Terima kasih telah membuatku bertahan sampai detik ini. Entah sampai kapan aku harus menunggu, yang pasti disini aku tetap menanti kehadiranmu.
—SHEYRA—
••• HAPPY READING•••
Sheyra menatap kendaraan lalu-lalang dari balkon rumah sakit. Gadis itu terduduk di atas kursi roda, tidak ada yang menjaganya. Rizky, ayah dan bundanya kembali dengan kesibukannya masing-masing. Tadi sempat Rizky menentang akan menjaganya namun Sheyra tolak mentah-mentah karena dia tau kakaknya itu sedang disibukkan dengan berbagai kegiatan persiapan untuk menghadapi ujian nasional. Dia tak mau membuat Rizky gagal fokus karenanya dan berakhir seperti ini, sendiri.
Sheyra menengadah menatap langit-langit ruang inapnya. Rasa sakit itu lagi-lagi datang tanpa persetujuannya. Kepalanya sakit lagi dan juga badannya yang memar. Sampai kapan Tuhan akan mengujinya seperti ini?
Apakah dia selama hidup punya kesalahan yang fatal sampai-sampai Tuhan memberinya hukuman seperti ini? Sheyra ingin sehat, dia tidak mau merepotkan orang lagi. Sheyra ingin sekali seperti orang lain yang bisa beraktivitas dengan normal, Sheyra ingin sekali menjadi kalian.
Hembusan nafas keluar dari hidungnya, dibarengi dengan darah. Gadis itu segera meraba tissue di pangkuannya, mengelap hidungnya dengan hati-hati.
"Tuhan, Shey capek. Shey gak kuat, kenapa Tuhan kasih cobaan berat banget? Apa Shey punya salah sampai-sampai Tuhan gak bisa maafin?" Sheyra beralih menatap bawah, menatap ramainya jalan didepan rumah sakit yang Sheyra singgahi saat ini.
"Shey pengen kayak mereka." Gadis itu menangis dalam diam. Masalah demi masalah datang tanpa permisi, dan Sheyra melewati masalah-masalah itu dengan sendiri tanpa menceritakan kepada orang lain.
Pintu ruangan yang Sheyra tempati terbuka. Dokter Steve, dokter yang menanganinya berjalan kearahnya disusul dengan Dokter Laras dibelakangnya.
Ngomong-ngomong soal dokter Laras kemarin wanita itu sempat menjenguknya, namun hanya beberapa menit karena takut orang tua Sheyra tau dan sekarang dia kembali. Sheyra buru-buru mengelap air matanya dengan cepat.
"Gimana kepalanya? Masih sakit?" Dokter Laras mewakili.
"Iya."
"Kenapa gak istirahat aja?"
"Shey males kalo disuruh tidur terus."
Helaan nafas dari dokter Laras tidak membuat Sheyra mengalihkan pandangannya dari ramainya jalan. Jika kalian bertanya, apakah Sheyra berniat untuk mengakhiri hidupnya? Jawabannya tidak, Sheyra tidak akan melakukan hal gila itu. Mengakhiri hidup bukan membuat masalah selesai, itu yang ada dipikiran Sheyra.
"Kamu sudah makan?" Dokter Steve menatap Sheyra yang masih membelakanginya dengan dokter Laras.
Gelengan kepala Sheyra membuat dua orang tadi saling memandang, kenapa Sheyra nekat? Gadis itu semakin kurus, Sheyra yang kemarin badannya sedikit berisi kini berubah seperti tengkorak hidup. Gadis itu mengalami penurunan berat badan selama sakit.
"Shey nanti kamu makin drop,makan ya?" Dokter Laras berjalan kearah meja di ruangan itu, mengambil mangkuk berisi bubur yang telah disediakan oleh rumah sakit.
"Nih makan, sedikit aja. Jangan sampai kamu makin sakit Shey, kalo kamu udah sembuh kita terapi." Perkataan dokter Laras berhasil membuat Sheyra mengalihkan perhatian, menatap wajah wanita yang sudah ada disampingnya itu dengan tatapan mata tak seperti biasanya.
"Percuma."
"Sheyra gak bakalan sembuh." Sheyra mendengus tersenyum miris.
"Jangan ngeyel! Dokter mau yang terbaik buat kamu, biar kamu sembuh. Kita gak tau hasilnya karena kita belum coba."
KAMU SEDANG MEMBACA
SHEYRA [END]
Teen Fiction𝐀𝐒#𝟏 ⚠️[BUDAYAKAN VOTE SETELAH BACA]⚠️ Ini tentang Sheyra, gadis pemilik darah blasteran Amerika-Jawa. Si gadis tomboy yang kehilangan ingatannya karena menolong seseorang tapi berakibat pada dirinya. Bertahun-tahun mencari informasi tentang kebe...
![SHEYRA [END]](https://img.wattpad.com/cover/231514043-64-k229072.jpg)