Memastikan misi selesai sampai usai, sudah menjadi hal wajib bagi setiap anggota dengan misi-misinya. Kei berdiri tegak dengan pongahnya berjarak hanya beberapa meter dari rumah berwarna cat merah muda, dengan mata kepalanya sendiri pria itu memastikan penghukuman Harsono. Mulai dari menyiramkan seluruh bensin pada jerigen keseluruh ruangan hingga mengalungkan kalung berbandul flashdisk berisi hasil penyelidikan. Dengan putus asa mata Harsono terpejam sesaat sebelum menyalakan pematik pada genggamannya dengan gemetar. Api tersulut dalam hitungan detik, seluruh ruangan dipenuhi dengan kobaran api saat itu juga.
Harsono mengedor pintu kamar Lyan dengan sekuat tenaga agar putrinya sadar sesegera mungkin dan menyelamatkan diri.
"Lyan, Lyan. Bangunlah sayang!" seru Harsono di tengah kobaran.
Seruan yang berkali-kali pria itu lakukan akhirnya membuat kedua bola mata Lyan membelalak seketika. Menyadari dirinya tengah dalam bahaya kesadaran Lyan penuh seketika.
"Ayah,"
"Gunakan Aparnya dan cari jalan keluar!" perintah Harsono dengan gusar.
"Ayah, apa yang terjadi? Uhuk..." sesak seketika melanda Lyan terlalu banyak asap pekat menyelimuti kamar, napasnya mulai sesak dan pandangannya hanya ada kobaran api.
"Tak ada waktu lagi, Lyan. Cepat keluarlah dari sini! Kau melihat Aparnya bukan? Ada di sebelah tempat tidurmu." Lyan mencoba mencari apa yang ayahnya katakan disisa tenaganya. "Gunakan itu untuk memecah jendela. Dan carilah jalan keluar!" perintah Harsono lebih lanjut.
"Bagaimana denganmu, Ayah?" seru gadis itu dengan cemas.
"Jangan perdulikan ayah. Jika Kau sentuh pintunya Kau akan terbakar," teriak Harsono dari balik pintu kamar Lyan. "Selamatkan dirimu dahulu!" pungkas Harsono.
Tak banyak berpikir Lyan menuruti apa yang ayahnya perintah, memadamkan kobaran api di area jendela dan memecah kacanya. Tanpa memikirkan bagaimana benda berwarna merah menyala itu berada di salah satu sudut kamarnya, benda itu biasa terpasang dengan kokoh pada dinding dapurnya.
Susah payah Lyan keluar dari kobaran api melalui jendela hingga goresan pada lengan akibat pecahan kaca tak ia hiraukan. Ia harus menyelamatkan diri dari kobaran api yang semakin menjadi.
Merasa sudah keluar dari rumah yang kini berwarna merah menyala, ia berbalik dan mencoba mencari cara untuk membawa ayahnya keluar juga.
Belum sempat Lyan membawa sang ayah keluar, ledakan dari dalam rumah terjadi sedetik kemudian. Tubuh mungil Lyan terlempar dan rubuh di atas tanah. Pikirannya blank untuk sesaat untuk memahami tragedi dalam hitungan detik itu. Tragedi yang melenyapkan sang ayah di balik kobaran api. Jelas di matanya bagaimana sang ayah terlihat tersenyum hangat dan menenangkan dari balik jendela ruang tengah. Di sela kobaran api itu, sang ayah seolah tak ada niatan untuk beranjak menyelamatkan diri.
Tubuh mungil Lyan masih tercekat dengan air bening mengalir deras dari ke dua sudut mata sementara bibirnya bergetar namun tak bersuara. Kedua tangannya mencengkeram tanah kuat.
Di sudut lain Kei tersenyum miring penuh kemenangan menyaksikan akhirnya.
-
Kei belia berjalan mantab dengan wajah pongah memasuki kediaman mewah King. Laki-laki itu mengangguk sopan pada bos besar saat hanya berjarak beberapa meter yang menyadari keberadaannya. Berdiri tegap dengan tangan bersidekap di bawah perut, langkahnya terhenti karena sang bos besar tengah dalam pembicaraan penting dengan tamunya.
"Kau tau pesaingku mulai mengulik masa laluku untuk menjatuhkanku pada pemilihan anggota parlemen tahun depan?" Sang tamu dengan kesal menghentakkan surat kabar di atas meja.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Partner
ActionLuka kehilangan cinta pertama sebagai anak perempuan, memaksa Alona memasuki sebuah organisasi bernama Kingston demi sebuah imbalan akan titik terang di balik kematian sang ayah. Dalam menjalankan misi-misinya perempuan 30 tahun itu harus bersaing...
