Kei kembali ke tempat tinggalnya dengan wanita cantik bergaun merah muda dalam rengkuhan mesranya. Mereka memadu kasih dengan panas seketika setelah pintu apartemen tertutup, saling mencumbu dengan penuh gairah tanpa memperhatikan sekitar.
"Apa yang kalian lakukan?" Alona belia menghentikan apa yang mereka perbuat dengan wajah polos tak memahami situasi yang tengah terjadi di hadapannya.
"Siapa, Kau?" tanya Kei terkesiap sekejap dan menyingkirkan teman wanitanya. Kei melangkah mendekati Alona belia yang duduk di sofa memeluk map putih berlogo 'K' besar yang tak asing baginya, logo milik Kingston.
"Perkenalkan, aku El." Jawab Alona dengan tersenyum manis . Ia beranjak dan memanjangkan sebelah tangan mencoba menjabat tangan Kei sebagai salam perkenalan.
Kei hanya menatapnya penuh selidik. Tak jua membalas jabatan tangan Alona belia.
Tangan penuh otot Kei meraih benda pipih di meja yang kini menyala dengan menampilkan kontak King yang melakukan panggilan padanya.
Matanya tetap awas pada gadis di hadapannya yang telah menurunkan tangannya dengan masih tersenyum lebar di bawah pengawasannya.
"Dia anak baru. Ingat jangan terlalu dingin padanya. Dia gadis yang ceria, bukan?" terang King di ujung panggilan dengan tersenyum tipis memastikan apa yang kini Kei lihat.
"Jaga dan biarkan dia mengikuti langkahmu dengan perlahan." Sambung pria itu kembali menjelaskan harus Kei apakan gadis di hadapannya itu.
Semenjak hari itu, hari-hari Kei di penuhi kekesalan lantaran harus hidup berdampingan dengan gadis belia yang harus banyak mendapat bimbingannya dalam organisasi. Entah sudah berapa kali bentakan pria itu berikan pada gadis itu. Namun, hanya senyum lebar yang selalu gadis itu berikan sebagai balasannya. Hingga saatnya tiba Alona belia dengan panggilan El pergi untuk sebuah tugas.
El mengikuti perintah King sang atasan menemui pria tua di sebuah gubuk mungil di pedalaman. Jauh dari kata mewah seperti apartemen Kei. Jauh pula dari hiruk pikuk kehidupan kota.
Gadis belia itu berlatih membidik dengan berbagai jenis senapan.
Dari senapan angin hingga senapan serbu. Membidik target bidang-bidang datar tak bergerak hingga target yang bergerak. Bukan waktu yang sebentar untuk gadis itu menguasai segalanya. Tak jarang lirih tangis di kesunyian ia keluarkan merasa sangat lelah saat ia ingin menyerah dan berhenti. Hanya satu tujuan utama yang membuatnya tetap bertahan. Hingga putaran waktu mengubah segalanya.
Alona belia beranjak menjadi perempuan yang dewasa.
~~
Rumah megah bak di negri dongeng terlihat sangat hangat pagi ini. Kicauan burung liar menambah suasana semakin hangat.
Di salah satu sudut taman yang asri sebuah surat kabar tergeletak manis bersanding dengan secangkir teh herbal yang masih menguap tebal di atas meja taman. Sepiring biskuit warna-warni beraneka bentuk tertata rapi di piring cantik di sampingnya.
Jemari rentan meraih surat kabar dan mulai memilah-milah halaman yang menarik perhatiannya. Berita-berita politik ia abaikan begitu saja. Barangkali pria setua dia tak bergairah akan panggung penuh sandiwara itu.
Ia mulai memfokuskan pada sebuah artikel yang cukup menyita perhatiannya dengan judul 'Seorang wanita terkena peluru nyasar saat makan malam di sebuah cafe mewah.'
Pria tua itu tersenyum tipis dan berlalu pada deretan kalimat terakhir. 'Hingga saat ini belum ada pihak yang bertanggung jawab atas insiden tersebut.' Itu membuat bibirnya menyunggingkan seyum semakin lebar.
Ia lantas menutup dan melipat kembali surat kabar seperti semula. Membuangnya ke tong sampah dengan tersenyum lebar. Kini jemarinya beralih pada tatanan biskuit dan meraihnya satu. Melahapnya tanpa menggigitnya dahulu.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Partner
ActionLuka kehilangan cinta pertama sebagai anak perempuan, memaksa Alona memasuki sebuah organisasi bernama Kingston demi sebuah imbalan akan titik terang di balik kematian sang ayah. Dalam menjalankan misi-misinya perempuan 30 tahun itu harus bersaing...
