Happy Reading
***
Tara menautkan kedua alisnya saat melihat Harumi yang baru saja kembali ke kubikel miliknya. Yang membuat Tara bingung adalah ekspresi jengkel yang ditampilkan Harumi setelah gadis itu kembali dari ruangan bos mereka, Billy.
"Kamu kenapa, Rum?" tanya Tara penasaran.
"Gue dimarahin sama pak Billy," jawab Harumi. Ekspresi sebalnya kini berganti dengan ekspresi sedih, bahkan kedua mata Harumi sudah mulai berkaca-kaca.
"Kok bisa? Kenapa?" tanya Tara lagi. Ia menggeser kursinya untuk lebih dekat dentan meja Harumi.
Mendengar pertanyaan Tara, membuat Harumi menangis. "Karena gue gak nyimpen file yang kemaren udah gue edit."
Tara mengangguk, ia mengusap bahu Harumi berniat untuk menenangkan gadis itu.
"Udah jangan nangis," gumam Tara.
"Gue harus edit ulang naskahnya, Tar. Deadline-nya dua minggu lagi," kata Harumi sambil sesenggukan akibat tangisnya.
"Nanti aku bantu edit naskahnya," ucap Tara sambil tersenyum.
Tangis Harumi pun perlahan mereda mendengar perkataan Tara. Harumi mengusap air matanya dengan kasar, lalu menatap Tara dengan mata berbinar.
"Beneran lo mau bantuin gue, Tar?" tanya Harumi memastikan.
Tara mengangguk lagi tanpa melunturkan senyumannya. Harumi pun bersorak senang, lalu berdiri dan memeluk Tara dengan erat sambil mengucapkan terima kasih pada Tara.
"Tara, lo dipanggil pak bos tuh." Seorang karyawan laki-laki yang Tara kenal bekerja sebagai ilustrator di perusahaan mereka tiba-tiba datang menghampiri Tara dan Harumi yang masih berpelukan.
Kedua gadis itu pun melepaskan pelukan mereka dan berdiri dengan canggung karena terciduk sedang berpelukan.
"Oh iya. Makasih, Sen," ucap Tara tersenyum canggung pada Arsen, orang yang tadi memberitahu Tara bahwa gadis itu dipanggil oleh bos mereka.
Arsen menjawab denga deheman sambil mengangguk, lalu ia melirik ke arah Harumi yang berdiri di sebelah Tara dengan wajah sembab akibat tangisnya.
"Cengeng banget lo," ucap Arsen, lalu pergi begitu saja.
Harumi yang dikatakan cengeng oleh Arsen pun tidak terima. Ia hendak meneriaki Arsen yang sudah pergi ke mejanya, tetapi ditahan oleh Tara karena Tara takut teriakkan Harumi bisa menganggu karyawan lain yang sedang fokus bekerja.
"Aku ke ruangan pak bos dulu ya," ucap Tara berpamitan, lalu pergi setelah mendapat anggukan dari Harumi.
***
Tara membuka pintu di depannya setelah mendengar perintah untuk ia masuk. Setelah masuk, Tara kembali menutup pintu ruangan tersebut dan berjalan mendekati bosnya.
"Duduk, Tar," ucap Billy memerintahkan Tara untuk duduk di kursi yang berada di hadapannya sambil terssnyum.
Billy bukan termasuk bos yang galak dan dingin, sebaliknya Billy termasuk bos yang sangat baik dan friendly. Bahkan Billy tidak menerapkan senioritas pada semua karyawannya, karena hal itu menurut Billy akan menjadi pembatas antars dirinya dan juga para karyawannya, Billy lebih senang dekat dengan para karyawannya. Sehingga para karyawannya pun bersikap santai pada Billy, apa lagi karyawan yang sudah lama bekerja di Argantapedia.
"Bapak memanggil saya?" tanya Tara berbasa-basi.
Billy mengangguk, lalu perhatiannya beralih dari laptop di hadapannya ke arah Tara.
"Novel yang judulnya Setelah Senja, itu bagian kamu yang edit?" tanya Billy yang dibalas anggukan oleh Tara.
"Iya, Pak. Sudah hampir selesai saya edit," ucap Tara.
"Penulisnya minta ketemu sama kita, katanya mau ada beberapa bab yang mau dia ubah sedikit alurnya," ucap Billy menjelaskan maksudnya memanggil Tara.
Tara terkejut mendengarnya. Bukannya Tara tidak mau bertemu dengan penulis novel yang ia edit naskahnya, tetapi penulis yang meminta bertemu dengannya ingin mengubah beberapa alur cerita padahal naskah dari novel tersebut sudah hampir selesai Tara edit dan deadline-nya sebentar lagi. Tara kesal, tentu saja jika beberapa alur diubah maka Tara juga harus mengedit ulang dan dilihat apakah naskah novel tersebut layak untuk terbit atau tidak.
