"Baiklah, kapan misi itu di mulai."
"Jangan terburu-buru nak kali ini siapkan saja dirimu baik-baik." Ucap Abraham dengan pandangan yang sulit di jelaskan si kembar mengepalkan tangannya
***
"Dek"
"Hm."
"Dek."
"Hmm."
"Dek."
"Hmmmmmmm."
"Dek."
Duag
"Sekali lagi manggil, gue gampar yah Lo Zico."
"Astaghfirullah galak amat adek, ugh dahi seksi gue." Zico mengelus kepala menengok ke arah pintu tepat pada Arzi yang datang sambil membawa tas yang Zico tebak bahan buat latihan
"Eoh Papa lagi apa?." Guman Arzi heran menatap ayah nya yang sedang rebahan di sopa tapi bukan itu masalahnya
Melainkan posisi Bian yang nyeleneh dimana kaki nya di simpan di kepala sopa dan kepalanya menyentuh lantai
"Sstt sini zi." Panggil Zico yang nampak bersembunyi di balik sopa satunya, padahal tetep aja keliatan
"Papa kenapa uncle?." Tanya Arzi yang mulai mendudukan pantatnya di samping Zico
"Gak tau sih, tadinya uncle mau tanya kamu." Arzi mengerjapkan matanya berusaha mengingat kejadian yang mungkin membuat ayahnya murung, galau, gundah merana ini
"Nope. Arzi gak tau lagipula kan Arzi baru pulang uncle." Ucap Arzi dia memandang uncle nya heran
"Oh iya ya." Arzi menggeleng ada ada aja uncle nya ini apa karena terus di nistakan papanya yah? Hmm bisa jadi
"Kenapa gak coba tanya papa aja uncle?."
"Gak liat dahi uncle biru." Sinis Zico di tangannya terlihat memegang sebuah batu bata yang di tatap Arzi datar
"Punten itu batu bata buat apa yah." Zico nyengir lantas menyembunyikan batu bata itu di balik tubuhnya
"Moga aja setan lewat kan." Ujar Zico lalu cengengesan Arzi memutar bola matanya malas
"Hahhh." Bian menghela nafas tubuh nya makin merosot kebawah membuat Arzi menggelengkan kepalanya
"Papa kenapa?." Tanya Arzi yang sudah jongkok di samping ayahnya itu
"Arzi sudah pulang. Arza sama Andrew mana?." Tanya Bian celingukan mencari putranya yang lain
"Lagi kegiatan eskul pa." Jawab Arzi lalu mengangkat papa nya untuk di dudukan di sopa
"Ada apa?." Tanya Arzi tangannya senan tiasa mengelus pipi Bian yang sehalus kulit bayi, dalam pikiran nya Arzi berjanji tak akan pernah membuat pipi dan seluruh tubuh Bian sampai terluka
Lupa dia kalau Bian sabuk hitam :')
"Jangan bilang gak ada apa-apa papa." Arzi menatap tajam ayahnya membuat sedikit Banyak nyali Bian ciut
"Hahhh papa rindu kampus zi." Ucap Bian bibirnya tanpa sadar cemberut pipinya mengembung. Arzi terkekeh melihat kelakuan ayahnya sedangkan Zico di sembrang sana nampak sedang ancang-ancang melempar batu bata
"Kenapa sampe nimpuk uncle Zico kalau gitu pa." Bian menaikan sebelah alisnya bingung
"Oh itu mau aja sih hehe." Bian terkekeh lucu menyebabkan matanya menyipit membentuk bulan sabit
Arzi nyengir, bangga dia tuh. Gak tau bangga kenapa mungkin karena berhasil mengembalikan mood papa nya, Zico dia masih emosi
"Ngapain bawa batu bata. Pengen jadi preman?."
KAMU SEDANG MEMBACA
Overprotektif Boy [END]
Novela Juvenil||Ganti Cover||... ||⚠️Murni ideku😚 jangan diplagiat ide itu mahal❤️|| Orang tua overprotektif ke anak ❎ Anak overprotektif ke ayah ✅ "Papa gak boleh makan pedes nanti sakit lagi." "Papa, mulai sekarang arza yang anter jemput, jangan bawa kendaraa...
![Overprotektif Boy [END]](https://img.wattpad.com/cover/267991542-64-k888528.jpg)