***
Yang bisa ku lakukan saat ini adalah melakukan aktivitas seperti biasa. Bedanya, sekarang tak ada lagi yang mengajakku bercanda. Aku lebih banyak diam dan merenung. Sepertinya ini masa paling menyakitkan dari masa-masa yang telah berlalu. Rasanya berat. Sangat berat.
Aku menyudahi acara berwudhu. Kembali ku tutup lengan tanganku dengan lengan baju yang semula dilipat ke atas. Aku baru saja selesai mengaji pagi di masjid. Semua teman-temanku telah kembali ke kamar masing-masing, berbeda denganku. Selanjutnya, aku berniat pergi ke dapur pesantren untuk sarapan. Andai aku mengikuti nafsu, aku tidak akan makan pagi ini. Tapi aku juga tidak boleh egois. Tubuhku butuh lebih banyak tenaga untuk saat-saat ini.
"Azmi!"
Seketika aku menghentikan kakiku yang tengah melangkah cepat, lalu menoleh ke sumber suara. Ustadz Zain. Dia yang memanggilku dan kini telah berdiri di hadapanku.
"Azmi, kamu mau ke kamar?" tanya Ustadz Zain.
"Emm–"
"Saya minta tolong, kamu bilang sama senior-senior di sebelah kamarmu untuk membawa beberapa barang dari perpustakaan pesantren ke gudang, sekaligus merapikan gudang. Bilang saja amanah dari saya."
"Nggih, Ustadz. Sekarang juga saya sampaikan."
"Terima kasih, Azmi."
"Terima kasih kembali, Ustadz."
Aku mengurungkan niat ke dapur pesantren. Aku harus menemui para senior dan menyampaikan amanah Ustadz Zain sekarang juga. Kakiku melangkah cepat menuju kamar-kamar para senior.
Sesampainya di kamar senior, aku mengetuk pintu cukup keras dengan harapan mereka mendengar dalam sekali masa ketukan. "Assalamu'alaikum," ucapku.
"Wa'alaikumsalam," jawab seseorang di dalam sana, lalu membukakan pintu untukku dengan cepat. "Ngapain kamu ke sini?" tanyanya dengan nada seakan tak suka dengan kedatanganku.
Ya. Sakit rasanya.
"Maaf, Mas. Saya ingin menyampaikan amanah dari Ustadz Zain untuk memanggil beberapa senior saya agar membantu beliau membawa beberapa barang dari perpustakaan ke gudang, sekaligus membersihkan gudang. Sekarang juga, Mas." Aku menjelaskan.
"Kamu juga mau main-main dengan saya? Mau mengerjai saya atas nama Ustadz Zain begitu?"
"Maaf, Mas. Tapi saya benar-benar jujur. Saya baru saja diberi amanah tadi."
"Iya iya, udahlah sana pergi! Awas, jangan bikin pesantren ribut lagi! Masalah kamu belum selesai," katanya.
"Iya, Mas. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Kehilangan kepercayaan orang lain ternyata sangat menyusahkan. Bahkan mereka menganggap amanah Ustadz Zain hanya kebohongan belaka. Biarlah. Yang lebih ku harapkan adalah mereka segera melakukan apa yang diamanahkan oleh Ustadz Zain. Jika tidak, maka aku akan terlihat lebih buruk lagi.
***
Aku harus memaksa Alvin menjelaskan kebenaran di depan ustadz sebelum terjadi hal buruk lagi nantinya. Bagaimanapun juga aku harus memaksa Alvin. Hanya Alvin yang mungkin bisa meruntuhkan masalah ini. Ya. Sekarang juga.
KAMU SEDANG MEMBACA
Because I'm Santri [End]
Novela JuvenilApa yang membuatku rapuh hari ini adalah pelajaran tentang bagaimana bisa menjadi pribadi yang kuat di hari esok. *** Muhammad Hisyam Ulul Azmi. Sebuah nama dengan berjuta harapan. Aku sama sekali bukan manusia sempurna, bukan pula manusia yang sela...
![Because I'm Santri [End]](https://img.wattpad.com/cover/240897965-64-k182495.jpg)