Chapter 5 - Sabar Tiada Batas

240 29 47
                                        

"Bukan sabar yang ada batasnya, tapi hatinya saja yang terlalu sempit."

--• Because I'm Santri •--

***

Udara dingin masih bertahta di sekitarku. Bulu kudukku berdiri tegak dan berbaris di tangan dan kakiku,bagai tentara militer yang sedsng berbaris. Semua itu membuatku ingin terus berpelukan dengan bantal. Setan-setan jahat pun terus membisiki telingaku. Aku cepat-cepat mengambil posisi duduk sebelum aku benar-benar menuruti bisikan setan itu, walau masih terkantuk-kantuk.

Aku manyalakan lampu kamar, melihat ke arah jam dinding. Jarum jam menunjukkan tepat pukul 02.30. Semua temanku masih terbuai dalam mimpi. Aku membereskan tempat tidur, lalu bergegas bersiap-siap ke masjid untuk melaksanakan salat tahajud. Ponpes Darussalam menghimbau seluruh santri maupun gurunya untuk melaksanakan salat tahajud dengan istiqomah, walaupun hanya salat sunnah. Bagi santri baru yang belum terbiasa akan dibangunkan oleh senior-seniornya, termasuk aku yang diberi tugas demikian.

Selesai berkemas, aku membangunkan tiga temanku. "Jazil, buruan bangun!" Aku melemparkan bantal cukup keras pada Jazil, begitu juga kepada Azhar dan Syafiq.

Setelah mereka benar-benar bangun, aku bergegas melenggang ke masjid. Siapapun santri putra yang datang ke masjid pertama kali, dialah yang mengumandangkan azan. Oleh karena itu, aku berjalan cepat supaya aku bisa mengumandangkan azan. Itu kesenangan tersendiri bagiku, memanggil orang untuk beribadah, walaupun hakikatnya itu adalah panggilan Allah.

Setelah Azan di waktu tahajud berkumandang, para santri mulai memadati masjid. Satu per satu saf terisi dengan rapi. Aku menghampiri Fikri yang duduk di barisan paling depan.

"Fikri!" panggilku.

"Iya, Mas?"

"Dimana Alvin? Ngga sama kalian?" tanyaku sembari menyapu pandangan ke arah sekitar mereka.

"Maaf, Mas Azmi. Alvin susah banget dibangunin. Jadi aku tinggal aja," katanya.

"Ooh, gitu. Ya udah, aku ke kamarmu, ya."

"Iya, Mas."

Aku berlari menuju kamar Alvin. Aku sebagai kakak kandungnya saja kesulitan membangunkan Alvin, apalagi mereka yang baru kenal. "Assalamu'alaikum." Aku langsung masuk ke dalam, karena tidak akan ada yang menjawab, apalagi membukakan pintu layaknya melayani tamu.

"Bangun, Alvin! Sudah pagi."

Belum ada respon sama sekali.

"Alvin, bangun!!"

"Ah, brisik banget sih, Mas. Liat jam itu! Baru jam 4 kurang, kan? Azan subuh masih lama. Gue tau lo itu rajin, tapi ya jangan keterlaluan rajinnya. Masih jam segini aja dibangunin." Alvin mengomel dengan mata menahan kantuk. Dia kembali memasang posisi ternyamannya, mungkin berniat kembali tidur.

"Tapi, Al, kita harus belajar membiasakan bertirakat, sholat tahajud salah satunya. Belajar materi aja ngga cukup."

Alvin benar-benar melanjutkan tidurnya. Tampak tubuhnya seperti patung, hanya punggungnya yang terlihat kembang kempis karena bernafas. Aku mengambil satu bantal yang tergeletak di sampingnya, lalu melemparkan bantal itu ke arah wajahnya. "ALVIN!!"

Because I'm Santri [End]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang