That Christmas

2.7K 320 64
                                        

Rencana natal di rumah keluarga Smith berubah menjadi pesta besar di salah satu restoran terkenal di Manhattan. Rupanya seluruh pekerja Hopeland Developer, dari jajaran petinggi sampai pegawai di bawahnya telah merencanakannya beberapa hari sebelumnya. Tentu saja kecuali Erwin karena acara ini di luar agenda kantor dan atas inisiatif mereka sendiri.

Hanji memberitahukannya secara mendadak sehingga Erwin dan Levi terpaksa meninggalkan dekorasi natal di rumah demi memenuhi kejutan yang tak terduga ini. Levi sangat menyayangkan pohon natalnya yang baru dihias dengan bunga kastuba karena mereka terburu-buru berganti pakaian begitu Hanji datang. Kue-kue dan parfait-ku di rumah ... Levi mengeluh dalam hati.

Ruangan itu terbilang luas dengan interior bernuansa coklat teduh dan bergaya minimalis. Levi merasa lega mendapati semua orang mengenakan pakaian santai alih-alih gaun berkibar atau setelan jas mahal. Suasananya terasa hangat dan kekeluargaan, sehingga tidak membuatnya gugup. Mereka menempati lantai satu, tidak ada bedanya antara petinggi dengan bawahan. Semua tampak harmonis di dalam balutan suasana natal yang penuh kasih.

"Maaf, tidak sesuai yang kauinginkan," Erwin berbisik pada Levi sementara orang-orang sibuk bercengkerama di meja masing-masing.

Levi memberi senyuman lembutnya. "Ini kejutan yang menyenangkan, apa aku bisa mendapatkan secangkir teh?"

"Tentu saja."

Hanji keluar dari toilet dan bergabung dengan mereka. Oh, kejutan lagi, Zeke dan Mike pun turut hadir sebagai tamu khusus yang diundang Hanji. "Kami berteman sejak bangku sekolah menengah, rasanya kurang lengkap bila tidak merayakan natal bersama."

Seorang pramusaji datang menyela dan meletakkan secangkir teh hitam yang menguar pekat.

"Levi, kau tidak minum anggur, ya?" tanya Hanji terheran melihat teh yang baru saja tiba di meja mereka.

"Aku tidak akrab dengan alkohol." Itu tidak bohong walaupun alasan utamanya adalah karena janin yang dikandung Levi. Dia tidak ingin menyinggung Erwin dengan mengatakan yang sebenarnya.

"Hanya itu?" Mike bersuara setelah lama membisu. "Bukankah kalian akan menambah satu anggota keluarga lagi?"

Mike Zacharias memiliki mata yang agak menjorok ke dalam namun tajam dan teliti untuk menilai keadaan. Sekarang mata itulah yang menuntun dua pasang mata lain menuju satu gundukan kecil di antara pinggul Levi. Mike memang sudah lebih dulu mengetahui kehamilannya. Sepertinya dia juga sangat meyakini bahwa janin itu adalah keturunan Erwin.

Segalanya menjadi sempurna. Levi akhirnya mendapatkan tiga ucapan selamat untuk natal, ulang tahun, dan kehamilannya.

Tentu saja Hanji yang paling antusias melambungkan sukacitanya. "Aku tidak sabar melihat Erwin kecil dan mendengar celotehannya!"

"Usianya baru dua bulan, Hanji, bersabarlah selama tujuh bulan ke depan," sahut Levi lalu melirik sekilas pada Erwin yang termenung di sebelahnya. Ekspresinya tak terbaca dan itu membuatnya merasa tidak enak.

"Tentu saja. Asalkan aku bisa menggendongnya nanti!"

Setidaknya keceriaan Hanji yang berisik cukup ampuh menelan kecanggungan Levi dengan Erwin dan topik calon penerus keturunan Erwin pun terlupakan untuk sementara di meja bundar berlapis taplak satin putih dan piring serta gelas anggur yang tertata di atasnya. Sebelum waktu menyantap hidangan, Hanji menarik seluruh perhatian ke meja mereka lalu mempersilahkan Erwin untuk memberikan sambutan pada mereka.

Levi melihat pria itu berdiri dengan memegang gelas anggurnya sejajar dada dan berkata, "terima kasih untuk pesta kejutan malam ini. Mari berjuang membawa Hopeland Developer sebagai pengembang properti terkemuka. Selamat natal dan nikmatilah hidangannya!"

Curtain FallTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang