"Jika kamu tidak sanggup menahan lelahnya belajar, maka kamu harus sanggup menahan perihnya kebodohan."
--• Imam Syafi'i •--
***
Pukul 05.15, aku hampir selesai bersiap untuk segera berangkat ke Jakarta, tempat bimbingan Bahasa Arab Universitas Al-Azhar cabang Indonesia. Aku akan berangkat sebentar lagi supaya saat sampai di Jakarta, aku punya banyak waktu untuk beristirahat. Aku juga akan berkunjung ke rumah abi dan ummi di Malang sebelum berangkat.
Aku mengambil dan memakai jas berwarna navy yang sudah umma siapkan sebelum subuh tadi. Terakhir, tak lupa peci hitam aku pakaikan di kepalaku.
"Mas!" panggil umma yang sudah di pintu.
"Iya, Umma?"
"Sarapan dulu, ayo! Jangan nanti-nanti!"
"Iya, Umma." Aku segera menyusul menuju meja makan. Sebenarnya aku tidak nafsu makan di waktu sepagi ini. Tapi aku harus memaksa, lagi-lagi demi kesehatanku untuk kuliah.
Tanpa berbicara sepatah kata pun, aku menghabiskan makanan yang ada di atas piringku. Meski begitu, akulah yang terakhir beranjak pergi dari meja makan, karena aku pun datang paling akhir.
Ketika aku hendak beranjak dari kursi, umma kembali datang ke dapur, lalu duduk di kursi sampingku yang tidak berjarak jauh. Umma memandangku beberapa saat hingga aku memutuskan menunduk.
"Setelah Umma perhatikan dari dekat sebulan terakhir, bagaimana cara bibirmu tersenyum ternyata masih sama seperti dulu, Nak. Coba lihat wajah Umma!"
Aku mendongakkan kepala, menatap wajah Umma. Setelah itu, Umma melepas peci hitamku agar bisa mengelus kepalaku.
"Kamu baik-baik saja selama ini, kan?"
Aku hanya membalas dengan senyuman, lalu menunduk. Mengingat masa lalu sebenarnya menyesakkan. Aku tidak suka ini!
"Nak, kalau ada apa-apa bilang saja! Umma tidak akan menyalahkan siapapun. Hanya saja Umma merasa bersalah."
"Azmi baik-baik saja, Umma. Jangan khawatir! Jangan merasa bersalah! Lagi pula itu sudah berlalu."
Umma menarikku ke dalam pelukannya yang sangat erat. "Kamu mau tahu, Nak? Dulu, orang-orang memanggilmu Hisyam. Bukan Azmi. Tapi tidak masalah. Semua itu bagus," ucap umma.
Aku hanya diam. Menurut ingatanku, tidak pernah ada yang memanggilku dengan nama Hisyam. Mungkin itu dulu, sebelum terjadinya kecelakaan yang membuatku melupakan masa-masa yang telah berlalu.
Umma melepas pelukannya. "Sebulan ini terasa cepat. Kits sudah harus terpisah lagi. Antara sedih dan senang. Begitu rasanya, kan?"
"Iya, Umma."
"Umma ke depan dulu, ya! Selesaikan bersiap-siap!"
"Iya, Umma."
Selesai di dapur, aku mencari-cari koper dan beberapa barang lainnya yang hendak aku bawa. Tapi, aku tidak menemukan semua itu.
"BAH!" panggilku sambil mencari keberadaan abah. "Dimana semua orang?" gumamku.
"MAS AZMI, JANGAN KELAMAAN!" Terdengar Zidan berteriak dari arah ruang tamu.
Aku berlari-lari kecil menuju ruang tamu, tapi sudah tidak ada siapa-siapa disini. Sedangkan keadaan di luar membuatku terkejut. Disana terlihat banyak sekali santri, entah apa yang mereka lakukan di sini sepagi ini. Sebuah pemandangan yang jarang terlihat.
Tiba-tiba, abah menampakkan dirinya di ambang pintu sambil mentapku. "Ayo, Mas! Kita berangkat sekarang. Ditunggu kok malah diam disitu," kata abah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Because I'm Santri [End]
Fiksi RemajaApa yang membuatku rapuh hari ini adalah pelajaran tentang bagaimana bisa menjadi pribadi yang kuat di hari esok. *** Muhammad Hisyam Ulul Azmi. Sebuah nama dengan berjuta harapan. Aku sama sekali bukan manusia sempurna, bukan pula manusia yang sela...
![Because I'm Santri [End]](https://img.wattpad.com/cover/240897965-64-k182495.jpg)