Sebuah sudut rooftop gedung adalah tempat terbaik untuk mengintai. Jemari El sudah bersiap dengan senapan di tangan. Dalam jangkauan penglihatannya ada seorang pria yang tengah melakukan panggilan berdiri bersandar pada mobil.
"Kau yakin dia orangnya?" tanya El pada pria di ujung sambungan lewat headset bluetooth yang menempel pada telinganya.
"Ya." Jawab pria di ujung panggilan tengah berdiri tegap di sebuah gedung pencakar langit menatap pemandangan kota pada jendela kaca lebarnya.
Mata El memicing sebelah pada scoop ring partner terbaiknya menjalankan misi.
"Kau bisa menghukumnya sekarang juga, hukuman mati adalah harga yang setimpal untuk pengkhianat sepertinya." Sambung sang pria.
"Baiklah." Jawab El singkat dengan senyum semringah, jemarinya mulai mengeras bersiap menekan pelatuk lebih dalam.
Tak butuh waktu lama satu peluru melesat menembus kening sang target setelah tanda laser merah berhenti. Tubuhnya terkapar dengan wajah bersimbah darah.
El menyunggingkan senyum penuh kemenangan. Pria berjas rapi yang sedari tadi berada dalam sambungan panggilan El, ikut tersenyum puas memandang pemandangan siang itu.
"Aku sangat berterima kasih pada Kingston. Akan aku transfer segera pada King."
"Ya, sudah selayaknya Kau lakukan itu. Karena Kingston lah yang akan menanggung segalanya jika sesuatu yang buruk menyentuhmu."
El tersenyum girang melenggang berlalu dengan senjata yang sudah ia simpan di tempatnya.
Pakaian serba hitam yang membalut tubuh mungilnya sangat membuat ia kepanasan. Walau wajah mungilnya terlindungi oleh topi dari sinar matahari. Namun, pipinya memerah karena terik begitu menyengatnya. Menjalankan misi di siang hari terlalu menyiksanya kali ini.
Namun, ada sensasi tersendiri setelah melakukannya.
~~
Pria berbadan besar dengan tato di sekujur tubuh yang tak tertutup tank top terkikih, El menatapnya penuh tak percaya saat ia mengatakan bahwa perempuan di hadapannya itu lucu dan menggemaskan dengan gaya yang berbanding terbalik dengan postur tubuhnya.
Setelah mengutarakan apa maksud kedatangannya untuk bertemu Kei. Perempuan yang terlihat mungil di hadapannya tersenyum semringah memahami situasinya. Dia adalah tangan kanan seorang pengusaha partner Kingston. Ada pengkhianat yang harus dibereskan melalui tangan Kingston.
"Kau tak perlu bertemu Kei. Aku yang akan menjalankan misinya. Itu juga adalah keahlianku," ujar El penuh keyakinan.
Merasa kesal dia dan Kei tak pernah dalam pemikiran yang sama. Pendapat Kei yang selalu berseberangan dengannya, atau kemauannya yang tak terpenuhi akhir-akhir ini. Membuat perempuan itu merasa ia harus mengambil keputusan membereskan satu misi tanpa persetujuan Kei. Ia harus menunjukkan eksistensinya sebagai anggota Kingston.
El menemui sang pengusaha dan menyetujui kesepakatan seorang diri. Ia akan mengeksekusi target di waktu yang seharusnya ia berada di bangku sekolah.
Perempun itu menyelinap pergi sepeninggalan Kei saat mengantarnya ke sekolah. Tertawa renyah penuh kemenangan di balik mobil Kei yang melaju meninggalkannya.
~~
El melenggang meninggalkan area gedung tanpa beban. Memasuki kendaraan bersheet duanya dan menyalakan audio mobil, ikut bersenandung dengan riang dan mulai memacunya dengan santai.
Lapar dan dahaga memaksanya untuk memberhentikan mobil di sebuah area para penjual jajanan yang tengah menjajakan daganganya di sebuah sudut taman kota. Setelah menyemprot tubuhnya dengan parfum dari dashboard mobilnya. Dengan antusias pula penggemar kuliner itu mulai menjajakan lembaran uang sakunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Partner
ActionLuka kehilangan cinta pertama sebagai anak perempuan, memaksa Alona memasuki sebuah organisasi bernama Kingston demi sebuah imbalan akan titik terang di balik kematian sang ayah. Dalam menjalankan misi-misinya perempuan 30 tahun itu harus bersaing...
