~34~

1.3K 156 28
                                        

Gundukan tanah merah menjadi sebab sebuah kepedihan yang melingkupi jiwa para manusia kejam itu. Menjadi sebuah saksi seorang manusia yang sudah habis kontrak di dunia

Iya tau maaf  :(

Seseorang yang sudah banyak menderita oleh takdir yang melingkupi hidupnya. Seseorang yang selalu membagi kehangatan dan kebahagiaan bagi siapa saja yang melihatnya.

Zico memalingkan wajah tak kuasa menatap batu nisan bertuliskan nama seseorang yang sangat dia sayangi. Di balik kacamata hitam menyembunyikan betapa sembab matanya, menyembunyikan betapa cengeng dan lemah dirinya akan sebuah perpisahan dan kehilangan.

"Andrew ayo pulang." Suara yang tampak tegar itu terdengar memaksa seorang pemuda yang masih saja menangis di atas gundukan tanah itu

"Daddy, papa ku tidak mungkin papa gemoy tidak seharusnya pergi secepat ini. Di-dia belum tau di-dia belum mendengar penjelasan kita, di-di-." Jackson mendekap sang anak yang selama ini terlihat tegar di hadapannya justru menjadi sangat rapuh karena kehilangan sang papa yang selalu dia awasi selama 5 tahun terakhirnya

"Bang, elo ajak Andrew pulang. Dan Drew jangan lupa ada yang lebih berduka dari dirimu." Andrew menatap Zico yang masih memakai kacamata hitam menampilkan bayangan dirinya yang terlihat menyedihkan namun mendengar perkataan uncle nya dia jadi khawatir akan keadaan kedua sepupu kesayangan papa gemoynya

"Arzi Arza." Gumam nya, Zico mengangguk dengan tak rela Andrew pergi meninggalkan makam itu dengan tak rela

Papa gemoy mulai sekarang Andrew yang akan melindungi si kembar untukmu~ batin Andrew tangannya menggenggam tangan sang Daddy erat

Jackson menatap sang anak menepuk pelan pundak nya dan tersenyum saat melihat mata sembab sang putra menatap sayu

"Kita akan menebus dosa kita Drew." Ucap Jackson lalu pergi meninggalkan area pemakaman keluarga itu dengan Riani yang menatap kosong dari dalam mobil

"Sayang." Panggil Jackson namun Riani tak menjawab dia menatap area pemakaman yang semakin tak terlihat itu. Andrew menundukkan kepalanya lalu dengan cepat memeluk sang mommy erat menenggelamkan ibunya dalam pelukan yang sama-sama rapuh itu

"Mommy." Lirih Andrew dan Riani pun menangis dalam pelukan sang putra, Jackson merasa dada nya sakit begini kah akhirnya dia tak tau kehilangan Bian akan menyakiti banyak pihak termasuk dirinya

Bian maafkan aku~

Oma Eni terbaring tak sadarkan diri dengan tangan yang terinpus dan selang oksigen yang terlihat asing terpasang di wajah cantik itu, di samping nya terdapat Abraham yang terlihat rapuh, bahkan kepala keluarga Nelson itupun tak segan mengusap air matanya yang terus berjatuhan

"Eni." Panggilnya membawa tangan sang istri menuju pipinya

"Aku gagal lagi, kita kehilangannya satu anak yang belum bisa kita bahagia kan. Anak dari adikmu Bintang Revana." Tangan kekar itu mengusap wajah Eni lembut

"Bangun lah dan biarkan aku menebus dosa ku Eni." Suara itu terdengar rapuh penuh kesedihan menggetarkan hati siapa saja yang mendengarnya bahwa sang pemilik suara sedang dalam masa berduka yang sangat dalam

Maafkan aku kakek tua~ batin Mark yang menatap dari balik pintu tempat Oma Eni di rawat terlihat dari pakaian nya yang serba hitam dia sepertinya baru dari pemakaian.

"Bian aku akan menyusul mu." Gumamnya lalu pergi dari sana melewati Nizar yang menatapnya datar

.

Zico masih di sana mencengkeram tanah merah itu di tangan nya.

"Bian maafin gue." Zico menatap batu nisan dengan bertulisan nama adiknya itu

Overprotektif Boy [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang