~39~

902 73 12
                                        

Bian menghuleng (melamun) menatap tidak percaya pada oknum yang mengendor ngendor pintu rumah nya brutal, sesekali menggaruk pantat Bian cengegesan pada orang tuanya di belakang plus arsen yang memang terbangung

apa apaan ini?

"Kembar ngapain?." Tanya Bian jika kalian tanya kenapa rumah Bian gak ada penjaga itu ada tapi udah tepar kena amuk si kembar

"Apa-apaan ini siapa kalian, tidak sopan jam segini bertamu mana-." Marah Charlotte tertahan saat melihat Bian menaruh jari nya di bibir, kembali memusatkan perhatian ke si kembar Bian membimbing mereka masuk mengabaikan tatapan protes Charlotte padanya

"Duduk, itu nya di taruh di luar yah." Bian cengegesan canggung saat si kembar malah menatap dirinya dalam

Tiba-tiba saja Arzi menangis, Wajah yang pada dasarnya tampan itu terlihat kotor dengan tanah dan keringat air mata senan tiasa mengalir membasahi wajah tampannya itu

Sedangkan Arza mengeraskan wajahnya namun dia nampak lega jangan lupakan baju mereka yang kotor dan jika di lihat lagi wajah Arza pun tak luput dari air mata

Mereka bertiga masih mematung saling bertatapan tiba-tiba saja Arzi menubruk ayahnya dan meraung

"Pa PAPA Unghh~~." Raung Arzi tangisan hebat yang tidak pernah di perlihatkan di susul Arza yang melakukan hal yang sama

"Bian." Charlotte memangil Bian pelan yang mengisyaratkan untuk diam dulu

"Ada apa." Tanya Bian pada si kembar dia cukup kaget dengan kedatangan si kembar pada pukul 3 pagi dengan napas yang terngengah engah, Tubuh kotor dan sedikit luka pada tubuh mereka jangan lupakan cangkul yang mereka bawa itu cukup ngeri

"Kami...." Arza menjeda ucapan nya dan mengeratkan pelukan pada tubuh papa mereka yang sedikit lebih pendek

"Tenang boys." Ucap Bian spontan Charlotte mengigit bibir nya resah

"Bian." Resahnya bahu Charlotte di usap Yuno pertanda untuk tenang

"Kami mengikuti saran mu hiks."

"Kami sudah membongkarnya." Dan setelah mengatakan itu mereka menangis keras masih mengingat apa yang mereka lihat di kuburan sang papa

***Flashback dulu kulit kerang ajaib***

Andrew nampak ragu mereka sudah ada di kuburan Bian dengan peralatan seadanya karena menghindar dari izin Abraham mereka dengan mantap akan membongkar kuburan itu

"Jangan jadi pengecut Andrew."

"Jangan jadi pembohong kembar." Ucap Andrew kesal dia tau kalau hati si kembar sedang tidak baik-baik saja mereka akan membongkar sebuah makam yang berisi orang berarti bagi mereka itu sangat menyakitkan

"Diem jangan ngomong bocah." Ucap Arzi kesal

"Ck."

"Ayok kita mulai."

Mereka berdua mulai mencangkul tanah itu sedangkan Andrew mengamati keadaan sekitar dan kondisi rumah dengan tablet nya

"Kalian butuh bantuan?." Tanya Andrew melihat beberapa kali si kembar mengusap keringat di dahi dan wajah mereka

"Diam gak Lo." Ucap Arzi mengancungkan cangkul nya di balas juluran lidah Andrew, Arzi emosi sedangkan Arza masih fokus mencangkul

Overprotektif Boy [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang