"Bukan tentang seberapa lama kita hidup, tapi bagaimana kita hidup."
--• Because I'm Santri •--
***
Tidak ada yang bisa aku lakukan sekarang. Tidak ada orang lain disini, tidak ada yang setidaknya aku ajak berbicara. Rumah sakit ini lumayan bagus, bersih dan tidak terlalu tercium bau obat-obatan. Tapi, sebagus dan seelit apapun ruangan yang ada di rumah sakit, masih lebih nyaman berbaring di rumah yang sederhana.
Sehari semalam terakhir, tubuhku mulai bisa bergerak seperti sedia kala. Namun, tetap saja aku masih melaksanakan sholat wajib di tempat ini. Mungkin hari inu aku akan pulang.
Selama di rumah sakit, aku belum bertemu satu pun keluarga Abah Hasyim. Hanya beberapa kerabat tetanggaku yang membesuk.
Ada kemungkinan mereka sudah pulang, atau memang karena sibuk.
Mengapa ketika aku hampir memeluk mereka, Kau masih memberikan halangan yang besar, Ya Allah? Apa aku belum pantas berada di pelukan mereka? Haruskah sesakit ini untuk kembali ke pelukan orang tua kandungku sendiri? Sungguh aku ingin mereka memelukku sekarang, mungkin rasa sakit ini akan terobati. Batinku.
"Assalamu'alaikum," ucap seseorang di luar.
"Wa'alaikumsalam."
Ini sedikit aneh. Siapa yang datang pagi buta seperti ini? Abah dan ummi baru saja keluar, dokter juga belum lama keluar. Sempat-sempatnya ada orang menjenguk terlalu pagi.
Dia membuka pintu, lalu masuk perlahan.
"Mas Azka?"
Ya. Dia Gus Azka.
Sampai di dekat ranjangku, dia duduk di kursi, menghadapku. Dia tidak berbicara sama sekali padaku. Perlahan air matanya mengalir membasahi pipi. Tentu saja aku bingung dibuatnya.
"Ma–, Mas kenapa?" Aku memberanikan diri bertanya.
"Kamu sendirian, Mi?" tanyanya dengan air mata semakin deras.
"Ngga, Mas. Ada abah sama ummi, tapi lagi keluar. Mas ngapain kesini? Mas lagi sakit, kan?"
"Kamu lebih sakit. Maaf, Mi. Kamu sakit karena ikut bersamaku kemarin. Bahkan kamu jadi ngga bisa jalan. Harusnya kamu lagi senang-senangnya bertemu orang tua kamu, Mi. Harusnya kamu tertawa, bahagia. Tapi kamu harus sakit kaya gini," katanya.
"Udah seharusnya kaya gini, Mas. Aku ngga menyalahkan Mas Azka. Lagian Mas ngga sengaja, tiba-tiba ada yang nabrak mobil Mas Azka. Seperti ini aku juga seneng, kok, Mas. Allah membuat aku ngga bisa jalan, mungkin biar aku ngga kelayaban kemana-mana." Aku melengkungkan bibirku alias tersenyum untuk meyakinkannya.
"Aku seneng kamu ikhlas, Mi. Aku seneng ternyata adik aku punya hati yang sangat baik. Andai kamu ngga terima kenyataan, mungkin kamu akan membenciku karena menghalangi kamu bertemu orang yang sangat kamu rindukan. Aku mau cerita, kamu mau dengar?"
"Iya, Mas."
"Tapi jangan benci aku, ya, Mi!" pintanya.
"Memangnya kenapa aku benci sama Mas?"
"Kamu tahu, Mi? Dulu, kamu terpisah karena aku. Dulu kamu hilang di tempat acara pengajian akbar, banyak sekali orang yang datang kesana. Waktu pulang, satu tangan ummi menggandeng tanganku dan satu tangan lainnya memegang makanan kita. Kak Fasa juga ada di samping ummi. Aku ngga tau bagaimana rasanya menjadi ummi waktu itu, harus menjaga tiga anak kecil ditengah keramaian. Sedangkan abah ada di tempat lain. Ummi menyuruhku menggandeng tanganmu dan jangan sampai aku melepas tanganmu, karena waktu itu sangat ramai. Tapi buruknya, aku malah melepas tanganmu karena aku merasa kakiku kotor. Aku melepas tanganmu karena aku ingin membersihkan kaki. Pas mau naik ke mobil, kami semua baru menyadari ternyata kamu udah ngga bersama kami lagi. Aku benar-benar ceroboh! Hiks...." Gus Azka menangis terisak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Because I'm Santri [End]
Teen FictionApa yang membuatku rapuh hari ini adalah pelajaran tentang bagaimana bisa menjadi pribadi yang kuat di hari esok. *** Muhammad Hisyam Ulul Azmi. Sebuah nama dengan berjuta harapan. Aku sama sekali bukan manusia sempurna, bukan pula manusia yang sela...
![Because I'm Santri [End]](https://img.wattpad.com/cover/240897965-64-k182495.jpg)