Sudah seperti hidangan wajib di pagi hari, surat kabar yang terlipat manis bersanding dengan teh herbal dan biskuit manis buatan Alice tersusun di atas meja taman untuk menemani King memulai harinya.
Jemari penuh kerut King mulai memilah-milah berita sesuai kebutuhannya. Artikel menarik membuat kedua alisnya naik. 'Kebakaran Hebat Pada Laboratorium Milik Tim Research & Development PT. Beauty Menewaskan Kedua Pekerja Ahlinya.' Puas dengan apa yang ia lihat, ia melipat kembali surat kabarnya dan memasukkan pada tong sampah di sebelah kanannya.
Jemarinya beralih meraih flashdisk di samping cangkir teh herbalnya. "Ini data yang ia dapat?" tanya King pada Troy yang masih setia berdiri di sampingnya.
"Ya, Tuan. Dia kemari subuh tadi dengan sisa tenaganya." Jawab Troy dengan hati-hati.
King manggut-manggut mencoba memahami sang pengirim flashdisk.
Orang yang di bicarakan kini tengah menggosok-gosokkan kedua telapak dengan serius. El menatap tajam cup besar di hadapannya berlanjut memperhatikan alat pengukur waktu mundur pada ponsel. Matanya berbinar saat tiba pada angka kosong, ia merogoh saku blazzer meraih benda berbentuk lingkaran elastis yang ia simpan, menggulung rambut sebahunya tinggi-tinggi.
Uap panas mengepul saat penutup cup di tangan ia buka menguarkan aroma khas mie cup pedas. Matanya mengerjab lembut menikmati aroma makanan yang akan membuatnya penuh kebahagiaan saat menghidu.
"Inikah imbalanku?" keluh perempuan manis di sebelah El.
Dress ketat selutut berwarna merah muda membungkus tubuh seksinya dengan rambut bercat coklat bercampur pirang. Semua terasa cocok dengan paduan dandanan natural yang terlukis di wajah bulatnya. Ia masih memberengut karena hanya secup mie instan yang El berikan padanya.
"Hei, bonusku belum turun. Aku akan mentraktirmu makanan enak saat aku dapatkan bonusku. Aku janji." Rayu El pada perempuan berwajah masam itu.
Telapak El terangkat sejajar dengan kepala meyakinkan perempuan di hadapannya. Ia kembali menghidu aroma yang menguar sebelum menyumpit untaian mie panas. Meniupnya berkali-kali sebelum masuk ke dalam mulut mungilnya.
"Ini sangat enak." Sumpit El acungkan pada Helen yang masih memberengut.
"Hal menarik sudah ku berikan padamu. Jika hanya ini yang Kau beri, seharusnya aku tak memberi semua informasi itu padamu." Helen dengan terpaksa menikmati mie cupnya sebelum untaian gandum itu nikmatnya berkurang termakan waktu.
"Perjuanganku lebih berbahaya saja aku belum menikmati hasilnya. Jangan cemberut seperti itu. Aku pasti menukarnya dengan hal menarik," jawab El dengan melebarkan senyumnya paksa.
~~
El bergegas menemui salah satu klinik kecantikan tempat kenalannya bertugas setelah perintah King ia terima. Tempat itu pula salah satu cabang milik Kliennya kali ini.
The Butterfly.
Helen dengan balutan jas putih tersenyum manis melepas seorang klien setelah selesai dengan konsultasinya. Senyum manis menghilang saat matanya menangkap El yang duduk di ruang tunggu melambaikan tangan kepadanya. Ia menanti untuk bertatap muka juga dengan dokter kecantikan itu.
"Apa-apaan Kau ini," ucap El sembari bangkit dan melangkah menuju Helen.
"Aku juga ingin berkonsultasi denganmu. Ramahlah sedikit denganku." El tersenyum lebar dan sukses membuat Helen semakin sebal dengannya.
"Kau bukan klienku, El." Ketus Helen dengan membuang muka dan pergi mengabaikan perempuan itu.
"Masalahmu bukan karena kerutan wajah, jerawat maupun flek. Pasti ada hubungannya dengan misi bukan?" lirih Helen merasa El pasti akan mengekornya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Partner
AksiLuka kehilangan cinta pertama sebagai anak perempuan, memaksa Alona memasuki sebuah organisasi bernama Kingston demi sebuah imbalan akan titik terang di balik kematian sang ayah. Dalam menjalankan misi-misinya perempuan 30 tahun itu harus bersaing...
