Zea tengah mendudukkan diri di sebuah kursi panjang tepat di bawah sebuah pohon besar. Batang pohon itu membengkok, dengan daun-daun yang rindang. Remus telah pergi untuk mengajar setelah mengambilkan dirinya dua potong roti isi dan sebuah pai daging beberapa saat yang lalu.
Zea mengangkat telapak tangannya dan bergerak menutup mulutnya yang menguap. Dirinya sudah selesai bersih-bersih dan sudah menghabiskan makanannya, lalu apa lagi sekarang? Ia akan ikut dengan Remus jika saja tidak ditahan oleh laki-laki itu. Remus bilang, dirinya harus mengadakan tes praktek bagi murid-muridnya hari ini. Setelah itu akan menemui Profesor Dumbledore untuk membicarakan kondisi Zea.
Dan sekarang disini lah dirinya, duduk sendirian di bawah pohon seperti orang bodoh. Peeves juga belum kelihatan hari ini. Padahal ia punya rencana mengerjai murid-murid lagi. Benar-benar hari yang membosankan.
Dirinya tengah memainkan sebuah daun kering yang ia terbangkan kesana kemari seperti seekor burung saat para siswa asrama Slytherin melewatinya begitu saja. Masing-masing dari mereka membawa sebuah buku tebal yang memiliki mata dan gigi dengan langkah yang terburu-buru.
Pada barisan paling belakang, seorang dengan rambut platina yang menyilaukan sedang berjalan dengan santai. Di sampingnya ada Pansy Parkinson, sedangkan Crabbe dan Goyle berjalan di belakang mereka.
"Pelajaran ini sangat konyol. Dan juga bukunya, " runtuk lelaki itu sambil berjalan santai. Bahkan ia tidak perlu repot-repot membawa buku aneh itu. Dua pengawalnya akan siap membawakan apapun barang miliknya.
Zea yang memang punya ketertarikan lebih terhadap laki-laki tampan di Hogwarts tersebut memilih untuk bangkit dari duduknya. Sepertinya mengikuti anak tunggal Malfoy itu bukan ide buruk, hehe.
Zea berseru dengan semangat, "waktunya cuci mata!"
Seorang pria besar nampak memakai kalung dari hewan mirip tupai yang telah mati. Tangannya yang besar juga membawa beberapa ekor hewan berbulu tersebut.
"Ayo ayo, lekas mendekat," ucapnya sambil membimbing para murid menuju ke dalam hutan terlarang. Tidak terlalu jauh, mereka sampai di sebuah tempat yang cukup datar. Zea berdiri agak jauh dan menjaga jarak aman dari mereka. Namun agaknya tempat berdiri yang ia pilih cukup strategis. Dirinya bisa melihat Draco Malfoy dan Harry Potter dengan jelas dari sana. Oh jangan lupakan Ron Weasley, sahabat Harry itu tidak buruk juga.
"Bagaimana caranya?" Draco Malfoy membuka suara dengan nada dingin.
"Eh?" Hagrid nampak belum menangkap maksud Malfoy.
"Bagaimana cara membuka buku ini?" Ulangnya.
"Oh mudah, usap saja punggung bukunya, seperti ini," Hagrid meraih buku di genggaman Hermione dan melepaskan tali pengikatnya. Buku itu mencoba menyerang sedetik sebelum jari besarnya membelai punggung buku tersebut. Kini buku itu telah sepenuhnya terbuka, tanpa perlawanan lagi.
"Ku pikir buku ini lucu," Ungkap Hermione.
"Ya sangat lucu!" kata Malfoy. "Memberikan siswa sebuah buku yang bahkan bisa mengoyak tangan kami sampai putus. Lihat si Longbottom!" Ucap Draco Malfoy sambil menunjuk Neville Longbottom yang susah payah berdiri dengan jubah berlubang dan kemeja compang-camping, hasil serangan buku itu.
"Ah aku baik-baik saja, tenang saja," kata Neville.
"Sangat jenaka bukan membiarkan si bodoh itu mengajar? Wait till my father hear about this." Ucap Draco Malfoy dengan ekspresi menyebalkan.
"Shut up, Malfoy." Harry maju. Tidak bisa membiarkan Malfoy mengucapkan hinaannya lebih jauh lagi.
Malfoy melangkah mendekati Harry dengan gaya menantang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Last Descendant
Fiksi PenggemarZeannes Jade Xavore. Seorang animagus yang mengambil wujud elang berekor emas. Dirinya tentu bukan sengaja menjadikan tubuhnya sebagai animagus, melainkan memang sudah menjadi kemampuan spesial yang turun menurun dari keluarganya. Saat dirinya berus...
