[7] Heal /4/

1.2K 131 7
                                        

Recommended song: Seventeen - Hug------------

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Recommended song: Seventeen - Hug
------------

Aku menatap Dokyeom, ia memandang ke arah luar jendela. "Maksudnya?" tanyaku. Dokyeom menatapku dan tersenyum. Senyuman yang menggambarkan beribu rasa sakit yang terpendam.

Senyuman yang tak pernah ia sunggingkan sebelumnya. Dan senyuman yang aku tak tahu bahwa Dokyeom memilikinya. "Aku pun berharap cerita itu hanya rumor" jawab Dokyeom.

"Benar, cerita tentang 6 tahun lalu ada angkatan yang bunuh diri di hari hujan sebelum ujian akhir karena stress belajar.." ucap Dokyeom. "Lebih tepatnya siswa 3-1 Seni, tapi ia tidak bunuh diri di sekolah" jelas Dokyeom.

Bibirnya bergetar seakan tak lagi dapat menahan semuanya sendiri. "Orang itu Jeon Wonwoo, kakak tiriku.. Ia bunuh diri di rooftop apartemen kami".

Aku terdiam, ingatan ku kembali pada hari dimana kami melihat sakura bersama. Ada seseorang yang memanggil Dokyeom sebagai Jeon Wonwoo. Seakan tahu isi pikiranku, Dokyeom mengangguk.

"Iya, dia mirip sekali denganku.. kecuali fakta dimana aku jauh dibawah kakakku" kata Dokyeom sambil menggaruk tengkuknya. "Ia menerima tekanan dari Eomma demi aku bebas dari Eomma"

"Ia mau melakukan apapun agar aku hidup senang, baginya aku adalah segalanya.. Ia merasa bebas dan bahagia saat aku disisinya". Dokyeom terdiam cukup lama. Suaranya kini bergetar.

"Tapi dihari itu, aku tak menemaninya.. dan ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.. aku ingin sekali kembali ke hari itu dan selalu bertanya apa ia akan tetap memgakhiri hidupnya jika aku ada disisinya".

Mataku berkaca-kaca dan hatiku sakit. Aku bisa merasakan sakit yang dirasakan Dokyeom. Bagaimana ia menyimpan semuanya sendirian cukup lama. Dan bagaimana rasa hatinya setiap ada orang bercerita tentang kejadian itu.

Tanpa terasa air mataku jatuh. Tanganku memegang jari Dokyeom, dan mataku tak dapat melihatnya. "Pasti.. itu berat untukmu menyimpannya sendiri" ucapku. Sepertinya Dokyeom sadar karena suaraku bergetar.

"Kau tidak apa?" tanya Dokyeom. Ia memegang kedua pipiku dan mengangkat kepalaku agar menatapnya. "Aku.. tidak seharusnya menangis, tapi aku tak bisa berkata apapun lagi.. semuanya pasti berat untukmu" jawabku.

"Apa cerita-cerita tadi membuatmu terluka? Apa aku harus menyuruh mereka untuk berhenti bercerita?" tanyaku. Ia memelukku erat dan mengelus rambutku. "Kau lucu sekali, tidak perlu.. hanya perlu kau ada disini saja cukup, aku dapat mengatasi rasa sakitnya selama kau disini" kata Dokyeom.

Aku juga memeluk Dokyeom erat, berharap pelukanku meluruhkan sedikit lukanya. "Aku bisa sesak nafas.." ucap Dokyeom lirih. Ia melepas pelukannya dan tertawa. Matanya menatapku lekat dan mengusap air mataku.

Long Short Story SeventeenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang