Bagian || 33

56.9K 4.6K 68
                                        

Hai.

Jangan lupa ramaikan gais. Vote dan komen yaa ⭐.

Okee.

Sungja.

================================

Happy Reading 📖

Neira sedang melamun dengan Ares yang tertidur di pangkuannya, dia teringat apa yang Bunda Duri katakan.

"Menyesal bukan berarti kamu tidak boleh tertawa lagi, Nduk."

"Kalau kamu diam begini, sama saja kamu juga menghukum orang lain."

Ia tidak pernah berpikir sikapnya yang diam, sama saja menghukum orang lain. Benarkah?

Siapa yang merasa terhukum memangnya? Revan?

Apa benar, sebenarnya ia ingin menghukum orang lain agar sama-sama menyalahkan diri? Ia ingin Revan juga merasa bersalah atas kejadian ini, benarkah itu, Neira?

Neira tidak tahu mengapa dalam hatinya, ia merasa ingin saja bersikap seperti ini. Jadi, bila Neira simpulkan sepertinya ia memang bertindak egois kali ini.

Di dalam lubuk hatinya, ia memang tidak menyangkal semua yang terjadi hari itu adalah kesalahannya. Namun sepertinya, ia juga menolak bersalah sepenuhnya atas kejadian itu, jadi ia mulai mengaitkan dengan segala hal yang bersangkutan dengan hidupnya. Terutama dengan Revan.

Neira sudah terlanjur merasa pernikahannya terasa pedih. Dengan diam tanpa komunikasi, ia rasa cukup untuk mengurangi peluang masalah lainnya muncul.

Pintu terbuka perlahan, Revan lah orang yang berada di balik pintu itu. Ia baru pulang rapat, biarpun kondisinya sedang kacau tapi ia tidak bisa melepaskan tanggung jawab begitu saja.

Revan melirik Neira sekilas, seperti biasa Neira seolah tidak peduli dengan kehadirannya. Sebelum menghampiri mereka, Revan memutuskan untuk membersihkan diri. Takut banyak kuman nakal yang tidak boleh sedikit pun menyapa Neira dan Ares.

Tanpa mengeluarkan sepatah kata, Revan langsung masuk ke kamar mandi di kamar inap Neira itu, sekalian ingin merilekskan badan. Sudah lama dia tidak tidur di ranjang dengan nyaman.

Dengan menghabiskan waktu selama lima belas menit berperang dengan kuman, akhirnya Revan bisa mendekati Neira dan Ares.

"Sini Ares aku pindahin ke tempatnya," usul Revan. Dia mengambil tangan Ares perlahan dan mulai memgangkatnya. Neira bisa semakin pegal bila memangku Ares lebih lama lagi. Perempuan itu harus banyak rebahan.

Selesai memindahkan Ares dan mengecupi pipi bayi laki-laki itu, Revan kembali menghampiri Neira.

"Sudah lebih baik?" tanyanya. Neira mengangguk kecil dan membuat Revan menghela napas kasar. Bisa apa Revan kalau Neira sama sekali tidak mau berbicara dengannya?

"Asyira, bisa tidak kamu jangan diam saja?" tanya Revan sedikit geram.

"Aku masih suamimu," tekannya ketika Neira tidak kunjung menjawabnya. Neira merasa terpancing dengan perkataan Revan.

"Kalau begitu segera urus perpisahan kita," sahutnya datar namun matanya menunjukkan kehampaan.

"Asyira!"

Really, topik ini lagi?

"Apa yang kamu dapatkan dari perpisahan?! Yakin dengan perpisahan bisa membuat kamu lebih bahagia, hah?!" Neira harus jawab apa, dia sendiri pun tidak tahu bagaimana kehidupannya bila berpisah dari Revan.

"Plis, sayang. Bisa kah jangan pernah membawa topik itu dalam obrolan kita. Hanya aku Asyira, hanya aku yang bisa memilikimu."

Kepala Neira terasa pusing karena Revan berteriak terlalu kencang. Kenapa sih pria itu tidak mau melepaskannya?

PARENTS [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang