***
"Buruan, Mi! Aku duluan, ya. Jangan lupa obatnya diminum!" kata Mas Azka sambil berjalan meninggalkan meja makan setelah menghabiskan makanan dan meminum obatnya.
"Iya, Mas." Aku mempercepat menghabiskan sarapanku dan tentu saja obat pahit ini.
Selesainya, aku menegakkan kruk untuk membantuku berjalan. Aku hanya menggunakan satu kruk di sebelah kanan. Memakai ini pun terpaksa karena kaki kananku belum bisa menapak seperti biasa.
Sayup-sayup, aku mendengar Maa Azka berbicara dengan seseorang di kamar. Aku tidak berniat menguping, tapi aku memang berniat ke kamar karena kamar Mas Azka menjadi kamarku juga. Aku semakin penasaran saat Mas Azka tertawa lepas di dalam sana.
"Assalamu'alaikum. Mas, aku boleh masuk?"
"Wa'alaikumsalam. Iya, Mi. Masuk aja!"
Aku masuk dan langsung memperhatikan Mas Azka yang duduk di atas ranjangnya. "Ngomong sama siapa, Mas?"
"Oh, iya. Aku punya kejutan nih, Kak. Mi, sini duduk!" ajak Mas Azka. Aku pun duduk di sampingnya.
"Kejutan apaan si?" ucap seseorang di layar handphone Mas Azka.
"Ini kejutannyaaaaa.... Lihat!" Mas Azka mengarahkan kameranya padaku. Sedangkan aku hanya menatap orang itu sekilas, karena dia seorang perempuan dan aku harus menjaga pandangan.
"Maksudmu apa, Az? Dia kejutannya? Siapa dia?" tanya perempuan itu.
"Orang yang kakak sangat rindukan keberadaannya, sekarang sudah kembali," jawab Mas Azka.
"Aku ngga ngerti deh, Az. Jangan bikin pusing! Jelasin ngga!" paksanya.
"Ya Allah, masa ngga ingat. Katanya rindu berat," ledek Mas Azka.
"Jelaskan atau aku matikan video call ini!"
"Azmi."
"Azmi? Azmi adek kita? Seriusan? Jangan main-main, kamu!" katanya sangat antusias dan terlihat terkejut. Aku tidak mengerti dengan dua orang ini. Aku benar-benar hanya diam sambil memperhatikan.
"Iya, serius."
"Alhamdulillah, Ya Allah, Azmi! Kamu udah sebesar ini? Pantes ngga kenal, terakhir ketemu kan masih kecil. Kamu kemana aja selama ini, Mi? Kamu tinggal dimana? Sama siapa? Kamu baik-baik aja, kan, Mi? Kamu balik kapan, Mi? Kenapa ngga bilang-bilang?" Begitu dia menyerbu pertanyaan padaku.
"Kak, satu-satu tanyanya. Azmi bingung tuh, cuma diem liatin kakak yang bawel. Mi, ini Kak Fasa, kakak pertama kita. Dia masih di Mesir."
Aku hanya mengangguk. Aku pernah melihat dan mengenalnya sedikit sebelum dia pergi kuliah di Al-Azhar.
"Mi, aku Fasa, kakak kamu. Ngga usah malu-malu kali. Dulu juga sama-sama."
"Kak, dia lupa masa kecilnya sama kita. Dia juga lupa pernah ada disini, ngga tau kenapa. Kamu tau, Mi?"
"Ngga," ucapku sambil menggeleng.
Kak Fasa terlihat sedih mendengar aku dan Mas Azka berbincang. "Yah... Ya udah ngga papa lah. Yang penting udah balik. Sekolah dimana, Mi?"
"Baru lulus MA, Kak."
"Lulus? Berapa umurmu? Ya Allah, aku juga lupa umur kamu. Mau kuliah, Mi?"
"Insyaa allah."
"Kemana?"
"Nyusul Kak Fasa," jawabku pelan sambil menunduk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Because I'm Santri [End]
Ficção AdolescenteApa yang membuatku rapuh hari ini adalah pelajaran tentang bagaimana bisa menjadi pribadi yang kuat di hari esok. *** Muhammad Hisyam Ulul Azmi. Sebuah nama dengan berjuta harapan. Aku sama sekali bukan manusia sempurna, bukan pula manusia yang sela...
![Because I'm Santri [End]](https://img.wattpad.com/cover/240897965-64-k182495.jpg)