Bian memegang dagu, menggerakkan kaki pendek nya seperti setrikaan sesekali membuang nafas cape.
"HUANJIRRR." Teriak Bian kesal dengan brutal Bian mengendor pintu kamarnya berulang
"ARZAAA APA SALAH DAN DOSAKU SAYANG. BUKA PINTUNYA NAK."
"papa gak lupa kejadian di taman tadi kan. Siapa suruh gelindingan tanah."
Bian mengerang kesal ayolah dia gelindingan di tanah juga karena anaknya yang rasa bapak-bapak itu.
Kalau saja anaknya tidak memerintah ya untuk tidak berlari di taman munkin Bian tak akan kesal dan berakhir dengan menggelinding di tanah, maksudnya sih agar si kembar kesal eh berakhir di hukum
Gak like Bian tuh
"Iya papa MINTA MAAF gak main tanah lagi. Puas. ARZIIII WEHH BUKAIN PINTUNYA." Ucap Bian dengan nada sing a song nya
"Kuncinya migrasi pa."
"Migrasi Pala mu gundul Arzi." Bian ngambek memutuskan untuk merebahkan dirinya di ranjang menegadah melihat langit kamarnya sambil berpikir.
"Gue harus keluar dari sini."
Hening. Membuat si kembar yang berada di luar saling bertatapan heran
"Papa?."
Bian tak menjawab, dia kesal sungguh kesal sampai rasanya pengen makan orang aja. Mana gak ada Zico lagi kan dia gak bisa melancarkan aksi mari membully Zico dan ini Nelson Familly kemana sih kompakan banget musuhan sama dia nya, pake ngilang segala lagi
"Pa? Papa." Panggil si kembar lagi
"Hahh orang yang ada hubungin sedang sibuk silahkan hubungi beberapa jam lagi sori your bapak sedang galau plis kenek cek." Gabut Bian, terdengar si kembar tertawa di balik pintu
"Baik papa mimpi indah." Bian mendengar langkah kaki menjauh langsung bangkit mencari ide.
"Yeah twins nice dream?." Gumam Bian tersenyum lebar menatap catatan kecil di tangannya
"Baik mr. Brain saatnya mencari ide." Ucap Bian sambil mengetuk kepalanya
Bian menatap sekelilingnya lalu bersamaan dengan cahaya yang menyorot wajahnya Bian menemukan ide
"BALKON." teriaknya ceria
.
"Bagaimana perkembangannya." Ucap seorang yang tak lain adalah Arza.
"Sejak terbunuhnya Jeffrey dan misi Rusia Maerata belum bergerak kembali."
"Bagus, terus awasi pergerakan mereka."
"Lalu Zuckerberg?."
"Gue denger mereka sedang mengirimkan mata-mata tapi itu masih belum pasti Dan gue masih belum tau apa yang menjadi ketakutan terbesar Daddy pada Zuckerberg sekarang, tapi ada satu infomasi yang gue dapet dari babu gue."
"Naon cenah?."
"Zuckerberg mengincar papa gemoy namun entah untuk apa, kemungkinan terbesar ada sangkut pautnya dengan Marco."
"Papa sebenarnya apa yang kau lakukan di masa lalu." Arza mengusap wajah lelah, papa nya itu bagaikan magnet semua hal berbahaya selalu saja datang pada papa kecilnya itu.
"Za Apa sebenarnya di balik ini semua bukan salah papa gemoy."
"Maksudmu? Ada orang lain yang menjadikan papaku tumbal?."
"Mungkin saja."
"Brengsek tapi siapa?."
"Za mungkin gue lancang, bagaimana jika orang lain itu ternyata bukan orang lain."
KAMU SEDANG MEMBACA
Overprotektif Boy [END]
Fiksi Remaja||Ganti Cover||... ||⚠️Murni ideku😚 jangan diplagiat ide itu mahal❤️|| Orang tua overprotektif ke anak ❎ Anak overprotektif ke ayah ✅ "Papa gak boleh makan pedes nanti sakit lagi." "Papa, mulai sekarang arza yang anter jemput, jangan bawa kendaraa...
![Overprotektif Boy [END]](https://img.wattpad.com/cover/267991542-64-k888528.jpg)