Benang Kehidupan- Episode 44
*----------*
Pagi hari.
Dua mobil melaju cepat membelah jalanan kota yang masih sepi.
Udara dingin memenuhi suasana pagi yang suram, sementara suara mesin kendaraan menggema di sepanjang jalan kosong.
Di mobil pertama, Victor menggenggam kemudi erat dengan rahang menegang. Alexander duduk di kursi belakang bersama Hector dan Evelyn. Tubuh wanita itu terbaring lemah di antara mereka, kepalanya bersandar di bahu Hector sementara Alexander terus menekan luka di dadanya. Wajahnya semakin pucat dari menit ke menit. Perban putih di dadanya kembali berubah merah. Darah terus merembes perlahan.
"Sial..." gumam Alexander pelan sambil menekan luka itu menggunakan kain yang hampir sepenuhnya basah.
"Evelyn." panggil Hector lirih.
Namun tidak ada respons.
Napas wanita itu terdengar semakin lemah.
"Berapa lama lagi?" tanya Alexander tanpa mengalihkan pandangan dari luka Evelyn.
"Dua menit." jawab Victor cepat sambil mempercepat laju mobil.
Sementara itu, mobil kedua mengikuti tepat di belakang mereka.
Charles menyetir dalam diam, sementara Isabel duduk di kursi samping dengan pikiran kacau. Di kursi belakang, Luke bersandar lemah dengan wajah pucat. Salah satu tangannya menekan sisi tubuhnya sendiri pelan, seolah berusaha menahan rasa sakit. Namun sejak tadi, matanya tidak pernah benar-benar lepas dari mobil di depan mereka. Isabel memperhatikannya sekilas sebelum kembali menatap jalanan kosong di depan.
Beberapa menit kemudian, kedua mobil berhenti mendadak di depan bangunan rumah sakit yang masih tampak sepi di pagi hari.
Pintu mobil langsung terbuka cepat.
"Tolong! ada yang terluka disini!" teriak Alexander begitu turun dari kendaraan.
Beberapa perawat yang berjaga langsung tersentak saat melihat tubuh Evelyn yang dipenuhi darah. Mereka segera mendorong brankar mendekat.
Hector membantu memindahkan Evelyn dengan hati-hati sementara Alexander tetap menekan luka di dadanya agar perdarahan tidak semakin parah.
"Dia kehilangan banyak darah," ucap Alexander cepat sambil berjalan di samping brankar. "Lukanya cukup dalam, jahitan sementara sudah dilakukan, tapi perdarahannya belum berhenti."
Perawat itu menatapnya sekilas, tampak sedikit terkejut mendengar penjelasannya yang terlalu detail.
"Anda dokter?" tanyanya spontan.
Alexander terdiam sepersekian detik sebelum menjawab singkat,
"...ya."
Tanpa membuang waktu lagi, Evelyn langsung dibawa menuju ruang tindakan.
Suara roda brankar menggema panjang di lorong rumah sakit yang dingin dan sunyi.
Luke turun dari mobil kedua dengan langkah goyah sebelum tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan. Charles segera menahan bahunya.
"Anda juga harus mendapatkan perawatan, tuan" ucapnya rendah.
"Aku tidak peduli." jawab Luke lirih.
Pria itu menepis tangan Charles pelan sebelum kembali mengangkat pandangannya ke arah ruang tindakan. Wajahnya pucat, bahkan langkahnya masih tidak stabil, namun sorot matanya tetap tertuju pada pintu putih di ujung lorong itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Lady Whitmore (ON GOING)
ActionLondon, 1900 Keluarga Whitmore pernah menjadi simbol kehormatan dan kekuasaan. Namun setelah sebuah kecelakaan tragis merenggut kedua orang tua mereka, hanya Antonio dan Isabella yang tersisa. Di mata semua orang, Antonio adalah kakak yang sempurna...
