Dia Hanya Sang Ahli Bidik.

10 3 3
                                        

Mari bertemu. Aku sangat merindukanmu

Helen mengirim pesan pada El yang tengah mengulum senyum sepanjang perjalanan kembali ke cafe. Sesekali matanya melirik ke arah pria yang tengah fokus pada kemudi.

Aku tak bisa kemana-mana. Datanglah ke cafe.

El membalasnya dengan tetap mengulum senyum.

*

El mengagetkan Thomas yang tengah berkutat dengan hidangan di atas kompornya. Pria itu melonjak seketika hingga alat masaknya terjatuh bebas di lantai. Tawa El meledak seketika.

Kei memukul ringan punggung El. Perempuan itu mengaduh walau punggungnya tak sakit.

"Kau bisa mencelakainya. Pesanan tengah mengantri jangan kacaukan dia."

Perempuan itu memberengut. "Aku hanya menggodanya sedikit."

"Sedikit Kau bilang?" Thomas kini tak kalah meradang. "Aku meragukan keperempuanmu kini. Pasti Kau tak mengerti bagaimana menjengkelkannya saat gangguan datang disaat tengah mengolah bahan di atas kompor. Kau ini perempuan apa bukan?"

"Hanya karena aku tak mengerti dan tak tau soal masak-memasak, bukan berarti Aku bukan perempuan."

"Benarkah?" Thomas semakin melotot.

"Kau tak percaya. Kau bisa melihatnya sendiri!" El membuka kancing kemejanya dengan kasar.

Satu belum lepas, punggung El mendapat pukulan lebih keras dari Kei yang kini semakin tajam menatapnya. "Apa yang Kau lakukan?"

"Dia tak percaya Aku perempuan." Telunjuk El mengarah pada Thomas.

"Jangan sembarangan. Berhentilah! Jangan buat kegaduhan, pelanggan sudah lama menunggu." Kei beranjak meninggalkan kegaduhan itu.

Kekesalan El mereda seketika saat melihat taksi di luar menurunkan si seksi Helen. "Dua orange jus, cepat... " El memukul meja pantry tak sabaran.

Dewi yang semula ingin menyapa El dengan sopan kini bergegas melesat menyajikan apa yang perempuan itu mau.

Dua gelas orange jus lengkap dengan potongan es ditemani sepiring waffle berukuran besar El tata rapi di atas meja kecil pada lantai kamar pribadinya. Helen masih berkutat dengan ruangan serba merah menyala itu menyusuri barang-barang yang ada.

Ia duduk manis di atas kasur empuk El, "sejak kapan Kau begitu sangat memperhatikan tempat menjalankan misimu." Helen menenteng boneka kuma El ke udara tinggi-tinggi.

El menghentikan pencarian baju gantinya dan memilih memperhatikan apa yang Helen pegang. "Ada apa dengan itu?" tanya El yang kembali mengacak almarinya mencari sesuatu untuk mengganti seragamnya.

"Bukan hanya ini, tapi juga itu!" Telunjuk Helen mengarah toples bening berisi ikan komet sekuning bendera partai pemberian Yosi.

El masih belum juga berbusana dengan benar ia masih setengah bugil memilih merespon ucapan Helen. "Apa Kau tak merasa ruangan ini jadi sedikit ada kehidupan dengan ini." El menyentuh dinding toples dengan gemas. "Ini juga sangat lucu. Berenang kesana kemari, ekornya yang menjuntai tampak cantik seperti penari latar."

Helen meledakkan tawa mendengar penjelasan El. "Lalu bagaimana dengan ini? Ini bahkan tak bisa bernapas." Helen kembali menenteng boneka kuma.

"Itu bukan untuk menghidupkan suasana ruangan, itu untuk menjaga kewarasanku. Saat Aku tengah kesal padanya." Ujar El dengan merebut kuma dari tangan Helen menghempaskannya ke lantai, mencekik lehernya dan bersiap meninjunya. "Karena tak mungkin Aku melampiaskan pada orangnya langsung. Maka benda ini yang akan Aku gunakan untuk hal itu."

The PartnerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang