Kenzie's POV
.
.
Seminggu yang lalu
.
.
.
Tak terasa sudah pagi, sinar matahari dari jendela menyilaukan mataku dan membuat aku terbangun. Aku tertidur di ruang tengah karena tadi malam aku begadang sambil membaca novel. Hanya cara ini yang dapat menjernihkan pikiranku.
Kulihat sudah jam 9 tepat, berarti sudah terlambat untuk pergi ke sekolah. Akhirnya aku memutuskan untuk bolos lagi. Jujur saja baru kali ini aku bolos sekolah.
Aku merasa sangat bersalah karena mengusir Rey, padahal aku yang memberikan tawaran agar dia tinggal di sini. Dia juga banyak membantuku dan memberiku perhatian. Apakah dia mendapatkan tempat untuk menginap? Itu yang selalu kukhawatirkan.
Aku selalu teringat bagaimana dia tersenyum ramah. Atau bahkan saat dia memasak di pagi hari. Masakannya benar-benar enak. Dia juga pandai bersih-bersih, dan membereskan semuanya, sedangkan aku saja tidak tau cara menggunakan mesin cuci.
Aku sudah terbiasa sendirian, akan tetapi setelah Rey pergi rasanya rumah ini benar-benar sangat kosong dan hampa. Semua ini mengingatkanku pada saat aku berada di loteng rumah. Begitu dingin, sepi , dan gelap. Padahal aku sudah terbiasa dengan semua ini, tapi saat ini rasanya benar-benar menyedihkan. Apa yang salah denganku?
Tiba-tiba dadaku rasanya sesak, dan tak terasa air mataku mulai mengalir. Aku dengan cepat menghapus air mataku. Mencoba meyakinkan diriku, aku tidak boleh menyesal atas keputusan yang ku ambil.
Karena Rey tidak akan pernah kembali, dan aku harus mulai dengan hidupku yang seperti semula. Tapi hatiku rasanya hancur, aku ingin berteriak dan lari sekencangnya untuk meraihnya kembali. Aku tak pernah merasakan hal ini sebelumnya, perasaan aneh yang menyakitkan ini.
Apakah ini yang disebut rasa cinta? Seperti yang biasa kubaca di novel.
Tak kusangka ternyata cinta yang sebenarnya itu semenyakitkan ini. Cinta bisa begitu menyenangkan tapi juga menyakitkan. Baru kali ini aku merasakan hal ini.
Jadi Rey adalah cinta pertamaku, dan banyak sekali cinta pertama yang tak terwujud, itu yang kuketahui dari novel yang pernah kubaca.
Sungguh menyakitkan, tapi aku tidak ingin melupakannya. Walau singkat tapi keberadaan Rey sangat berarti untukku.
.
.
Entah ini sudah berapa hari aku mengurung diri. Aku bahkan sudah lupa ini hari apa. Kulihat kalender ternyata sudah hari Senin saja, kemungkinan aku sudah bolos sekolah lebih dari seminggu. Ternyata cukup lama.
Tapi aku takut, untuk pergi ke sekolah. Aku takut melihat Rey dan tiba-tiba aku menangis di hadapannya. Ternyata aku benar-benar seorang pengecut. Aku selalu menghindar dari semua permasalahanku, dari dulu juga begitu.
Aku takut diriku sendiri tersakiti, karena itu aku sampai melarikan diri ke sini. Aku tidak bisa menghadapi ayahku, adikku, dan orang lain di sekitarku. Sekarang pun aku melarikan diri dari Rey. Sungguh benar-benar pengecut.
Hari demi hari terlewat begitu saja dan terasa kosong. Kulihat jendela yang gordenya menutup hampir keseluruhan, dari sela kecil itu terlihat jika hari sudah sore.
Biasanya jam segini waktunya pulang sekolah, aku dan Rey berjalan untuk pulang bersama kalau dia tidak sedang latihan basket. Sepanjang perjalanan dia terus tersenyum dan bercerita banyak hal tentang temannya dan kegiatan klubnya.
Aku selalu berpikir enaknya memiliki banyak teman, seperti Rey.
Kenapa aku selalu teringat Rey? Dia selalu memenuhi pikiranku setiap saat, walapun aku sudah mengalihkan perhatianku dan membaca buku sebanyak ini. Akhirnya tetap saja aku tidak bisa menahan air mataku dan mulai menangis sendirian.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Dearest Boy [BL]
Storie d'amoreRey, cowok yang bertampang preman tapi sangat jago dalam pekerjaan rumah tangga, misalnya memasak dan bersih-bersih. Keahliannya yang lain yakni bermain basket. Saat akan masuk SMA, Rey bertemu dengan Kenzie anak orang kaya raya yang tidak bisa...
![My Dearest Boy [BL]](https://img.wattpad.com/cover/250813298-64-k779904.jpg)