Darah yang Sama - Episode 45
*----------*
Di ruang tindakan utama, Evelyn masih terbaring tidak sadar. Alexander berdiri di sampingnya, memperhatikan denyut nadinya yang masih lemah. Tubuh wanita itu belum sepenuhnya stabil, tapi setidaknya tidak lagi di ambang kematian.
"Perdarahannya mulai terkontrol," ucap perawat.
Alexander mengangguk kecil.
Namun matanya tiba-tiba berhenti pada catatan lama di samping ranjang pasien.
Ia membaca cepat.
Lalu diam.
"...tidak mungkin," gumamnya pelan.
Perawat menoleh. "Dokter?"
Alexander tidak menjawab.
Tatapannya bergerak antara catatan pasien dan pintu ruangan di kejauhan arah Isabel berada.
*----------*
Waktu berjalan lambat, cairan darah terus mengalir. Isabel mulai sedikit pucat, tapi tetap tenang. Victor mulai gelisah.
"Cukup," ucapnya akhirnya tegas. "Sudah terlalu banyak."
Perawat menoleh ragu.
"Masih kurang untuk stabilisasi penuh pasien."
"Sudah cukup," ulang Victor lebih keras.
Namun sebelum perawat sempat menghentikan, pintu terbuka.
Alexander masuk.
"Lanjutkan," ucapnya singkat.
Victor langsung menatapnya tajam. "Apa kau sudah gila?"
Alexander tidak membalas langsung. Matanya hanya tertuju pada Isabel.
"Dia masih kuat," jawab Alexander datar. "Dan pasien di sebelah tidak akan bertahan jika kita berhenti sekarang."
Isabel menatap Alexander sekilas.
"Lanjutkan saja," ucapnya pelan.
Victor mengepalkan tangan, tapi tidak bisa berbuat apa-apa.
Beberapa menit berlalu dalam hening yang menekan. Hingga akhirnya, perawat menutup aliran darah.
"Sudah cukup," ucapnya.
Isabel menghela napas pelan. Untuk pertama kalinya, bahunya sedikit turun. Victor langsung mendekat, membantu membebaskannya dari alat.
"Bodoh..." gumamnya pelan, tapi suaranya lebih lelah daripada marah.
Isabel hanya diam.
*----------*
Di ruang lain.
Evelyn perlahan bergerak.
Jarinya sedikit berkedut.
Alexander langsung memperhatikan.
"...responnya mulai kembali," ucapnya pelan.
Namun yang membuatnya diam bukan itu, tapi sesuatu yang baru saja ia sadari. Ia membuka lagi catatan pasien.
Membandingkan satu hal... lalu berhenti. Ekspresinya berubah sangat pelan, seperti seseorang yang baru menyadari sesuatu yang tidak ingin ia pahami.
"...darah ini..."
Ia menutup mata sesaat.
Lalu menatap pintu.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Lady Whitmore (ON GOING)
ActionLondon, 1900 Keluarga Whitmore pernah menjadi simbol kehormatan dan kekuasaan. Namun setelah sebuah kecelakaan tragis merenggut kedua orang tua mereka, hanya Antonio dan Isabella yang tersisa. Di mata semua orang, Antonio adalah kakak yang sempurna...
