VII. Ramuan Profesor Snape

531 88 4
                                        


Zea memandang ruangan di sekelilingnya dengan wajah bingung. Remus mengajaknya ke sana sejak beberapa saat yang lalu, sebelum lelaki itu justru meninggalkan dirinya sendirian.

"Jangan kemana-mana dan jangan sentuh apapun." Pesan Remus sebelum melangkah keluar dari ruangan itu.

Dan di sanalah Zea sekarang, berdiri di sebuah ruangan aneh yang ia tidak tahu ruang apa dan dimana. Ruangan itu nampak besar, dipenuhi oleh rak-rak dengan buku-buku tebal yang rasanya tidak akan pernah Zea menyentuh buku semacam itu. Terdapat topi aneh di salah satu rak nya, seekor burung Phoenix yang tertidur, jam pasir antik, sebuah meja dan kursi kerja, dan banyak lagi. Zea tidak berhasil mengamati setiap benda satu persatu, terlalu banyak dan menumpuk.

Suara langkah yang terdengar beriringan membuat Zea melengos begitu saja. Di sana Remus, Profesor Snape, dan salah seorang lagi-- yang nampak jauh lebih tua, datang dengan langkah mantap. Snape memegang sesuatu di tangannya, terlihat seperti cairan hitam yang dimasukkan ke dalam sebuah tabung kaca. Apapun itu sepertinya nampak mengerikan.

"Maaf membuatmu menunggu lama Miss Xavore." Seorang lelaki tua dengan rambut memutih dan jenggot panjang berwarna keperakan datang menyapa Zea. Baju ungunya yang lebih nampak seperti jubah menyapu lantai yang ia pijak setiap kali lelaki tua tersebut melangkah. Kaca mata berbentuk bulan sabit bertengger di batang hidungnya yang bengkok dan besar.

"Aku yakin kau sudah mendengar tentangku sebelumnya. Aku adalah Profesor Dumbledore." Ucap lelaki itu memperkenalkan diri. Zea menunduk sedikit, menunjukkan hormat.

"Tentu saja Profesor. Anda penyihir yang sangat hebat dan tersohor," Ucap gadis itu.

"Oh tidak, kumohon jangan begitu. Relaks saja," Kata Profesor Dumbledore. Zea melirik Remus sekilas. Remus tersenyum singkat dan mengangguk.

"Jujur saja Miss Xavore, aku belum bisa melihatmu saat ini." Profesor Dumbledore berjalan ke arahnya, berhenti di samping tubuhnya persis. Hanya saja ia justru memandang ke arah yang berlawanan dengan posisi Zea berdiri membuat gadis itu terkikik kecil.

"At first, aku ingin mengucapkan duka yang mendalam terkait keluargamu. Tentu saja aku dan keluargamu, Jose dan Jacelyn saling mengenal dengan baik. Jangan lupakan Diana dan Azka. Aku mengenal mereka sejak saat masih se usiamu." Nada suara Profesor Dumbledore merendah. Zea tersenyum tipis.

"Kedua, Profesor Lupin telah memberitahuku semua tentangmu Miss Xavore, dan berkat penyelidikan yang telah ia lakukan juga bantuan dari Profesor Snape, rasanya kami akan segera melihatmu disini." Lelaki tua itu melangkah menuju mejanya sembari melanjutkan kalimatnya yang menggantung. "Jika ramuannya berhasil tentunya."

Profesor Snape melangkah menuju meja Profesor Dumbledore, meletakkan cairan mengerikan yang Zea lihat sebelumnya itu di atas meja.

"Penyelidikan yang dilakukan oleh Profesor Lupin menunjukkan sihir di tubuhmu akan otomatis menghilang di saat kau sudah dianggap cukup dewasa untuk bisa mempertanggungjawabkan dirimu sendiri, Miss Xavore."

"Apa artinya itu, Profesor Dumbledore?" Zea menanggapi. Sedangkan Profesor Dumbledore nampak sedikit mendongakkan kepalanya, mencari-cari dimana Zea berdiri.

"Sihir itu akan hilang disaat kau berumur 17 tahun. Atau, " Profesor tua tersebut kembali berjalan ke depan mejanya. "Kau sudah berani mencium seseorang. Ciuman sebagai seorang wanita sepenuhnya, bukan sebagai adik, keluarga, atau semacamnya. "

Zea membulatkan mata, rasanya hal itu tidak sepenuhnya benar. "Maaf Profesor, tapi saya rasa hal tersebut tidak sepenuhnya benar."

Dumbledore mengangkat salah satu alisnya.

Last DescendantCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang