~33~

1.5K 178 36
                                        

Bian menatap kosong atap kamar tak menyangka bahwa kebenaran yang selama ini ia cari akhirnya malah berbalik menghancurkan dirinya

Kenyataan bahwa dari awal dia sudah masuk ke dalam drama iblis keluarga Nelson. apakah takdirnya memang semenyedihkan ini?

Apa yang dia perbuat dulu sampai tuhan tega menghukumnya seperti ini

Oh iya dia mantan copet.

"Lozio?." Bian tak bergeming akan panggilan Mark yang sudah berada di samping tempat tidurnya

"Pesta penyambutan di undur besok sore karena sekarang sudah terlalu malam."

"Gue gak peduli."

"Lozio. Aku minta maaf." Bian akhirnya menatap senduh tanpa di perintah air matanya mengalir lagi layaknya rucika

"Kumohon setelah ini jangan membenciku Lazio." Ucap Mark mengusap air mata Bian lembut

"Mark gue salah apa."

"..."

"Tuhan menghukum gue dengan cobaan yang sangat sadis. Kematian bokap nyokap gue dan hidup gue hancur."

Maaf Bian 😭

"Jangan bicara seperti itu Lozio. Kumohon jangan bersedih lagi tidurlah agar besok kau siap, menjadi pengganti dari orang yang sudah mati." Lanjut Mark dalam hati lalu pergi meninggalkan Bian yang masih terikat

"Mba kenapa, kenapa mba jahat ke Bian." Lirih Bian.

Sementara itu di mansion keluarga Nelson si kembar sedang mempersiapkan persenjataan untuk menyelamatkan papa tercinta mereka

"Papa tunggu kami."

**

Bian terdiam saat sedang di dandani layaknya anak balita oleh para maid di sini

"Tuan Bian manis sekali terlihat seperti umur 14 tahun." Ucap wanita yang sudah terlihat tua di lihat dari wajahnya mungki seumuran nenek Mala

"Gak ada anak 14 tahun yang tingginya 174 yah nek."

"Saya 26 dan tinggi saya 176 tuan Bian." Sahut seorang maid yang tadi ikut mendandaninya

"Jangan sok akrab." Kesal Bian

"Hihihi maaf tuan."

"Tapi itu benar dek Bian saya saja tinggi 168." Ucap maid nenek tersebut membuat Bian cemberut emang di sini tuh semuanya kayak Titan pada tinggi gak cwk ataupun cwk semuanya tingginya habisin punya tinggi orang

"Kalian lama sekali menyiapkan bayiku." Marah Vira matanya melotot marah melihat Bian yang sedang duduk masih dengan tangan terikat dan poni yang di kuncir menatapnya datar namun justru terlihat imut di mata Vira

"Jantungku." Sahut Vira lalu berpura-pura pingsan

"Semoga mati beneran." Gumam Bian pelan di tanggapi gelengan maklum maid nenek yang mau melepas kunciran nya

"Nah non Vira adek Bian sudah siap." Sahut maid itu

"Ah baby udah wangi." Vira memeluk Bian erat menggesekkan pipinya ke rambut Bian yang lembut sedangkan sang empunya rambut tampak komat Kamit baca mantra untuk di lepaskan

"Baby sudah siap Ambu?." Tanya Mark yang datang bersama Ferry

"AW manis nya bujang duda."

Overprotektif Boy [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang