Bima's POV
.
.
.
.
Yang bener aja!! Prediksi gue salah selama ini.
Sekalipun gak pernah gue merasa kalo Rakha naksir gue.
Karena ya kehidupan gue se kamar sama dia flat aja. Malah dia yang sering ngalah ngadepin gue.
Gue juga sering siksa dia. Maksa ikutan main basket lah!
Pake barang dia seenaknya. Sabun, parfum, detejen, sama kebutuhan lain gue juga sering minta ke dia.
Ternyata selama ini kalo dipikir gue nyebelin juga. Anjirr napa jadi ajang intropeksi.
Kelanjutan habis nembak gue semalem ga ada sama sekali. Malah kita keluar makan nasi goreng terus balik, ngantuk, tidur.
Udah gitu doang!
Sampe pagi ini ya ga ada yang berubah. Jangan-jangan gua kena prank nih!
Tapi April mop udah lewat.
Ultah gua juga bukan kemarin.
Biasanya pikiran gue gak pernah sepusing ini. Cuman gegara satu manusia ini. Hidupnya gak ketebak.
"Yok ikutan lari!", ajak Rakha yang keluar dari kamar mandi. Top less, cuman pakai celana pendek. Bilang aja kalau mau pamer roti sobeknya.
"Hoamm~ masih ngantuk. Di luar masih gelap juga! Ogah ah!", jawab gue yang lanjut scrolling hp sambil goleran di kasur.
"Ngantuk ya tidur! Ga main hp!"
"Rakha!!"
"Heum?"
"Lu lagi prank gue?"
"Enggak sih."
"Lah kemarin apaan?"
"Yang mana?"
"YAHHH YANG LU NEMBAK GUA!!!"
"Ohh! Bukan prank sih!"
"Ohh gitu! Haa!! Gegara lu ga bisa dapetin kak Evan, lu jadi ngincer gue?"
"Bisa jadi."
Asli gue ga habis pikir, jadinya gue cuman pelampiasan aja gitu?
"Dahlah gue males bahas!"
Gue lanjut goleran sambil fokus ke hp. Tiba-tiba Rakha duduk di pinggir kasur, terus ambil hp gue.
"Woiii hp gua!!"
"Awalnya emang gitu Bim, tapi sekarang gue bener-bener suka sama lu."
Rakha sama gue cuman diem.
Baru pertama kali ini, dan gue gatau harus gimana. Baru pertama kali ini, otak gue ga berfungsi semestinya.
"Terus... Lu pengen pacaran sama gue?",tanya gue.
"Kalau lu mau.",jawab Rakha sambil senyum tipis dan ngelus kepala gue.
Ahhh... Gue gatau kenapa.
Tiba-tiba air mata gue ngalir, hah!! Sejak kapan gue terakhir kali nangis?
Emang ada ya manusia lain yang bener-bener cinta sama gue? Selama ini gue gak pernah percaya yang namanya cinta.
Lebih tepatnya gue gamau menyesal karena mengharapkan cinta dari manusia lain.
.
.
.
Author's POV
.
.
.
Asal-usul Bima tidak jelas, dia dibesarkan di sebuah panti asuhan. Dari kecil, Bima memiliki kepintaran yang luar biasa.
Hingga ada pasangan konglomerat yang ingin memiliki anak datang ke panti asuhan.
Pasangan itu memilih Bima untuk diadopsi. Hanya karena dia anak yang berprestasi.
Tentunya Bima sangat bahagia memiliki keluarga baru yang berkecukupan. Dia disanjung, diperhatikan, dan apapun yang dia mau dikabulkan.
Hingga pasangan itu memiliki anak kandung. Bima seakan dilupakan.
Jika sejak awal seperti ini, lebih baik tak perlu memberi kasih sayang.
Itu hanya harapan palsu.
Bima membuang semua perasaan, cinta, harapan, dan lebih berfikir logis.
Dia memendam semuanya, dan lebih memilih tinggal di asrama sejak SMP.
Saat itu, dia berfikir tak punya keluarga. Dia tidak percaya siapapun, baginya orang-orang itu hanya donatur di kehidupannya.
Semua pencapaian dan prestasi Bima pun tak pernah diapresiasi. Hanya sia-sia, tapi Bima berfikir logis untuk tetap melanjutkan hidup untuk dirinya sendiri.
Hingga akhirnya di SMA dia bertemu dengan Evan dan Sean.
Evan memang galak dan suka kesal dengan kelakuan Bima.
Tapi di sisi lain Evan sangat peduli.
Di suatu ketika, saat Bima sakit. Evan diam-diam meletakkan obat, roti, dan susu di loker Bima.
Bima yang mengetahui itu, mulai berharap lagi pada manusia.
Sean selalu memuji kepintaran Bima. Sebagai kapten dikala itu, Sean mengandalkan Bima sebagai ahli strategi. Apapun yang direncanakan Bima, Sean sangat mempercayainya.
Sean dan Evan lah yang mulai membuat Bima membuka perasaan yang telah di pendam sejak lama.
Selama di panti asuhan maupun asrama, semua teman Bima menganggapnya aneh.
Bima hiperaktif, sering ngelantur hal aneh, pikirannya out of the box. Tapi Rakha tidak pernah menggapnya aneh. Mungkin dia menggapnya lebih ke unik.
Rakha yang awalnya tertarik dengan kak Evan pun mulai beralih. Hidup Rakha yang flat, berubah seperti menaiki wahana rollercoaster.
Karena itu, dia menurut saja saat dipaksa mengikuti klub basket. Karena apapun yang dilakukan dengan Bima terasa menyenangkan.
Rakha juga memilki permasalahannya sendiri.
Dari awal Rakha memang suka sesama jenis. Saat di SMP dia suka dengan kakak kelas, dan akhirnya berpacaran.
Tapi hubungan itu berakhir dengan buruk. Padahal mereka saling suka, tapi saat hubungan mereka ketahuan.
Hanya Rakha yang di salahkan.
"Frey, kalau semisal gue suka sama cowok gimana?",tanya Rakha pada saudara kembarnya.
Rakha memiliki saudara kembar yang non identik, dia sering dipanggil Frey. Karena dia tidak suka di panggil Riki.
"Terus?? Gimana lagi! Kalo suka yaudah! Gimana pun lu kan tetep Abang gue.",jawab Frey yang selalu ada di pihak Rakha.
Saat semua menyalahkan Rakha, cuman Frey yang bener-bener percaya kalau itu semua bukan salah Rakha.
Walau Rakha dan Frey kembar mereka sangat bertolak belakang.
Rakha anaknya kalem, pendiam, berprestasi, dalam atletik bagus, dan banyak lagi.
Frey itu ga pinter, kocak, jail, sering tantrum, suka otak-otik barang, suka baku hantam, dan banyak hal lain yang meresahkan.
Sifat Bima dan Frey hampir sama. Karena itu, Rakha tak pernah menggap Bima aneh. Justru dia merasa nyaman sekamar dengan Bima, walaupun sering terusik dan direpoti.
"Kak Rakha!! Gimana sekolah di SH pasti seru kan ya!",cletuk Frey saat mereka liburan di rumah.
" yah begitulah, sekarang gue lagi naksir temen sekamar.",balas Rakha.
"Lahh!! Udah ga sama kaka kelas lagi?"
"Enggak!"
"Oh Iyah kak Rakha! Gue lagi naksir cewek di sekolah lu! Bantuin gue dong!!"
"Heumm... Boleh aja. Suka siapa?"
"Namanya Erika, kelas 1 sih kak."
"Ohh!!!"
Frey tinggal di rumah sedangkan Rakha tinggal di asrama. Walaupun jarang bertemu, mereka tetap akrab dan sering bercerita satu sama lain.
.
.
.
Rakha bingung tak tau harus bagaimana, saat melihat Bima yang mulai menangis.
Yang dilakukan Rakha hanya mengutarakan perasaannya.
"Bima! Oii Bim!!"
"Hikss... Ha?? Apaan sih?"
"Gue boleh cium lu gak?",tanya Rakha dengan santuynya.
Pacaran aja belum, minta nyosor aja!
Bima hanya diam sambil terisak tangis. Rakha berusaha menenangkan dan menghapus air mata Bima dengan lembut.
Jari-jemari Rakha mulai menyentuh bibir Bima. Spot yang selama ini sangat ingin dia rasakan.
Rakha semakin mendekatkan wajahnya, dan mengecup bibir Bima dengan ringan.
Melihat reaksi Bima yang terkejut setelah dicium membuat Rakha tergoda. Sungguh menggemaskan batin Rakha.
Senyum tipis Rakha tak dapat dihindari, membuat jantung Bima berdegup kencang.
Perasaan sesaat saat bibir mereka saling bersentuhan, membuat Bima penasaran.
Rasanya baru pertama kali ini.
Bima merangkul leher Rakha lalu menariknya mendekat hingga bibir mereka saling bertemu kembali.
"Aghmm.. hmm. Ahm..."
Kali ini bukan sekedar kecupan, tapi mulai ke ciuman yang lebih panas dan ganas.
Hasrat yang selama ini dipendam oleh Rakha akhirnya bisa terlampiaskan.
"Ahm.. ahh... Hmm..."
Lidah mereka saling bergulat, seakan ingin menerobos lebih jauh.
KRINGG KRINGGGG!!!!
Alarm pagi pun berbunyi, membuat ciuman itu berakhir. Bima melepaskan tanganya, dan Rakha mulai berdiri tegap.
Bima baru tersadar, dan bingung dengan apa yang barusan dia lakukan. Ternyata sensasi berciuman tidak seburuk yang dia kira.
Perasaan yang aneh, bercampur aduk, jantung yang berdegup tak karuan, hahh!! Sangat sulit untuk dinalar otak Bima.
"Gue mau lari dulu!",ucap Rakha yang baru saja memakai hodie dan melangkahkan kaki keluar.
Sedangkan Bima hanya diam duduk di kasur seperti orang bodoh.
"Hahh!! Yang bener aja woi!!! Seengaknya tanggung jawab kek!! Malah gue ditinggal! Sialan di Rakha!!!"
"Seenak jidatnya nembak!! Seenaknya nyosor!!! Seenaknya kabur!!! Sialan!! Awas aja kalau ntar balik!!!"
.
.
.
Di sekolah
Jam istirahat
"Wah kak Bima! Ada apa kak?",tanya Reynand yang melihat Bima berdiri dengan serius di depan kelasnya.
Tentunya dia sedang menunggu Reynand, adik kelas yang pacaran sesama cowok. Karena dia bingung dan tak tau lagi harus apa. Ini pilihan terakhirnya, yakni meminta keterangan ke yang berpengalaman.
"Sini ikut gua!",titah Bima yang masih sok serius.
Reynand hanya menurut saja, dia kira Bima akan membahas strategi permainan basket yang baru.
"Siap kak Bim!",sahut Rey yang ikut sok serius dan mengekor di belakang Bima.
Singkat cerita, Bima menceritakan semuanya ke Reynand di belakang gedung D. Tentunya Rey bingung harus menanggapi seperti apa, dia bukan ahli memberikan solusi percintaan.
Hingga akhirnya Rey teringat sosok Erika yang selama ini menjadi konsultan percintaannya.
"Ohh gini aja kak Bim!! Konsultasi ke Erika aja, temen gue sekelas. Dijamin beres!",ucap Rey dengan percaya diri.
Sepulang sekolah Erika, dan Bima bertemu di Jeje cafe dekat sekolah.
"Halo kak Bima! Kenalin aku Erika! Konsultasi perbeeelan, BXB, buka 24 jam gratis!!! Tanpa biaya pendaftaran! Eheheh!!!", sahut Erika yang sudah sangat excited dengan cerita-cerita per beelan.
"Yah, salam kenal Erika! Kamu temennya Rey. Kalau enggak salah kamu sering liat pertandingan basket kita!",balas Bima yang ikut excited.
"He'em!! Aku sama pacarnya Rey sering nonton pertandingan kalian!! Keren banget!",ucap Erika sambil mengacungkan jempol.
Tak terasa obrolan mereka pun mengalir dengan sendirinya. Erika pendengar yang baik, sehingga Bima bisa bercerita dengan leluasa.
Diam-diam Erika adalah penulis novel BL, tentunya dia butuh refrensi cerita dari cowok-cowok di sekitarnya. Istilahnya saling menguntungkan, Erika bisa memberikan saran hubungan sekaligus mendapatkan bahan asupan cerita.
Dari jauh mereka terlihat asik mengobrol, hingga ada seseorang dengan mimik yang marah menghampiri.
"Erika!!! Siapa cowok ini!!",sahut seseorang yang merangkul Erika dari belakang.
Erika dan Bima kaget dan terdiam.
"Apaaan sih!! Freyyy!",sewot Erika yang langsung menghempaskan tangan si cowok di belakangnya.
Erika berdiri dan menghadap cowok itu dengan muka yang kesal.
"Lagian kamu selingkuh sama cowok lain!",balas cowok itu dengan muka sok sedih.
"Aghhh!!! Gue gak selingkuh!! Lagian kalo gue sama cowok lain apa peduli lu!! Kita kan bukan pacaran beneran!!!",tegas Erika.
Tapi cowok itu membuat wajah sok cemberut dan dengan cepat memeluk Erika di hadapan Bima. Seakan memberikan tanda kalau Erika adalah miliknya.
Dengan lekat cowok itu memperhatikan Bima dengan tatapan tajam.
"Ahhh!! Lu kan temen sekamarnya kak Rakha!",ucap cowok itu dengan tatapan yang berubah dratis menjadi ramah.
"Hah kak Rakha?? Lu adeknya kak Rakha?? Gadaa mirip-miripnya??",tanya Erika yang sudah terlepas dari pelukan cowok itu.
"Yaiyalah, gue sama kak Rakha kan kembar non identik.",jelas cowok itu.
Akhirnya mereka duduk santai bertiga dan saling mengobrol.
"Kak Ipar gue dong ini!!",sahut cowok itu kek Bima dengan senyum menggoda.
"Bener sih lu gada miripnya sama Rakha!",balas Bima spontan.
"Kakak ipar! Kenalin gue Riki tapi panggil aja Frey! Adeknya kak Rakha yang paling baik, cakep, dan rajin menabung!"
Erika yang mendengar itu langsung bergidik geli. Amit-amit batinya.
"Okay Frey, tapi gua bukan kakak ipar Lo!",sahut Bima yang masih heran. Gimana bisa kakak adek kembar ini punya kepribadian yang jauh beda.
Bima juga heran bisa-bisanya dunia sesempit ini, sampai bertemu dengan adiknya Rakha.
"Katanya kak Rakha, dia udah nembak lu! Pastinya diterima dong!! Ntar kita bisa double date! Yakan Erika!",ucap Frey lalu menoleh ke Erika yang udah mulai ilfeel sambil melipat tangannya.
"Dihhh ogah!",balas Erika.
"Terima aja kak Rakha! Dia itu act of service banget! Baik, perhatian, rajin, beuhh idaman pokoknya!",usaha Frey untuk promosiin kakaknya.
"Iyah kak Bim!! Terima aja! Perasaannya kak Bima itu, mungkin karena suka kak Rakha!",dukung Erika yang ingin mendengarkan asukan couple baru.
.
.
.
Setelah menemui Erika dan Frey, Bima kembali ke asrama saat hari akan malam.
Bima masuk ke asrama, dan di sambut Rakha yang baru selesai mandi. Masih terlihat segar dan rambutnya masih basah.
"Bim! Lu habis ketemu adek gua?",tanya Rakha sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Tentunya dua bersaudara kembar ini selalu gercep update info satu sama lain.
"Gue heran, lu kok bisa punya adek kayak gitu.", review jujur Bima.
Nyatanya Bima gak kalah aneh dari Frey. Sesama manusia aneh tak perlu saling menyinggung.
"Ntahlah.",balas Rakha yang jalan mendekat ke Bima.
Ntah kenapa tiba-tiba Bima refleks menjauh. Wajahnya memerah mengingat kejadian kemarin, ciuman yang bergairah.
"Apaaan sih!!! Sono lu!"
"Gue cuman mau lewat."
"Besok lu ikut latihan basket?",tanya Bima mengalihkan topik.
"Gue ada persiapan lomba lari, jadi enggak bisa."
"Lu mau berhenti main basket?"
"Lagian pemainnya sekarang banyak, bukanya gue udah enggak guna?"
"Serah lu!!"
"Bim! Jujur gue dulu main basket karena tertarik sama kak Evan.",ungkap Rakha serius.
"Gue tau kok.",balas Bima yang sudah tau faktanya, tapi tetap terlihat kecewa.
"Mungkin, gue enggak suka main basket. Tapi..."
Bima menahan ucapannya dan mendekat ke hadapan Bima, mereka saling bertatapan dengan wajah serius.
"Apa? Hah?",tanya Bima serasa menantang.
"Tapi ngikutin ide gila lu selama pertandingan itu... Asik juga.",jawab Rakha sambil memeluk Bima.
"Sikap lu yang aneh, ide gila luar nalar, tingkah kayak bocah, semua gue suka. Gue bertahan di basket mungkin karena gue penasaran, apa taktik yang bakalan lu buat. Plot twist apa yang nanti bakalan gue dapet."
"Gue mau keluar dari basket Bim. Karena niat gue main basket dari awal udah salah. "
"Dasar!! Penghianat!!",sentak Bima yang mendorong tubuh Rakha sampai terjatuh.
Setelah itu, Bima langsung berlalu keluar asrama.
.
.
.
"Plissss!!! Izinin gue nginep di sini semalem aja!! Yaaa dek Reynand, kapten basket Ter jago sepanjang masa.",mohon Bima yang sudah banjir air mata.
"Kak Bim! Gue aja numpang di tempatnya Kenzie.",Rey bingung harus bagaimana.
"Boleh kak Bima, silahkan masuk. ",sahut Kenzie yang berdiri di belakang Reynand.
"HUWAA GUAA GA BERMAKSUD DORONG RAKHA!! KALO MISAL DIA CIDERA GIMANA? DIA KAN ADA LOMBA HUWAAAA!!!!!"
"Jadi intinya kak Bima tengkar sama kak Rakha, gegara kak Rakha mau berhenti main basket?",tanya Rey selaku kapten saat ini.
Bima hanya mengangguk-angguk sambil berusaha menghentikan tangisan.
"Aku tidak sangka kak Bima dan kak Rakha bisa bertengkar. Apa mereka pacaran?", bisik Kenzie ke Rey.
"Ehmm! Bisa aja Ken!",jawab Rey mengangkat bahu.
.
.
.
Keesokan paginya Bima melihat Rakha sedang duduk bersama Erika di taman sekolah.
Si Rakha yang pendiam, tak terlihat pendiam saat bersama Erika. Membuat Bima curiga, kalau Rakha sudah beralih ke Erika.
Padahal Erika dan Frey sedang dalam misi mencomblangkan Rakha dan Bima. Tetap saja jiwa fujoshi milik Erika selalu membara jika ada pasangan baru.
Jadi intinya saat ini Rakha sedang berkonsultasi ke Erika.
"Yah pantes lah kak Bima marah!",sentak Erika ke Rakha.
"Mau gimana lagi?",tanya Rakha resah.
"Eumm... Kak Rakha lanjut aja main basket. Lagian selama pertandingan kak Rakha sama kak Bima di lapangan keliatan seneng, kan sayang kalau kak Rakha keluar. Apalagi sekarang yang kelas tiga tinggal kak Rakha sama kak Bima. Ga kasian kak Bima apa? Tega banget.",omel Erika yang membuat Rakha pasrah.
.
.
.
Setelah joging sepulang sekolah, Rakha kembali ke asrama. Hari sudah gelap dan dia berharap Bima kembali.
Sesuai harapan, saat membuka pintu terdapat sosok Bima dengan muka ditekuk.
"Baru aja kemarin bilang suka ke gue, sekarang malah deketin adek kelas!",sentak Bima.
"Oh tadi! Kenapa cemburu?",goda Rakha.
"Mana ada!!",wajah Bima memerah dan berusaha memalingkan wajah dan berpaling.
"Bim! Lu mau ajak gue main basket lagi?"
"Apaan sih plin-plan banget! Katanya mau keluar, sekarang mau main lagi?"
"Tergantung lu sih! Karena sekarang gue mau main basket, tujuannya buat lu!"
"Gak ada cara lain?"
"Hmm... Apa ya? Apa gue culik aja?",goda Rakha sambil memeluk Bima dari belakang.
Rakha mulai mencium tengkuk Bima, lalu ke pundak dan menjelajahi lehernya.
"Hmm... Ahm.... Lepas!"
"Ahh!! Sakitt!!"
Rakha mengigit telinga Bima yang sudah memerah.
"Ahh.. ah.. ja.. jangan Rakha!!",tolak Bima karena Rakha menjilati dan menggigit telinganya.
Dengan cepat, Rakha membalik tubuh Bima agar bisa saling bertatapan. Wajah Bima terlihat kacau, dan semerah tomat membuat Rakha semakin bergairah.
"Woii!! Ngapain!",kaget Bima saat Rakha mendudukkan Bima di atas meja lalu menghimpitnya.
"Bim, gue kasih peringatan. Detik ke lima gua mau cium lu. Kalau lu gak suka, bisa pukul gue.",ucap Rakha yang mendekati wajah Bima.
Tanpa menghitung waktu, Bima langsung menarik pundak Rakha hingga bibir mereka saling bersentuhan. Sesaat Rakha terkejut, tapi dia mulai menikmati bibir lembut Bima yang selama ini dia idamkan.
"Ahmnn.... Ahgn.. hmm . Ahm .."
Bibir dan lidah saling beradu dengan nikmatnya. Ciuman itu terus berlanjut hingga mereka lepas kendali.
"Ahghm... Ja... Jangan..!! Jangan masukan ah..!", jari-jemari Rakha berusaha melonggarkan lubang miliki Bima.
"Tenang Bima.. gue longgarin dulu."
"Aghhhh!!! Aghmm.!!! Ahh..."
"Gua masukin ya? Hmm??",ujung penis Rakha sudah mulai menerobos masuk
Bima hanya mengangguk pasrah.
"Aghhh!!!"
"Ahhh... Bim. Udah di dalam semua. Gue gerakin ya."
"Pelan!! Aghh.. aghmm.. hmmm..!! Ahh pelan! Pelan!!!!"
"Aghhh!!! Aghmm ahhm...hmm... Ah..!!"
Plak plak plak
"Bim gue mau keluar.. ahhmm.. ah.."
Saat akan mencapai klimaks, Bima menyilangkan kakinya.
"Keluarin di dalam! Aghmm. Aghmm.... Rakha.. ahm.. ahhhh!!"
Gerakan semangkin cepat menusuk ke dalam, hingga Rakha mengeluarkan semua muatannya di dalam tubuh Bima.
"Aghhhhh... Ahhh.... Hmmm..."
Cairan putih kental, mulai meluber keluar dan mentes di meja.
"Udah kan? Lepasin gue! Terus keluarin punya lu!!",sentak Bima.
Rakha hanya tersenyum, lalu menggendong Bima menuju kasur. Perlahan Rakha membaringkan Bima di kasurnya.
Bima mencoba mendorong Rakha untuk menyudahi semua ini. Tapi Rakha menahan kedua tangan Bima dan melanjutkan ke ronde kedua.
"Ahhh... Aghmm.. aghmm. Ahh!!!!"
Lubang Bima terisi penuh dengan cairan Rakha, hingga tumpah.
Malam masih panjang, mereka pun melanjutkannya di kamar mandi.
Setelah melakukan ronde ke tiga, Rakha mulai membersihkan tubuh Bima di bawah shower yang menyala.
Rakha membersihkan cairannya yang masih tertinggal di tubuh Bima.
Keesokan paginya, Rakha membangunkan Bima yang masih lemas dan nyeri.
"Aghhhh!!! Sial! Sakit banget pinggang gue!!",keluh Bima.
"Bim! Sekarang kita pacaran?",tanya Rakha.
"Ntahlah! "
"Yaudah pacaran aja."
"Tapi lu harus tetep di tim basket! Kerja keras yang bener!"
"Boleh aja, asalkan ada imbalan.",
"Hahh!! Pikiran lu emang seks doang?"
"Gak ragu sih kalau Bima pinter! Boleh kan lanjut lagi, hari ini kan libur."
"Sekali loh!! Lain kali pakai kondom aja!",sentak Bima.
"Okay sayangku, nanti gue nyetok!",ucap Rakha lalu mengecup dahi Bima.
"Dih gue merinding! Jangan panggil kayak gitu!"
"Ahahah...",Rakha tersenyum lalu tertawa.
"Rakha! Lu ternyata bisa ketawa juga ya."
Tanpa menjawab Rakha langsung melanjutkan aksinya untuk menikmati Bima seutuhnya.
.
.
.
To be continued ~
Yeyyyy akhirnya bisa buat special episode khusus Rakha & Bima yang selama ini hanya menjadi NPC.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Dearest Boy [BL]
Storie d'amoreRey, cowok yang bertampang preman tapi sangat jago dalam pekerjaan rumah tangga, misalnya memasak dan bersih-bersih. Keahliannya yang lain yakni bermain basket. Saat akan masuk SMA, Rey bertemu dengan Kenzie anak orang kaya raya yang tidak bisa...
![My Dearest Boy [BL]](https://img.wattpad.com/cover/250813298-64-k779904.jpg)