IV. Sebuah Dekapan

644 93 2
                                        

Mulai part ini alurnya pakai alur maju. Part ini merupakan kelanjutan dari part pertama.

* * *

Ruangan belajar nampak riuh kali ini. Para murid yang terdiri dari asrama Gryffindor dan Slytherin saling berebut memasuki kelas meskipun Remus belum nampak di ruangan itu. Zea turut disana. Duduk begitu saja di lantai yang terletak pada ujung ruangan, menatap para siswa yang mulai mengeluarkan buku-buku, pena bulu dan tinta, serta beberapa perkamen milik mereka.

Zea tak berniat untuk menganggu sama sekali. Dirinya hanya bosan. Jadi, apa salahnya melihat Remus mengajar? Ia bisa membantu kalau-kalau pixie-pixie nakal yang ada di ruangan tersebut lepas seperti yang terakhir kali. Atau ia bisa saja duduk sambil menikmati waktu untuk melihat pemandangan indah yang disuguhkan oleh lelaki-lelaki tampan dari Slytherin, seperti Draco Malfoy misalnya.

Oh, atau ia bisa menjahili Hermione Granger dengan meniup-niup rambutnya yang mengembang dan membuatnya semakin kacau.

Baiklah sepertinya opsi pertama lebih baik.

“Selamat pagi semuanya,” ucap Profesor Lupin sesaat setelah memasuki ruangan tersebut. “Silahkan masukkan kembali semua buku dan peralatan kalian ke dalam tas dan keluarkan tongkat kalian. Hari ini kita akan praktek.”

Para siswa kembali memasukkan peralatan mereka ke dalam tas. Sedangkan Profesor Lupin nampak menyeret—menggunakan tongkat sihir-- sebuah lemari tua yang berada di ujung ruangan tepat di samping Zea yang tengah ‘ngemper’ begitu saja di lantai. Ia menggeleng sesaat mengetahui kelakuan Zea yang kini tengah asik nyengir karena melihat target pria tampan baru incarannya, Harry Potter.

Namun kegiatan profesor yang mengisi pelajaran Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam tersebut nampak sedikit terganggu akibat ulah jahil Peeves, si hantu nakal. Ia kembali bermain dengan sebuah sarang yang tergantung di atap ruangan kelas, penuh dengan pixie di dalamnya.

“Ku pikir kau harus pergi Peeves, bukankah ini saatnya mereka belajar? kau sudah tau peraturannya. Tidak boleh mengganggu saat kegiatan belajar berlangsung.”

Peeves mendengus dengan sebal lalu terbang berputar-putar dengan kepala terbalik sebelum akhirnya keluar ruangan dengan menyanyikan sebait lagu yang ia buat.

Loony, loopy Lupin…

Loony, loopy, Lupin…

Loony, loopy Lupin… Aaaaaaaa,” Peeves bernyanyi, namun diakhiri dengan sebuah teriakan melengking sebelum melesat.

Lupin melihatnya dan menggeleng saat mendapati Zea mengejar Peeves yang mengoloknya. Pantas saja hantu itu memilih pergi, pikirnya.

Para siswa memandang profesor baru mereka dengan tatapan bingung. Bukankah Peeves sudah keterlaluan barusan? Dan lelaki itu hanya menampilkan sebuah senyum sebagai respon. Wah sepertinya profesor baru mereka ini merupakan orang yang menyenangkan.

Lemari tua yang sedari tadi menyibukkan profesor itu telah bergeser ke samping tubuhnya. Bergerak-gerak seolah ada sesuatu di dalamnya yang ingin melompat keluar. Pegangannya berputar-putar dengan sendirinya. Sesuatu yang berada di dalamnya seolah memberontak.

“Jangan khawatir,” ucap Profesor Lupin dengan tenang ketika beberapa murid nampak khawatir dan ketakutan. “Ada Boggart di dalamnya.”

“Boggart menyukai tempat-tempat yang gelap dan tertutup, kolong tempat tidur, lemari pakaian, gudang bawah tanah, dan di manapun asalkan gelap,” jelasnya. “Jadi ada yang bisa menjelaskan apakah Boggart itu?”

Hermione tampak mengangkat tangannya dengan penuh tenaga, nampak menghentak.

Yes, Miss Granger.”

Last DescendantCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang