[1] Unrequited Love.

4.9K 316 8
                                        

-----------

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

-----------

"Jung Jinsoo?" batinku. "Haha, kenapa lagi kalau bukan Jinsoo yang terlalu genit? Ia bahkan dengan percaya dirinya berkata bahwa Tuan Yoon akan segera melamarnya" imbuh yang lain.

Aku menelan ludahku lalu duduk disofa. "Pantas saja ia tak pernah bilang sayang.. rupanya ia benar-benar jatuh cinta pada wanita lain.. dan itu bukan rumor belaka" gumamku.

Aku duduk disofanya dan menahan perasaanku yang campur aduk. Saat mencoba menyibukkan diri, Jeonghan datang bersama asisten pribadinya. "Apa kau menunggu lama? Maaf aku ada rapat" ucap Jeonghan.

Aku hanya mengangguk lalu fokus menatap laptopku lagi. Selama pembahasan lebih lanjut, aku kebanyakan diam. Jujur saja aku tidak dapat fokus karena memikirkan hal itu.

"Haruskah kita break dulu?" tawar Jeonghan. Aku hanya mengangguk tanpa menatapnya. "Eum.. 10 menit lagi waktu istirahat kantor, seperti biasa tolong belikan makanan ya" ucap Jeonghan pada asistennya.

Biasanya saat asisten Jeonghan pergi, aku akan menyandarkan tubuhku pada Jeonghan. Namun kali ini aku hanya berdiam diri mencoba membaca ulang pembahasan hari ini.

"Y/N-ah, kau sakit?" tanya Jeonghan. Ia berusaha memegang keningku untuk memastikan. Tubuhku langsung mundur menjauhinya. "A..ah, tidak, aku baik-baik saja" jawabku sambil terbata.

"Ah begitu, yasudah.. sepertinya kau kurang mood seperti biasa setiap bulan" ucap Jeonghan. Seharusnya aku senang karena ia tidak bertanya lebih banyak. Tapi hatiku malah sakit karena ia tidak benar-benar peduli.

"Jeonghan-ah, aku harus pergi.. aku lupa ada rapat dengan divisi marketingku" ucapku lalu membereskan barang-barang yang kubawa. "Oh? Kau tidak makan siang?" tanyanya.

Aku menggeleng "Tidak, setelah rapat aku akan makan" jawabku. Saat aku akan pergi, Jeonghan memegang tanganku erat. "Setidaknya tunggu sampai kopimu datang, baru aku akan memperbolehkanmu pergi".

Kami diam beberapa saat. Ia yang tadi memegangku erat langsung melepas tangannya saat ada yang mengetuk pintunya. Aku duduk di sofa dihadapannya. "Masuk" ucap Jeonghan.

Seorang gadis berambut hitam sebahu masuk. Aku tak sengaja melihat nametagnya dan dia adalah Jinsoo. Cantik, dan menggemaskan. Aku menatap Jeonghan yang tak melepaskan matanya dari Jinsoo.

"Ini dokumen yang anda minta tadi" ucap Jinsoo. "Baik, terimakasih" jawab Jeonghan lalu menatap dokumen itu. Saat Jinsoo pergi, Jeonghan membuka dokumennya.

Dihalaman pertama ada sebuah post it. Meski aku berada dihadapan Jeonghan, tulisan yang ada dipost it terlihat sangat jelas. Karena begitu jelas, hatiku jadi terasa sakit.

Long Short Story SeventeenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang