XXIV. Anggota Termuda Orde

265 47 1
                                        

Zea tengah bermain bersama Ginny saat ia dipanggil begitu saja ke bawah. Setahunya, sedang diadakan rapat orde di sana. Sementara sebagian anggota orde yang lain termasuk Moody, Tonks, Kingsley Shacklebot, dan beberapa anggota lain telah pergi sejak beberapa jam yang lalu untuk menjemput Harry Potter dari Privet Drive.

Rumah keluarga Black menjadi sangat ramai sekarang akibat kedatangan keluarga Weasley, begitu pula dengan Hermione. Gadis itu datang beberapa hari yang lalu.

Zea sendiri masih meneruskan latihannya. Setelah berhasil menukar kematian, ia tengah belajar bertransformasi, mengubah tubuhnya dalam bentuk asap putih. Hal ini semacam sihir aperate sebenarnya. Hanya saja lebih aman karena tidak perlu izin khusus dari kementerian dan tidak ada batasan umur. Zea dengar para Death Eaters menggunakan metode yang sama dalam berpindah tempat agar tidak terdeteksi oleh kementerian.

Kembali ke keheranan Zea saat ia dipanggil begitu saja menuju ruangan rapat. Di sana terdapat meja panjang dengan kursi-kursi berjajar mengelilingnya. Sirius berdiri paling ujung, selaku tuan rumah. Zea duduk disana begitu saja, diantara para orang dewasa yang tengah berdebat.

"Kau yakin akan mengatakan ini padanya Sirius? Dia bahkan lebih muda dari Fred dan George." Molly mengatakan itu dengan air muka khawatir. Sementara Arthur duduk di sampingnya dengan sorot mata tak yakin. Ia mengusap punggung istrinya, menenangkan ibu dengan 7 anak tersebut.

"Bagaimana menurutmu Moony?" Sirius memandang pada Remus. Meminta pertimbangan.

"Tak apa. Kemampuannya sudah cukup untuk ini. Moody rasanya juga akan setuju" Kata Remus. Sementara gadis itu masih duduk di sana dengan tenang, meskipun sorot matanya menunjukkan keingintahuan.

"Apa yang ingin kalian katakan?" Katanya dengan nada dingin. Ia agaknya tidak terlalu suka berada di antara orang dewasa dengan situasi canggung seperti ini. Akan lebih menyenangkan jika ia bergabung dengan Ginny di lantai atas.

"Aku akan mengatakannya, tolong jangan terkejut," Sirius menarik nafas panjang. "Kami memantau perkembangan latihan mu selama ini. Kami rasa, kami tidak bisa hanya menganggap mu sebagai anak kecil biasa."

Seluruh mata menoleh saat pintu ruangan tiba-tiba terbuka begitu saja. Di sana Moody, Tonks, dan lainnya nampaknya sudah sampai. Sirius lekas menghampiri Harry. Memeluk anak baptisnya tersebut dengan perasaan rindu. Sementara Zea merasakan gelenyar aneh di hatinya saat melihat lelaki berkacamata bulat tersebut. Sebuah perasaan seperti iri, benci, dan juga tidak terima yang muncul dengan sendirinya.

Molly menyambut kedatangan Harry dengan tergopoh-gopoh. Wanita bertubuh pendek itu lantas menuntun Harry ke lantai atas dimana Ron dan Hermione berada. Setelah terinterupsi, rapat kembali dilanjutkan.

"Maafkan aku. Akan aku lanjutkan." Ucap Sirius. Laki-laki itu kembali duduk di kursinya.

"Bagaimana menurutmu Moody, apakah dia bisa kita masukkan menjadi anggota?"

"Kemampuannya cukup baik, dia juga sudah menguasai penukaran kematian. Tanyakan padanya, mau atau tidak?" Ucap Moody, menunjuk Zea menggunakan dagu. Sementara Zea masih menatap satu per satu orang di ruangan itu dengan bingung.

"Zea, maukah kau menjadi anggota resmi Orde of Phoenix?"

***

Harry sedang marah-marah pada Hermione dan Ron saat Fred dan George datang, ber-aperate begitu saja di belakangnya. Menimbulkan bunyi plop yang keras.

"Sudah selesai marah-marahnya Harry? Keluarkan saja semuanya mate," ucap George. Harry menggeleng pelan.

"Kalau tidak ingin melanjutkan, ayo kami tunjukkan sesuatu pada kalian. Bukankah kalian penasaran dengan apa yang dibicarakan anggota orde di bawah sana?" Kata Fred sambil berjalan menuju tangga. Mereka semua, Harry, Hermione, Ron, Fred, George, disusul oleh Ginny, mengelilingi tangga tersebut sambil melihat ke bawah.

Last DescendantCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang