*Kepala yang memberat.

9 3 8
                                        

"Tak kusangka, Nola teman seangkatanmu," ujar Keil membuyarkan pikiran Tesla tentang bagaimana pandangan gadis itu terhadap pria semenarik itu di hadapannya.

Tesla yang semula tak peduli dengan pria yang tengah dekat dengan kakaknya, kini ia merasa bodoh mengabaikan tawaran Nola tempo hari. Gadis itu berencana harus memperbaiki semuanya sebelum terlambat.

"Ah, iya. By the way. Thanks banget, udah dibikin repot ama papa," ujar Tesla dengan canggung.

"Ya, itu hanya sedikit bantuan, tak masalah." Ujar Keil dengan tersenyum hangat.

Seteguk dua teguk teh hangat membasahi tenggorokan Keil yang tak kering. Pria itu tak menghiraukan gadis di sampingnya tengah memperhatikan jakunnya yang naik turun. Walau ia menyadari akan situasi itu. Ia memilih tak acuh, membiarkan gadis itu menikmati pesona khas pria dewasa.

"Kudengar dari Nola Kau pandai menggambar," bisik Keil di sebelah telinga Tesla.

Untuk beberapa saat gadis itu merasa sekujur tubuhnya teraliri sesuatu saat getaran lembut menusuk telinganya bercampur aroma parfum milik Keil yang semerbak.

"Bagaimana dengan mural?" imbuh Keil dengan tetap lirih.

"Kurang ajar si Nola, seneng banget sih ngumbar aib orang." Umpat Tesla dengan lirih.

"Bagaimana?" tanya Keil pada Tesla, memastikan gerutuan gadis itu yang bersuara rendah.

"Ah, enggak. Pasti Nola yang ngegosipin gue ke Elo ya? Padahal Gue udah bilang, agar mulutnya dijaga."

"Ah, begitu rupanya. Kau menyimpannya dari papamu juga?" lirih Keil dengan pandangan was-was. "Adikku memang banyak bicara. Sebaiknya Kau harus berhati-hati terhadapnya. Tapi-, apa aku bisa menggunakan kemampuanmu?"

"Maksud Lo?" tanya Tesla lebih lanjut.

"Dinding cafeku ada sisi ruang yang kosong. Jika Kau bersedia, aku ingin Kau menggambar sesuatu yang tengah booming di kalangan anak remaja agar cafeku menarik minat kalangan anak muda."

"Lo belum pernah liat gimana hasil gambar gue, gimana bisa seyakin itu? Apalagi, kalau buat narik target pelanggan Lo. Gue aja nggak seyakin itu."

"Asal konsep dan tema menarik, kurasa itu akan bekerja. Aku akan menyiapkan apa saja yang Kau butuhkan, Kau hanya perlu mengerahkan kemampuanmu. Aku juga akan memberimu uang jajan. Jika Kau berminat tolong hubungi aku segera. Aku akan mempersiapkan semuanya. Kau bisa meminta kontakku pada Nola.

"Jangan sia-siakan kemampuanmu. Ku tunggu kabar baik darimu segera." Terang Keil panjang lebar. "Jangan lama-lama!" Keil kembali berbisik pada gadis itu. Gadis itu juga kembali merasa ada yang mengaliri sekujur tubuhnya.

Tesla mengulum senyum sedetik kemudian setelah terkesiap untuk beberapa saat, ia memandang garis punggung Keil yang menjauh darinya. Aroma maskulin bercampur aroma tubuh alami Keil dari jarak dekat rupanya cukup membuat gadis itu melayang.

Aroma khas pria dewasa yang menggoda.

~

Ucapan terimakasih Hans berikan berkali-kali kepada kedua kakak beradik yang kini telah berpamitan pulang karena malam sudah sangatlah larut. Beberapa potong kue manis sudah berada di dalam kotak berpaperbag biru di tangan Nola. Sudah saatnya mereka berdua meninggalkan rumah megah itu.

Lambaian tangan Hans terlihat sangat antusias mengantar kepergian Keil dan Nola yang perlahan menghilang di balik gerbang berwarna hitamnya.

"Siapa anak-anak itu?" tanya Jesi pada Hans yang kini memasang wajah datar.

Namun, Hans hanya menjawab pertanyaan ibunya dengan tatapan tajam dan senyum mengerikan.

~~

"Tak bisakah Kau kurangi minatmu terhadap makanan?" tanya Keil di sela fokusnya pada laju kendaraan.

The PartnerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang