***
Aku tiba di rumah bertepatan dengan abah pulang dari MA. Aku takut-takut cemas saat sampai di rumah. Bagaimanalah tanggapan mereka nanti saat aku bercerita bahwa aku baru saja bertemu Alvin, tapi tidak bisa ku bawa pulang.
Tak lama kemudian, ummi keluar dari balik pintu untuk menyambut abah pulang. Mungkin juga aku. Ummi menyalami tangan abah, begitu juga denganku. Ummi mendekat padaku, memegang bahuku dan berkata, "Bagaimana, Mas? Apa kamu belum menemukan Alvin hari ini?"
"Maaf, ummi, Azmi belum bisa bawa pulang Alvin hari ini," jawabku seraya menundukkan kepala. "Tapi Azmi janji, Azmi akan usaha sebisa yang Azmi lakukan besok."
Ummi menghela nafas kasar. "Ya sudah, ayo masuk!" Hanya itu komentar ummi.
Di dalam, abah sudah duduk di sofa sambil memandangku dan ummi yang baru saja masuk. "Sini, Mas!" Abah mengajakku duduk bersama. Aku tebak, abah akan memberikan pertanyaan padaku mengenai Alvin.
"Sudah makan, Mas?" Dugaanku salah. Abah menanyakanku terlebih dahulu. Tapi aku sungguh bingung dengan pertanyaan yang satu ini.
"Kan sekarang puasa, Bah. Kok Azmi ditanya sudah makan apa belum?"
"Ha ha... Abah becanda, Mas. Ya siapa tau kamu kehausan di jalan terus beli minum." Abah terkekeh melihat ekspresiku. "Nyari Alvin kemana aja, Mas?"
"Keliling kota, Bah. Tadi ada teman SD Azmi yang sering liat Alvin berkeliaran sama teman-temannya."
"Terus temanmu tau dimana Alvin dan temannya tinggal?" Abah mulai serius dengan topik ini, dan antusias menunggu jawabanku.
"Ngga tau, Bah. Temen Azmi malah taunya Alvin sama temannya pulang setiap hari," jawabanku membuat keantusiasan abah surut. Melihat itu, tentu saja aku sedih. Pasti abah kecewa.
"Hari ini belum melihat Alvin sama sekali, Mas?"
"Azmi udah ketemu tadi, Bah."
"Sudah ketemu, Mas?" Entah ummi mendengarkan aku dan abah sedari tadi atau baru saja datang, tiba-tiba ummi berkomentar. Ummi dengan cepat mendekat padaku dan abah.
"Iya, Ummi," jawabku dengan menunduk.
"Lalu dimana Alvin? Kenapa tidak pulang bersamamu?"
"Azmi udah ajak Alvin pulang, udah dibilangin, tapi Alvin kabur sama teman-temannya, Azmi ngga bisa ngejar. Maafin Azmi, Ummi." Aku semakin takut untuk memandang wajah ummi.
"Kamu bagaimana si, Mas? Harusnya kamu bujuk terus biar Alvin pulang. Malah kehilangan jejak lagi." Ummi meninggalkanku dan abah di ruang tamu setelah perkataan itu berakhir terucap. Aku memang salah, seharusnya aku terus mengikuti Alvin tadi.
"Maaf juga, Bah."
"Sudah, Mas! Ngga papa, besok kita cari lagi," ujar abah sambil tersenyum untuk membesarkan hatiku. Senyum yang menenangkan hati. "Sudah, sana mandi! Jangan terlalu dipikirkan! Nanti kamu lelah sendiri."
"Iya, Bah. Terima kasih."
"Itu bibirmu kenapa berdarah, Mas?" tanya abah dengan ekspresi sangat penasaran.
KAMU SEDANG MEMBACA
Because I'm Santri [End]
Novela JuvenilApa yang membuatku rapuh hari ini adalah pelajaran tentang bagaimana bisa menjadi pribadi yang kuat di hari esok. *** Muhammad Hisyam Ulul Azmi. Sebuah nama dengan berjuta harapan. Aku sama sekali bukan manusia sempurna, bukan pula manusia yang sela...
![Because I'm Santri [End]](https://img.wattpad.com/cover/240897965-64-k182495.jpg)