XVII. Goblet of Fire

296 49 2
                                        

Hari ini pagi-pagi sekali Mr. Flich telah disibukkan dengan sikat dan ember, ia ditemani oleh kucingnya Mrs. Norris terlihat sibuk menyikat berbagai sudut kastil bahkan sejak sebelum matahari terbit. Sementara di dapur, para peri rumah nampak kewalahan menghadapi tingkah Peeves yang menaburkan tepung ke segala arah. Hantu itu mengamuk karena ruang geraknya yang dibatasi selama 1 semester penuh.

Great Hall masih sepi saat Zea memasukinya. Gadis itu lantas mendudukkan diri begitu saja di kursi Gryffindor. Ia memilih untuk menelungkupkan wajahnya di lengan, tidur 5 menit lagi sepertinya tidak apa-apa. Baru saja memejamkan mata, ia merasakan pipinya ditepuk beberapa kali oleh seseorang. Dengan mata yang berat gadis itu mencoba menegakkan tubuhnya. Ia menoleh dan mendapati laki-laki berambut platina dengan senyum menyebalkan duduk begitu saja di belakangnya.

"Aku tidak menyangka, gelang itu terlihat sangat cocok denganmu." Kata lelaki itu. Zea melirik pergelangan tangan kirinya sekilas. "Ya. Karena gelangnya mahal ku rasa."

"Memang mahal. Makanya jangan berani-berani kau melepas gelang itu." Ucapnya. Zea hanya mengendikkan bahu dengan acuh. "Ku dengar kau berpacaran dengan salah satu kembar Weasley itu. Apa benar?" Ucap Draco. Zea meraih kotak sereal di depan wajahnya, menuangkan beberapa isinya ke dalam mangkok. "Ya begitulah. Kenapa memangnya?"

Draco yang semula menatap Zea, mengalihkan pandangan ke arah lain. "Tidak apa-apa, hanya bertanya saja. Memangnya kenapa? Tidak boleh?" Ucapnya dengan ketus.

Zea memilih tidak menanggapi. Ia memutar kedua bola matanya dengan malas sambil menuangkan susu ke mangkok sereal miliknya. Baru saja ingin menyuapkan sereal itu ke mulutnya, seseorang merampas sereal tersebut mengarahkan ke mulut yang lainnya. Gadis itu nampak terkejut, tatapannya nyalang sebelum kembali melunak saat mengetahui siapa pelaku perbuatan tersebut.

"Kau bangun pagi-pagi hanya untuk membuatkan ku sereal, darling?"

Zea tersenyum menatap Fred yang duduk begitu saja di samping tubuhnya.

"Kau kenapa sih selalu merebut makanan ku?"

"Aku perlu makan banyak supaya kuat untuk melindungi mu." Ucapnya, Zea tersenyum manis sebagai respon. Tidak tahu jika ucapan Fred memiliki maksud tersendiri.

"Ku lihat Malfoy berbincang dengan mu barusan. Apa dia menganggu mu?" Tanya Fred. Zea menggeleng, "tidak kok. Tidak usah di pikirkan."

"Justru lelaki seperti Malfoy itu lah yang harus dihindari. Aku akan menjagamu dari laki-laki sejenis Malfoy." Kata Fred, Zea mengangkat salah satu alisnya. "Memang Malfoy lelaki jenis apa?"

"Apa lagi? Tentu saja dia adalah ular."

***

Hari ini kelas diakhiri 30 menit lebih cepat. Para siswa diwajibkan berpakaian rapi, lengkap dengan jubah, dan berdiri di depan pintu kastil demi menyambut utusan dari dua sekolah sihir: Beauxbatons dan Dumstrang. Namun beberapa diantara mereka mulai bergemerusuk, bergerak tidak nyaman, karena perwakilan dari kedua sekolah tersebut belum juga muncul bahkan setelah 30 menit menunggu di luar di tengah udara November yang mulai mendingin.

"Lihat! Lihat itu!" Teriak salah satu murid Ravenclaw sambil menunjuk langit. Tentu saja seluruh mata mengikuti arah tangannya, mendongak. Dari kejauhan terlihat kereta sebesar rumah, ditarik oleh sekitar 10 kuda sebesar gajah, terbang dari kejauhan dan mulai mendekat.

Seluruh murid membuka mulutnya dengan kagum. Lebih takjub lagi saat kereta kuda tersebut benar-benar telah mendarat. Dari dalamnya keluarlah seorang wanita raksasa--lebih besar dari Hagrid, diikuti oleh siswi-siswi cantik dibalut seragam sutra berwarna biru laut yang memikat. Hampir seluruh murid laki-laki memandang siswi Beauxbatons dengan tanpa berkedip. Para siswa laki-laki baru bisa mengedipkan mata dengan normal saat perwakilan Beauxbatons tersebut telah terlebih dulu masuk ke dalam kastil dibimbing oleh Profesor McGonagall. Begitu pula dengan Fred yang langsung dihadiahi sebuah tinju oleh Zea yang berdiri di sampingnya.

Last DescendantCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang