XVIII. Bertengkar

302 53 2
                                        

Zea tidak mengerti sama sekali. Sebelumnya, lelaki itu bahkan masih mencium pipinya. Sekarang bahkan kehadirannya justru ditolak. Ditambah lelaki itu marah tanpa alasan yang jelas. Lagi pula, perempuan mana yang tidak jengkel. Kekasihmu mengacuhkan mu dan justru kembali dekat dengan seseorang yang pernah ia sukai di masa lalu. Yang benar saja!

Esoknya, pagi-pagi sekali tanpa sarapan, Zea langsung bergegas ke Hospital Wings. Gadis itu membawakan dua batang coklat kesukaan Fred. Masing-masing 1, untuknya dan kembarannya. Kedua orang itu masih terlelap. Janggut dan kumis yang menghiasi wajah tampan mereka telah sepenuhnya hilang. Begitu pula dengan warna rambut mereka yang telah kembali menjadi warna jahe, warna hangat yang Zea sukai.

Gadis itu mendekati tempat tidur Fred. Zea menatap wajah kekasihnya itu dengan sayang. Jemarinya mengusap rambut jahe milik Fred yang mulai memanjang dengan pelan. Fred melenguh dalam tidurnya akibat merasakan gerakan tangan Zea.

Zea baru saja kembali dari kamar mandi saat ia kembali memasuki pintu Hospital Wings. Namun betapa terkejutnya ia melihat Fred dan George yang sudah bangun, bersandar pada nakas masing-masing. Bukan. Bukan itu yang mengejutkan Zea. Melainkan keberadaan Angelina, memegang semangkuk bubur dan menyuapi kekasihnya. Zea melirik nakas di samping tempat tidur Fred. Dua batang coklat yang berada di sana sebelumnya telah lenyap.

Dengan langkah canggung, Zea melangkah menuju Fred dan George. Gadis itu melirik sekilas pada Angelina, ia menemukan sebuah senyum ganjil dari gadis itu.

"Sudah bangun? Kalian masih tertidur tadi saat aku kesini. Aku baru saja kembali dari kamar mandi. Butuh bantuan, Fred? Apakah masih sakit? Bagaimana kepalamu? Apa perlu ku panggilkan Madam Pomfrey? Kemarilah aku akan melihatnya." Ucap Zea. Gadis itu bergerak menuju kepala Fred saat laki-laki itu justru menahan tangannya sebelum berhasil menyentuh seujung rambut pun.

"Berhentilah, Zea." Kata Fred. Nada suaranya terdengar tidak seperti biasanya.

"A-apa yang kau katakan, Fred?" Zea memandang kekasihnya dengan tatapan bingung.

"Berhentilah berpura-pura memperdulikan kami." Ucap Fred. Zea menegang. Bagaimanapun dia merasa tidak bisa menerima ucapan Fred begitu saja.

"Berpura-pura? Apa maksudmu? Aku menuju ke sini pagi-pagi sekali, melewatkan sarapan, dan melewatkan hal-hal lain. Aku menunggui mu dan George saat kalian bahkan masih terlelap. Aku hanya pergi sebentar ke kamar mandi, dan kemudian dia datang." Ucap Zea sambil menunjuk Angelina begitu saja. Nampaknya Angelina sedikit terkejut.

"Aku mengkhawatirkan dirimu. Sepanjang malam aku memikirkan sikapmu. Dan sekarang kau bilang agar aku berhenti berpura-pura peduli padamu? Apa kepala mu terbentur begitu keras kemarin hingga kau bertingkah sebegini menyebalkan." Ucap Zea. Nafasnya naik turun seiring emosi yang berhasil ia keluarkan.

"Aku tidak peduli dengan seluruh alasan karanganmu. Aku hanya mempercayai mataku, dan aku hanya melihat Angelina saat aku membuka mata tadi." Balas Fred. Ia kembali mengalihkan pandangannya dari Zea.

Zea tidak bisa tidak merasa sakit. Air matanya lolos begitu saja saat sudut matanya kembali menangkap seulas senyum tidak menyenangkan dibalik ekpresi sedih yang ditampilkan oleh Angelina.

"Begitu kah? Lalu katakan apa salahku hingga kau menolak keberadaan ku semalam." Ucap Zea. Suaranya sedikit bergetar, namun di balik itu Zea menggigit bibirnya dengan keras. Menahan agar tidak semakin terisak.

"Aku tidak butuh seseorang yang menertawakan mimpiku. Mengikuti turnamen Triwizard adalah salah satunya. Kau tertawa dengan keras saat aku dan George terlempar kemarin. Kami menahan malu dan sakit, lalu kau tertawa dengan keras begitu saja." Kata Fred. Zea menatap lelaki itu dengan tatapan tidak percaya.

Last DescendantCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang