan masuk dari nomor tak dikenal.
"Temui saya di kafesekitaran agensi sekarang" ucapnya lalu langsung mematikan telfonnya. Aku masih mempertimbangkan keputusanku untuk menemui penelfon tidak jelas itu.
Dan akhirnya langkahku membawaku ke kafe di area agensi Hoshi. Disana hanya ada seorang wanita paruh baya sedang duduk di ujung cafe. Aku menghampirinya dan ia langsung menyuruhku duduk.
"Sudah baca artikelnya? Aku bisa membuatmu lebih menderita jika kau tak segera melepaskan Hoshi" ancamnya. Aku meremas tali tasku kuat. "Apa yang akan kau lakukan?" tanyaku.
Suara yang keluar dari mulutku terdengar jelas bergetar. "Keluargamu? atau bahkan aku bisa menghilangkan pekerjaan Hoshi" ucapnya sambil melayangkan smirknya.
Aku menelan ludahku mendengar hal gila lain yang akan ia lakukan. Hoshi sangat mencintai pekerjaannya sekarang, aku tak sampai hati membuatnya kehilangan semua yang ia raih sedemikian rupa.
Tepat setelah wanita itu meninggalkanku, Hoshi menghubungiku. "Kau dimana?" tanya Hoshi. "Di cafe biasa" jawabku. Hoshi berdiri di ambang pintu kafe dengan nafasnya yang tersengal.
Ia menghampiriku dan terdiam cukup lama. Aku bisa melihat tangannya mengepal kuat. "Hoshi-ya". "Y/N-ah". Kami saling bertatapan karena memanggil bersamaan.
Aku menyuruhnya untuk melanjutkan ucapannya. "Mari.. kita akhiri hingga disini". Perkataan itu sudah kuduga saat ia menelfonku. Tapi entah kenapa hatiku terasa sakit.
"Iya, mungkin itu yang terbaik" ucapku. Hoshi meninggalkanku begitu saja terdiam dikafe. Aku merasa begitu menyedihkan. Benar adanya bahwa aku hanya mempersulit Hoshi.
Aku menyusuri jalanan perlahan menuju rumahku. Setibanya dirumah dan menatap boneka harimau putih di sofa ruang tamu, air mataku mengucur deras.