Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
------------------
Aku terdiam ditempatku berdiri cukup lama. Jadi Joshua mendekatiku hanya karena aku mirip dengan istrinya. Lalu saat kutanya apa ia memiliki anak atau istri, ia berkata tidak.
Hatiku terasa sakit karena dibohongi dan rasahnya duniaku runtuh. Ucapan Anne saat hari itu juga terulang. Ucapan bahwa Appanya memacari seseorang yang mirip Eommanya.
Tak lama Anne dan Eomma Joshua pergi. Aku tak bisa melihat wajah Joshua tapi aku juga tak bisa kabur begitu saja. Aku butuh penjelasan mengenai itu semua meski nantinya hanya sakit yang kurasakan.
"Josh" panggilku. Ia terkejut melihatku yang datang menghampirinya. "O..oh Y/N, sejak kapan kau disini?" tanya nya. Joshua terlihat berusaha bersikap biasa saja.
Aku menghela nafas sebelum melontarkan pertanyaan pada Joshua. "Bisa kau jelaskan ucapanmu tadi?" tanyaku. Suaraku bergetar, tenggorokanku rasanya sesak karena menahan emosi yang kurasakan.
Meski mataku perlahan kabur karena air mata, aku bisa melihat dengan jelas raut wajah Joshua. Ia tampak takut untuk menjawab. "K..kau dengar mulai darimana?" tanya Joshua.
Aku tak lagi dapat membendung airmataku. Seharusnya aku masih membangun dinding yang selama ini selalu kupakai saat ada laki-laki mendekat. Hanya karena Joshua terlihat sabar dan penyayang aku mudah sekali luluh.
Tentu saja ia tidak bersikap semurah lelaki lain, karena ia tahu itu bukan cara ampuh untuk memikat hati wanita. Ia juga tahu bagaimana caranya memperlakukan seseorang karena ia sudah berkeluarga.
Sebenarnya aku tak masalah jika sejak dari awal ia mau jujur padaku tentang kehidupannya. Jika ia mendekatiku bukan hanya karena aku mirip dengan istrinya aku tak akan marah.
"Kenapa kau bilang tak ada istri maupun anak saat aku bercanda dulu?" tanyaku. Ia terdiam tak berani menyentuhku. "Aku tidak menjawab pertanyaanmu itu, aku takut kau menjauh" jawab Joshua lirih.
Aku yang terlanjur kecewa hanya menatap Joshua dengan mataku yang banjir airmata. Tanpa menunggu penjelasan apapun aku meninggalkan Joshua. Langkah kakiku membawaku entah kemana. Yang terpenting aku menjauh dari Joshua.
Hingga akhirnya aku tiba didekat tempatku mengajar. Hatiku sakit saat mengingat disekolah ini aku mengajar anak dari orang yang membohongiku. "Aku juga salah karena aku tak bertanya mengenai kehidupan pribadinya" gumamku.
Tanganku mengusap mataku perlahan dan tak sadar aku berjalan semakin ke arah jalan raya. "Ya! Im Y/N!" teriak seseorang yang kemudian diikuti dengan suara bel panjang.