***
Aku menyilangkan kedua tanganku di depan dada. Suhu di rumah sakit ini sangat dingin bagi tubuhku, padahal masih senja. Bahkan bulu kudukku seakan berdiri serentak. Tapi berbeda dengan abah yang ada di sampingku. Abah seperti tidak merasakan kedinginan, hanya duduk diam dengan tenang.
Tujuanku untuk pulang ke rumah tertunda lagi. Aku bersama abah harus mampir ke rumah sakit ini terlebih dahulu. Tak jauh dari rumah sakit ini, ada seorang pemuda korban tabrak lari oleh sebuah mobil. Karena saat itu tidak ada keluarganya, abah memutuskan untuk menolongnya membawa ke rumah sakit ini dan menungguinya sampai sadar untuk menanyakan dimana keluarganya. Setelah itu, baru abah akan pulang.
Aku mendengar handphone abah berdering, entah ada apa dengan handphone abah, aku tidak terlalu peduli. Setelah itu, abah mengangkat handphonenya dan mendekatkan pada telinga. Aku paham, abah menerima sebuah panggilan suara.
"Wa'alaikumsalam, Ummi."
Aku langsung memasang pendengaranku saat mendengar abah mengatakan kata ummi. Itu berarti ummi yang menelepon abah.
"Abah lama sekali? Apa Abah belum sampai di tempat Azmi berada?" tanya ummi di seberang sana.
"Sudah, Ummi. Ini sudah sampai di Malang, tapi masaih jauh dari rumah. Abah sedang di rumah sakit."
"Di rumah sakit? Azmi kenapa, Bah?" Ummi mulai panik.
"Ummi, Azmi baik-baik saja. Tadi ada korban tabrak lari dan tidak ada keluarganya, jadi Abah menolongnya ke rumah sakit, Abah akan pulang setelah korbannya siuman dan tahu keluarganya."
"Azmi sudah bersama abah kan?"
"Sudah, Ummi."
"Alhamdulillah. Cepat pulang, ya, Bah."
"Iya, Ummi. Ummi tenang saja di rumah. Azmi baik-baik saja."
"Ya sudah. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Aku tahu sekarang, Ummi sedang menunggu dan berharap aku dan abah cepat pulang ke rumah. Tapi ini mengejutkan, karena tidak biasanya ummi mengkhawatirkanku sampai sakit.
"Mas!" panggil abah.
Aku menoleh dengan cepat. "Iya, Bah?"
"Kamu kedinginan?" tanyanya.
"Ngga papa, Bah. Hanya sedikit."
Abah melepas jaket hitamnya, lalu memberikannya padaku. "Ini! Pakai jaket Abah!"
"Ngga usah, Bah. Azmi juga sudah pakai baju panjang."
"Jangan membiarkan diri kita jatuh sakit. Allah tidak menyukai itu." Abah memaksaku menerima jaket itu.
Aku tersenyum saat menerima jaket itu. Aku yakin abah akan merasakan dingin walau sedikit saat melepas jaket ini. Tapi abah rela melakukannya demi diriku.
"Ditutupi depannya, jangan hanya asal dipakai," kata abah saat aku tidak menutup resleting depan jaket. Abah menutupkan resleting jaket yang sudah aku pakai. Abah menutupnya sampai ujung atas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Because I'm Santri [End]
Teen FictionApa yang membuatku rapuh hari ini adalah pelajaran tentang bagaimana bisa menjadi pribadi yang kuat di hari esok. *** Muhammad Hisyam Ulul Azmi. Sebuah nama dengan berjuta harapan. Aku sama sekali bukan manusia sempurna, bukan pula manusia yang sela...
![Because I'm Santri [End]](https://img.wattpad.com/cover/240897965-64-k182495.jpg)