"Pak, tapi naskah itu udah hampir selesai saya edit. Tinggal bab akhir, Pak," ucap Tara dengan muka memelas.
Billy menampilkan ekspresi tidak enak, lalu ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ya mau bagaimana lagi, itu permintaan klien kita, Tar."
Tara menghela napas sejenak, lalu menutup mata. Tidak masalah jika penulis ingin mengubah beberapa alur ceritanya, itu hak penulis karena cerita tersebut merupakan karya originalnya, jika saja si penulis sudah mengetik naskahnya sesuai dengan aturan PUEBI dan alurnya pun sudah memenuhi persyaratan. Namun, si penulis dengan karyanya yang berjudul 'Setelah Senja' ini banyak sekali yang harus Tara rombak kalimat beserta tanda bacanya.
"Kalau begini saya gak bisa bantu Harumi, Pak," gumam Tara sudah pasrah. Tadinya jika naskah bagiannya sudah selesai, Tara bisa membantu Harumi.
"Mau bagaimana lagi? Kalau kita menolak pun, kita akan rugi, Tar. Saya tahu kalimat dan tanda baca dari si penulis itu masih agak acak-acakan, tapi alur ceritanya banyak yang suka. Bahkan udah banyak yang nunggu bukunya naik cetak. Ini kesempatan kita," ucap Billy menjelaskan.
Tara mengangguk. "Kapan kita ketemu dia, Pak?" tanya Tara.
"Sabtu besok, di Bright Kafe," jawab Billy yang lagi-lagi dijawab anggukan pasrah oleh Tara. "Jam 10 pagi," lanjutnya.
"Ya sudah. Apakah ada hal lain, Pak?" tanya Tara.
"Ada," jawab Billy. Ia menundukkan kepala sejenak sebelum kembali menatap Tara yang duduk di hadapannya.
"Apa?" tanya Tara.
"Bagas. Apa dia baik-baik aja?" tanya Billy. Ia sangat ingin tahu keadaan adiknya itu. Billy bertemu Bagas terkahir kali saat makan malam bersama keluarganya beberapa hari lalu dan berakhir Bagas yang kembali marah karena dibanding-bandingkan dengan dirinya. Tadinya Billy hendak mengejar Bagas dan memberi pengertian pada adiknya itu maksud dari Papa yang membanding-bandingkan mereka, tetapi Bagas sudah terlanjur pergi dan Billy tidak bisa mengejarnya.
"Dia baik kok, Kak," jawab Tara. Ia mengubah nama panggilan karena Tara dan Billy sepakat jika mereka sedang tidak membicarakan pekerjaan maka Tara tidak boleh memanggil Billy dengan sebutan 'pak'. Tara pun sudah menganggap Billy seperti kakaknya sendiri. Sama seperti Bagas, Tara sudah mengenal Billy hampir lima tahun.
"Syukurlah kalau dia baik-baik aja." Billy tersenyum tipis.
Tara balas tersenyum, ia tahu hubungan antara Bagas dan Billy berjalan tidak baik, begitu juga dengan kedua orang tuanya.
"Dia gak pernah pergi ke kelab malam lagi, 'kan?" tanya Billy lagi.
"Setahu aku, udah gak sejak aku liat Bagas, hmm ... itu ...." Tara berbicara dengan gugup.
Billy terkekeh, ia tahu apa yang akan dikatakan oleh Tara. Iya, Bagas tahu kejadian di mana Bagas terciduk oleh Tara sedang berciuman dengan seorang perempuan di kamar hotel.
"Iya, aku tau apa yang mau kamu bicarain," kata Billy. "Syukur juga dia udah gak pergi ke tempat itu," lanjutnya.
Tara mengangguk menyetujui. Setelah tidak ada lagi yang mereka bicarakan, Tara pun izin pamit pergi kembali ke meja kerjanya untuk melanjutkan pekerjaannya.
Bersambung ....
Vote dan komennya ya. 😁
Sorry for typo :"
KAMU SEDANG MEMBACA
BagasTara [E N D]
Romance[FOLLOW SEBELUM MEMBACA] Bagas Aditya, hobinya sering keluar-masuk club malam bahkan sering kali bermain bersama dengan seorang wanita di hotel. Setelah lulus kuliah belum juga mendapat pekerjaan tetap. Sampai akhirnya seorang gadis bernama Ravanea...
![BagasTara [E N D]](https://img.wattpad.com/cover/270980362-64-k832482.jpg)