Aroma seduhan teh tiba-tiba menyapa penciumannya. Levi mengerjap beberapa kali sebelum pandangannya mulai fokus melihat keadaan sekeliling. Ruangan besar ini tampak rapi setelah dia membereskannya dua jam yang lalu.
"Tuan Smith, maaf, aku ketiduran," ujarnya lalu menguap kecil sambil meregangkan badan di sofa yang ditidurinya.
Pria berkacamata itu hanya tersenyum sambil mengusap kepala berambut sehitam tinta. "Kau membereskan seisi ruangan ini, pasti melelahkan. Aku membawa teh kesukaanmu."
Pemuda itu tersenyun dan mengucapkan terima kasih sebelum mengangkat cangkir porselen putih itu dengan hati-hati ke bibir lantas menyesap. Hangatnya teh hitam langsung mengaliri kerongkongan dan mengusir sisa-sisa kantuk di wajahnya. Ketika menurunkan cangkir ke meja, tanpa sengaja mata biru kehitaman itu menangkap gambar seorang anak lelaki pirang yang terbingkai indah di dalam bufet.
Selama beberapa detik pandangannya terpaku pada sosok bocah yang sedang membaca buku dengan riang di sebuah taman yang Levi kenali berada di belakang rumah megah ini. Matanya sebiru langit musim semi dan memancarkan keceriaan sekaligus kejeniusan bocah itu. Rambut pirangnya tersisir rapi di atas keningnya. Lalu senyum manis itu ... menurut Levi sangat menawan. Dia tampan, pikirnya.
"Itu putraku, saat ini dia sedang mengurus perusahaan peninggalan keluarga mendiang ibunya," kata Edward Smith yang sedang memeriksa tugas-tugas mahasiswa di balik meja kerjanya. "Usianya 33 tahun bulan Oktober nanti."
Duabelas tahun lebih tua dariku, ya?
Levi menunduk malu karena terpergok sedang mengamati foto tuan muda Smith yang belum pernah ditemuinya. Meskipun Levi beberapa kali datang ke rumah ini, tak sekali pun dia pernah melihat sosok aslinya dalam versi dewasa. "Tuan Smith, aku akan pulang sekarang," Levi berkata dan menyambar sebuah buku tebal di sebelah tasnya, "dan terima kasih untuk teh dan bukunya."
"Ah, ternyata sudah malam. Tidakkah kau ingin menginap malam ini, Levi? Ada kamar tamu di lantai bawah."
Levi menggeleng seraya tersenyum manis. "Terima kasih, tetapi aku ingin pulang saja. Selamat malam."
Edward Smith pun hanya tersenyum penuh arti saat mengamati Levi terburu-buru membuka pintu hingga mahasiswanya itu tiba-tiba memekik terkejut. "Nah, Erwin, kau sudah pulang?"
***
Hope y'all enjoy this fanfiction and see ya next part of EruRi, Dear!
Jepara, 20 Februari 2021
With love,中原志季
Nakahara ShikiEdited : Jepara, 3 Agustus 2021

KAMU SEDANG MEMBACA
Curtain Fall
Fanfiction[Fanfiction of Attack on Titan by Isayama Hajime, mainship : Erwin Smith x Levi Ackerman (EruRi)] Start : February, 20th 2021 End : April, 24th 2021 Edited : September, 27th - 29th 2021 Sejak dilahirkan, Levi Ackerman tak pernah mengenal siapa ayahn...