~41~

1.1K 72 6
                                        

Bian pamit tersenyum pada Yuno saat mobil yang ia tumpangi pergi menjauh dari nya, langkah kecil itu menatap tempat sekolahnya dengan diam, Bian tersenyum menatap seorang anak sekolah putih biru dengan lencana tupai di dadanya seragam itu mengingat nya pada seseorang

Menyentuh kepala nya saat pening melanda Bian menggeleng-gelengkan kepala pelan untuk mengurangi sakitnya

"Hahh aggghhrt." Bian mencengkeram rambutnya dengan rintihan kesakitan yang tentunya di pandang aneh oleh orang-orang di sana, namun hebat nya tak ada yang berniat menolong

"BIAN." Arzi berlari menghampiri Bian dia memang memantau Bian saat dari rumah nya sedangkan Arza menatap tajam dan dingin orang yang memandang papa nya membuat mereka menunduk dan langsung kabur

"Aku tak apa, lepas."

"Pap- Bian dengarin Arzi kita harus kerumah sakit."

"Jangan peduliin gue bangsat." Kecam Bian yang masih menunduk sedikit mendorong Arzi Bian melangkah pergi namun tangannya di cekal Arza dari belakang yang memandang papa nya khawatir

"LEPAS." Raung Bian

Bian membuka matanya berniat pergi jika tak di hadang oleh si kembar dengan wajah yang masih memelas dan nampak pucat hati Bian sakit dan panik melihatnya

"Kalian kenapa?." Tanya Bian heboh, si kembar tak menjawab menghela nafas Bian mengambil kedua lengan si kembar yang bingung tatapan khawatir tak pernah luntur dari wajah mereka merasakan sang papa menuntun mereka, menghentikan taksi Bian menyuruh si kembar untuk masuk dengan Bian di tengah

"Kita mau kemana." Tanya Arzi pelan dan bingung hampir saja tak terdengar untung saja Bian sedang fokus menatap kedua anak kembar ini

"Makanlah biasalah." Ucap Bian sambil tersenyum, membuat si kembar makin bingung dan khawatir

Ada apa dengan perubahan mendadak ini?

Setelah sampai di tempat tujuan Bian mengucapkan terimakasih kepada sang supir taksi lalu mengiring Arza Arzi masuk ke sebuah tempat makan sederhana

"Selamat datang di tempat makan favorit." Si kembar terpaku ini tempat makan yang biasa mereka datangin sebelum pindah ke mansion Nelson

"Hiks pa-papa."

"Hahh sudah jangan menangis." Ucap Bian sambil menoyor kepala si kembar

"papa sudah pesan makanan tadi." Ucap Bian saat mereka sudah duduk di pojok masih dengan tempat favorit mereka karena mengarah pada taman pemilik resto ini si kembar tersenyum lalu mengangguk, sedetik kemudian mereka mengebrak meja membuat Bian yang tadi sedang minum jadi keseleo

"Ta-tadi kau bilang apa." Tanya Arza, Bian melotot kesal baju nya basah

"Kau bilang papa tadi." Sembur Arzi juga

"Arzi papa keselek, Iya emang kenapa sih."

"Ini beneran papa kami papa Bian."

"Kalian kenapa sih ini emang papa." Si kembar melemas, senang tak percaya tapi lebih ke bingung sangat bingung

"a-ARZI GAK NGERTI." Teriak Arzi sambil meremas kepalanya Bian yang melihat itu seketika panik

"Arzi kenapa nak." Ucap Bian khawatir

"Jangan jangan bergini Bian." Ucap Arza dengan tangis dan senyum di paksakan

"Jangan berpura pura, jangan buat kami semakin tidak mengerti." Arza menangis dia menelungkup kan kepala pada kakinya

"Kalian kenapa sih." Bian hendak memeluk si kembar namun keduanya menghindar terlalu takut untuk sekedar percaya meski mereka sudah tau bahwa makam sang papa palsu

Overprotektif Boy [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang