XXXVI. Draco's Confession

323 44 4
                                        

Zea terbangun di tempat asing yang gelap, lembab, dan dingin. Gadis itu mengusap lengannya beberapa kali. Jangan lupakan bahwa ia hanya terbalut sebuah gaun pesta berwarna coklat yang tipis. Ia beranjak bangun, tubuhnya sudah tidak sesakit sebelumnya. Zea mencoba menelusuri ruangan itu dengan tangan kosong. Zea rasa tongkatnya sudah dilucuti.

Ia berjalan ke arah lubang angin kecil yang tertutup jeruji besi. Ia mencoba fokus, mengumpulkan sihir di telapak tangannya.

"Sial. Kenapa tidak bisa."

Ia mencoba sekali lagi. Zea bersumpah akan melakukan apapun untuk bisa keluar dari sana.

"Tempat ini di sihir, nak. Kita tidak bisa melakukan apapun kecuali menunggu keajaiban." Sebuah suara menginterupsi Zea. Gadis itu menoleh cepat. Ia mendapati lelaki tua dengan tubuh ringkih berjalan mendekati Zea dengan langkah terbungkuk.

"Mr. Ollivander? Anda kah itu?"

"Benar nak. Ini aku."

"Kenapa anda bisa berada di sini?"

"Cerita yang panjang. Aku ditangkap karena..."

Keduanya menoleh saat mendapati jeruji besi terbuka begitu saja. Draco, datang dari sana dengan membawa beberapa barang di tangannya.

"Zea... Bagaimana keadaanmu?" Draco membuka suara. Namun agaknya laki-laki itu enggan menatap mata Zea. Entah karena takut, merasa bersalah, atau sejenisnya.

"Cukup baik. Setidaknya aku masih hidup." Jawab Zea.

"Ku bawakan kau makanan dan pakaian." Ucap Draco. Zea meraih barang-barang yang disodorkan kepadanya.

"Mr. Ollivander, anda bisa memakan roti isi ini. Sepertinya anda terlihat lemas." Ucap Zea. Mr. Ollivander meraih roti isi tersebut dengan takut mengingat Draco masih ada di sana.

"Tak apa Mr. Ollivander, anda bisa memakannya. Dan bisakah saya meminta sedikit ruang untuk berbicara dengannya?"

Mr. Ollivander mengangguk. Laki-laki tua itu meraih roti isi di tangan Zea lalu bergerak menjauh.

"Pakailah. Itu Sweater dan celana lamaku. Masih bagus, hanya saja sudah kekecilan. Ku rasa akan pas denganmu." Draco berbicara dengan lebih lancar.

"Aku akan naik untuk mengambil roti isi yang baru untukmu." Draco berbalik, bersiap untuk beranjak.

"Aku harus keluar dari sini. Bisakah kau tunjukkan jalannya, Draco?"

Draco terdiam. Laki-laki itu berbalik, menatap Zea dengan pandangan sendu.

"Aku tak bisa. Dia bisa membunuhku."

"Tapi aku harus keluar."

"Aku tak bisa, Zea. Mengertilah. Kau melihat dengan mata kepalamu sendiri apa yang telah dia lakukan." Ucap Draco.

"Dia memperlakukan kalian seperti anjing peliharaan. Kenapa tidak melawan?" Tanya Zea dengan geram.

"Siapa yang berani melawannya?"

Keduanya terdiam. Bahkan Zea pun yang jelas-jelas berada di sisi yang berseberangan dengan Draco tidak bisa berbuat banyak. Meskipun denial, Zea tetap menciut jika berhadapan langsung dengan Voldemort.

"Pakailah. Aku akan naik." Ucap Draco memecah keheningan.

"Kenapa kau melakukannya Draco? Yang kau lakukan berbahaya sekali bukan? Kenapa kau tidak membiarkanku mati?"

"Membiarkanmu mati sama saja bunuh diri, Zea."

Zea mengernyit. Memandang Draco dengan tatapan tidak mengerti. "Apa maksudmu?"

Last DescendantCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang