~43~ END

2.5K 143 3
                                        

Bian menatap Poto mereka semua dengan mata sembab dan sayu lalu melempar nya hingga hancur. Sejak dia mengamuk tempo hari Bian terus di beri obat penenang hingga Bian merasa lelah sendiri. Mental nya sudah sakit.

Ini sudah sebulan sejak Bian saat itu. Bian sadar dan mencoba merenung akan semua kejadian yang sudah terjadi padanya

Jika kalian tanya Bian depresi iya dia bahkan nyaris gila. Semua ingatan nya perlahan lahan berputar di kepalanya bagai film dokumenter

Bian tak pernah menyangka bahwa dia akan mengalami hal gila sangat gila oleh orang-orang yang sudah dia anggap keluarga

Konflik ayah ibunya dengan Abraham dan yuno. Terjerat oleh obsesi Maerata dan Zuckerberg, Bian lelah dan berharap mati saja

Tapi Bian masih punya Arza dan Arzi, akan jadi seperti apa mereka jika Bian tidak ada. Meski dia sudah pernah mati, mati suri tepatnya dan sempat di kubur itu kejadian yang sangat sangat sangat mengerikan bahkan jika saja Bian tidak ingat akan kedua anak nya dia sudah bunuh diri. Bian trauma. sangat.

"Papa mama. Bian takut." Cicit Bian dia membenamkan kepala nya pada lutut nya

.

Arzi dan Arza berdiri di depan pintu papa tercinta mereka semenjak hari itu papa mereka melarang siapapun masuk ke dalam bahkan makanan pun harus lewat Mamang ojol baru boleh masuk

"Za papa gimana."

"..." Arza diam dia juga bingung apa yang harus dia perbuat.

"Punten paket." Ucap Mamang ojol dengan senyum lima jari dia emang udah langganan hampir sebulan ini mengantarkan makanan pada keluarga kaya ini

Dan ini lah moment yang di tunggu si kembar untuk bisa melihat sang papa.

"Sok mang silahkan di ketuk."

"Punten nya a."

Tok tok tok

"Punten dek. Ini mau paket." Ucap mamang ojol lalu tak lama pintu pun terbuka, dengan cepat si kembar bersembunyi di belakang Mamang ojol meskipun percuma karena tetep aja ketahuan wong badan aja lebih gede daripada Mamang ojol. Si kembar dengan perlahan mengintip guna melihat sang papa yang nampak sangat lelah. Mereka jadi khawatir. Tak ayal Bian menangis semalaman kenapa dia tau Karna tiga Minggu yang lalu mereka (Abraham family) sepakat untuk ngemper beralasan karpet mahal dan mewah 💅. Di depan pintu Kamar Bian.

Katanya takut terjadi apa-apa karna kamar Bian belum di pasang cctv. Hilih alasan memang

"Nuhun mang." Ucap Bian, dengan begitupun Mamang ojol pergi meninggalkan si kembar yang kini tengah berhadapan dengan Bian yang gak kunjung menutup pintu. Pandangan Bian masih begitu takut, lelah, cemas, dan rindu eaaa

Si kembar menatap sang papa rindu eaa "Pa- papa a-." Sayangnya sebelum selesai berdialog pintu di tutup dengan tergesah oleh Bian terdengar seperti di banting. Si kembar kecewa dan pergi ke meja makan karena Oma dari tadi menelepon mereka untuk sarapan

"Hahhhh hahhh huuhuuu. Maaf huks kembar papa gak sanggup. Papa tau kalian gak sengaja terlibat karena mau lindungin papa. Tapi papa takut. Papa emang pengecut."

Arzi dan Arza duduk di kursi makan mereka menatap seluruh anggota keluarga yang kini bertambah dengan Yuno family.

"Bagaimana." Tanya Oma. Si kembar menggeleng pelan membuat semuanya menghela napas lelah oh ada. Mark juga di sana.

"Tadi papa gak langsung tutup pintu sekitar 2 menit."

"Bagus itu kemajuan." Ucap Yuno sedikit senang, tapi Abraham sebaliknya dia merasa khawatir entah sebab apa.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 11, 2022 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Overprotektif Boy [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang