Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
----------------
-Seungcheol POV-
Aku menatap kerumunan gadis-gadis yang tengah bersorak melihat kami latihan. "Break!" teriak coach dari pinggir lapangan. "Ambil!" ucap Wonwoo sambil melempar botol minuman ion untukku.
Kami duduk dibawah pohon dan berbincang sedikit. "Fansmu banyak juga" kata Hoshi sambil menatap kerumunan gadis tadi. "Iya, kau tak mau memberiku satu saja fansmu yang cantik?" imbuh Jeonghan.
Aku memutar bola mataku malas "Terserah ambil saja". "Oh ya, tadi ada anak mau wawancara" ucap Wonwoo. Aku hanya diam tak tertarik. Pasti nanti yang datang hanyalah salah satu dari fansku yang selalu berteriak itu.
"Aku tadi sempat berbincang dengannya, ia dingin sekali dan kaku" kata Jeonghan. "Aku bertaruh pasti Seungcheol tak bisa mengembangkan senyuman gadis itu" ejek Hoshi yang kemudian disambut tawa teman timku.
"Hei!" tegurku sambil melempar tutup botol kearahnya. "Kenapa? kau pasti tak bisaa" lanjutnya sekali lagi. "Aku bisa, akan ku buktikan" ucapku malas. Beberapa detik kemudian aku menyesal meladeni ucapan Hoshi.
Kami mulai berlatih lagi namun kali ini aku lebih senang karena tak ada gadis-gadis yang melihat. Sebelum bel pulang sekolah, latihan diselesaikan. Namun tim kami memutuskan untuk berlatih sedikit lagi sambil menunggu tim jurnalistik.
"Wonwoo-ya, tadi kau minta ajari 3 points" ucapku. Aku menoleh kebelakangku dan tak ada Wonwoo. Ia sedang berdiri berbincang dengan seseorang. Seorang gadis cantik, ia tak memakai polesan apapun diwajahnya.
Selain itu, stylenya juga sederhana. Tapi entah kenapa aku langsung jatuh hati. Aku menghampiri Wonwoo dan gadis itu. Namanya Seo Y/N, nama yang cantik.
Sebelum berada didekatnya aku menyiapkan diri agar tak gugup. Biasanya aku tak peduli, tapi aku ingin terlihat keren didepannya. "Aku captainnya, kita bisa mulai sekarang" ucapku.
Bukannya terkesima, sepertinya Y/N malah takut denganku. Ia terlihat menggemaskan saat gugup dan aku jadi merasa bersalah. "Kita ngobrol sedikit agar kau tak gugup" ajakku.
Perlahan Y/N mulai tenang dan ia cukup enak diajak berbincang. Selama wawancara, aku tak bisa fokus 100%. Aku rupanya jatuh cinta padanya karena kesederhanaannya itu.
Langit mulai menampakkan semburat oranye dari cahaya matahari yang hampir tenggelam. Aku menatap ponsel Y/N dan tertera jam 5 sore. "Kau akan pulang?" tanyaku.
Ia menatap ponselnya "Ah, setelah ini bis terakhir di sore hari" ucapnya lalu langsung berdiri. Aku berlari kearah tasku dan mengambil kunci motor milikku.