Maaf mulai dari part ini nama Alona sedikit tenggelam ya guys, q ganti dengan El dan Nola.
🌹🌹🌹🌹
Sudah bukan hal aneh jika setiap orang-orang berpengaruh dalam organisasi memiliki nama panggilan lebih dari satu. Alona pun tak luput dari itu. Kini ia harus membiasakan diri kembali dengan sebutan 'El' selama misi berjalan.
Check in El, Haris yang mengurus. Ia hanya mengekori pria jangkung itu berurusan dengan prosedur memasuki hotel.
Tubuh mungil El, terlihat semakin mungil saat berjalan di belakang Haris dan porter manapaki koridor hingga memasuki kamar pesanannya.
Sementara pria jangkung itu sibuk terlibat obrolan pada sang porter yang akan berpamitan, El sibuk mengedarkan pandangan mengamati setiap sudut yang ia lihat.
"Kau bisa beristirahat sebelum rencana nanti malam," saran Haris pada perempuan yang masih sibuk menginspeksi kamar tempatnya tinggal setelah sang porter meninggalkan mereka. Membuka tirai dan mengamati apa saja yang terlihat di depan matanya. Ia hanya mengangguk perlahan tanpa melihat Haris dan mengibaskan jemarinya agar ia di beri waktu untuk sendiri.
Tak banyak bertanya Haris beringsut meninggalkan kamar dengan senyum hangatnya. Ia terhenti sebelum menyentuh handle pintu dan berbalik. "Aku akan membawakan alatmu nanti malam."
El baru memperhatikan pria itu saat 'alat' yang ia singgung. "Baiklah. Hati-hati, aku ingin segera berlibur. Jadi jangan sendat pekerjaanku dengan hal-hal sepele yang berhubungan dengan alatku." Haris mengangguk perlahan mengerti apa yang perempuan itu instruksikan, kini dia benar-benar menghilang dari balik pintu meninggalkan perempuan itu sendiri.
~~~~
Jemari telunjuk lentik dengan cat kuku merah menyala menyusuri mulut permukaan gelas yang lebar. Beberapa buah zaitun terlihat di dasar gelas ia pandang dengan lekat. Wajah manis dengan dandanan yang natural sepadan dengan gaun yang ia kenakan. Gaun berwarna hitam selutut dengan mengumbar bagian dada atas dan punggungnya tampak manis di tubuh mungil perempuan berwajah oriental itu.
Rambut sepunggung lurusnya terikat kuat dan rapi menyisakan beberapa helai di depan. Ia menghidu dan mulai menikmati minumannya perlahan.
"Dry martini," perintah seorang pria dengan brewok tipis dan tubuh gempalnya pada bartender mengalihkan perhatian sang perempuan.
"Maaf, aku tak bermaksud menjiplakmu," terang pria bertubuh gempal itu menunduk hormat pada perempuan cantik di sampingnya merasa ia tengah di awasi sepasang mata beriris coklat itu.
"Ini minuman favoritku," imbuh pria itu dengan menunjukkan gelas miliknya yang tengah diurus sang barternder.
Perempuan itu hanya tersenyum menanggapinya. Merasa memiliki pilihan minuman yang sama, tak butuh waktu lama mereka berdua terlibat obrolan yang mendekatkkan satu sama lain. Obrolan ringan berlanjut dengan obrolan manis khas orang dewasa.
Merasa berada dalam frekuensi yang sama dan memiliki cemistry yang mereka rasa cukup kuat, obrolan berlanjut ke tempat lain meninggalkan area lounge.
Malam berganti pagi.
Terik matahari masuk ke dalam kamar dengan leluasa saat jendela yang terhubung dengan pemandangan lautan luas terbuka lebar. Tubuh pria berbadan gempal pemesan dry martini semalam menggeliat merasa ada yang mengusik tidurnya.
Wanita berambut sebahu melenggang dari jendela menuju meja di dekat jendela, duduk manis dan mulai memotong terderloin miliknya, memasukkan ke dalam mulut mengunyah perlahan dengan anggun.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Partner
AçãoLuka kehilangan cinta pertama sebagai anak perempuan, memaksa Alona memasuki sebuah organisasi bernama Kingston demi sebuah imbalan akan titik terang di balik kematian sang ayah. Dalam menjalankan misi-misinya perempuan 30 tahun itu harus bersaing...
