***
"Mi, ente cepet amat makannya. Mau ngapain sih?" tanya Jazil dengan ekspresi keheranan.
"Cari Alvin, Ja. Hari ini Alvin harus pulang, aku udah janji sama abah," jawabku seperlunya. Aku sudah menghabiskan makan siangku hanya dalam waktu lima menit. Ya. Aku harus bergegas mencari Alvin sebelum Alvin melakukan hal yang tidak diinginkan di luar sana, entah dimana.
"Ya setidaknya ente istirahat sebentar, Mi. Makan cuma semenit, keselek baru tau rasa."
"Kalo ngomong yang baik aja lah, Ja. Kamu mau aku keselek beneran?"
"Ya kalo udah takdirnya keselek aku bisa apa, Mi?"
"Mending kamu diem deh, Ja. Makan itu jangan sambil ngomong. Keselek baru tau rasa!" Aku tidak melihat bagaimana ekspresi Jazil di belakangku. Tanganku sibuk membereskan kamar.
"Lah itu ente ngomong apa barusan? Sama kaya ane, kan? Kalo ane keselek beneran gimana? Tanggung jawab loh, Mi!"
"Ya kalo udah takdirnya kamu keselek aku bisa apa, Ja?" Aku terkekeh dengan kata-kataku sendiri. Tentu saja dengan sengaja aku meniru apa yang Jazil katakan sebelumnya padaku.
"Bener-bener ente ya, Mi. Ngga modal kata, cuma copy paste kata-kata ane. Kreatif dikit dong!"
"Terserah kamu, Ja, aku mau keluar."
"Tunggu dong, Mi! Aku ikut bantu kamu," katanya.
"Ha ha... bilang aja pengin kelayaban ke luar pesantren, kan? Kamu ini mengambil kesempatan dalam kesempitan. Aku lagi sempit-sempit mau nyari Alvin, lah kamu malah sempet-sempetnya memanfaatkan keadaan sempit aku. Huh! Tapi ngga papa si, Ja, nanti kan pinjem motornya pak satpam, nah kamu jadi supirku dong. Asiap lah kalo gitu, Ja. Ayo!" Aku tertawa dalam hati melihat ekspresi Jazil yang sulit diartikan.
"Dasar Azmi!" Jazil beranjak dari duduknya, berpindah menuju lemarinya. Jazil mengaduk isi lemarinya, entah apa yang dia cari di dalam sana.
"Eh, Ja. Tapi kalo kamu ikut, kita pulangnya boncengan satu motor bertiga? Terong-terongan dong? Gini aja, nanti kamu jalan kaki aja, ya."
"Yee... ente ini keterlaluan, Mi. Kalo gitu ane mending ngga usah ikut," katanya.
"Yakin nih ngga jadi ikut?" Aku memastikan.
"Ikut lah, Mi. Ente liat kan ane lagi ganti baju? Panas, Mi, siang-siang pake baju koko. Liat nih, cocok ngga? Parfum mana parfum?" Jazil memakai sarung dan atasan kaos panjang yang tidak terlalu tebal, dan memberi gaya pada rambutnya.
Aku memutar bola mataku. "Ja, kamu pikir kita mau piknik? Udahlah pecian aja, lagian mau panas-panasan. Pecian kan juga bisa menjaga rambut kita biar ngga kering kena panas. Dan satu lagi, kamu bukan mau nyari cewek, kan? Ribet banget nyari parfum," umpatku. Seperti inilah anak pesantren yang jarang keluar keliling kota. Sekalinya keluar, persiapannya terlalu ribet.
"Baiklah, hari ini ane ngga pernah benar di mata ente, Mi. Sewotmu terus yang ane dapet, Mi."
"Em."
"Azmi!"
"Em."
"Azmi, hargai ane sedikit, Mi. Ane mau ngomong penting banget."
KAMU SEDANG MEMBACA
Because I'm Santri [End]
Teen FictionApa yang membuatku rapuh hari ini adalah pelajaran tentang bagaimana bisa menjadi pribadi yang kuat di hari esok. *** Muhammad Hisyam Ulul Azmi. Sebuah nama dengan berjuta harapan. Aku sama sekali bukan manusia sempurna, bukan pula manusia yang sela...
![Because I'm Santri [End]](https://img.wattpad.com/cover/240897965-64-k182495.jpg)