~28~

1.5K 155 11
                                        

Bian membuat lingkaran di tanah dengan tangannya. Bibir cemberut senan tiasa terpantri di wajah tampan manisnya itu

"Papa ngambek." Ucap Bian pelan

Melirik kebelakang dimna si kembar sedang menatap nya datar

"papa.ngambek." ulangnya lagi penuh penekanan

"Papa-."

"Ngambek." Ucap Bian sambil menatap sinis para pemuda tampan di belakangnya yang cuman bisa tepok jidat

"Papa maaf. Kan Arza udah bilang papa gak boleh keluar rumah dulu." Jelas Arza yang sedang duduk di kursi taman keluarga Nelson

"Bandel." Sindir Arzi

"Heh heh heh itu mulut nya papa sentil lalu kasih hensenitezer yah." Ucap Bian menunjuk Arzi dengan centong yang hasil nyolong dari Oma Eni katanya pembalasan karena udah ikat dia dua Minggu lalu. Biar di cari-cari

Padahal tinggal beli 😭 maaf Bian lupa Nelson family itu kaya

"Handsanitizer papaku yang gemoy."

"Ohh bagus mulai nasehatin papanya."

"Enggak git-."

"Papa ngambek." Sela Bian, Arzi mengusap wajahnya lelah

Arza tersenyum gemas melihat papanya yang katanya lagi ngambek itu. Mengingat kejadian yang membuat sang papa jadi bertingkah

"papa? Mau kemana."

Arza menatap ayahnya intens dengan bantuan tongkat berjalan menghampiri Bian dengan Arzi di belakang yang bersedekap dada

"Hmm ah papa ada urusan udah lama ini gak keluar rumah kan." Jawab Bian tanpa menoleh pada si kembar yang saling berpandangan

"Gak boleh."

"Hah?." Bian menatap Arza bingung

"Papa gak boleh pergi." Sentak Arza sambil mengambil tas Bian lalu mendudukinya

"Za jangan gitu dong." Ucap Bian mendorong-dorong kecil Arza

"Arza masih sakit. Papa mau pergi gitu aja." Ucap Arzi yang mendekati Bian membawa sang papa untuk berbaring yang tentunya dengan sedikit tenaga

"Apaan zi papa gak mau tidur papa mau hangout huff." Bian kaget menatap Arza yang memasukan sesuatu tadi plus tangannya yang menutup mulut Bian

"Hmpp."

"Papa gak boleh pergi, sekarang mending tidur siang. Kalau papa nakal inget kan hukuman papa yang dulu gimna." Bisik Arza sedangkan Arzi udah moyoy sambil memeluk Bian

Bian berontak tapi tubuhnya yang di peluk membuat Bian tak berdaya dan alhasil menelan obat yang entah apa di mulutnya hasil paksaan Arza

"Hmmpp hahhh hah Arza jangan begitu papa gak suka." Kesal Bian tapi Arza tampak tak peduli dan memilih menepuk-nepuk dada Bian

Kekesalan Bian teurai seiring senandung Arza dan tepukan nya. Menguap kecil Bian Tampa sadar sudah terlelap

"Obat tidur bukannya terlalu berlebihan Za?." Tanya Arzi tanpa membuka mata malah menyamankan diri memeluk sang papa

"Daripada kecolongan lagi. Dan Mark si licik itu mulai bertukar email dengan papa."

"Maerata dan Zuckerberg itu keras kepala. Kita harus lebih waspada para orang gila obsession itu mulai bergerak."

Overprotektif Boy [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang