Chapter 29~

1.3K 93 6
                                        

Author's POV
.
.
.
"Woiii!! Woiii Rey!!!",teriak Sean memanggil Rey yang sedang tidak fokus.

"Ahh!! Sorry kak Evan! ",balas Rey yang baru sadar dari lamunannya.

"Fokuss!!! Kita lagi bahas strategi penting!! ",sentak Evan sambil menunjuk papan putih yang sudah banyak coretannya.

Rey hanya mengangguk beberapa jali dan kembali fokus dengan penjelasan kak Evan.

Saat ini Rey masih terjebak di ruangan basket sambil membahas pertandingan final yang akan diadakan 2 minggu lagi. Daritadi Rey merasa tidak tenang, perasaannya tidak enak.

Dia takut terjadi apa-apa dengan Kenzie.

'Tau gitu, gue belanja sendiri aja. Entah kenapa gue ngerasa enggak enak. Ken lu gak papa kan? ',ucap Rey dalam hati sambil berusaha fokus dengan strategi yang di berikan kak Evan.

Di sisi lain, Kenzie saat ini sedang berhadapan dengan mamanya Reynand. Kenzie tidak menyangka seorang wanita yang membantunya belanja di supermarket adalah mamanya Reynand.

Wanita itu mengaku bahwa dirinya adalah mamanya Reynand. Dan dengan tegas dia meminta Kenzie untuk putus dengan Reynand.

"Aku mohon! Kalau kamu benar-benar cinta dengan putraku, kalian harus putus sekarang juga.",ucap mamanya Reynand dengan tegas.

"Maaf nyonya, saya benar-benar mencintai Reynand. Saya tidak ingin putus dengan Reynand. Saya sungguh minta maaf.",ucap Kenzie yang mulai ketakutan, dia sangat takut kehilangan Rey.

Tubuh Kenzie mulai bergetar, matanya mulai berkaca-kaca. Dia tidak tau harus berkata apalagi. Kenzie tau kalau hubungannya pasti akan ditentang, Kenzie juga tidak mau kalau Rey dibenci oleh mamanya.

Hyeri yakni mamanya Reynand pun mulai kesal sambil menyengkritkan alisnya.

Sedangkan Kenzie hanya menundukkan wajahnya sambil terdiam dia mulai terbayang bagaimana kehidupannya tanpa Rey. Padahal Kenzie baru saja menemukan kebahagiaannya dan berharap dia tidak akan berpisah dengan Reynand.

"Hikss.. Hikss.. Maaf kan saya nyonya tapi saya mohon jangan membenci Reynand. ",ucap Kenzie yang sudah menangis tersedu-sedu.

Seketika orang-orang di sekita mereka heboh melihat Kenzie yang menangis di depan Hyeri. Mereka bertanya-tanya apa Yang sebenarnya terjadi.

"Ehhh.. Hey! Hey! Kamu kan cowok jangan menangis begitu dong. ",ucap mamanya Reynand yang mulai panik.

"Maafkan saya nyonya. Tapi saya benar-benar mencintai Reynand. ",ucap Kenzie dengan wajah Yang begitu tulus sehingga menggetarkan hati Hyeri.

"Ikut aku sebentar kita perlu bicara di tempat lain. ",ucap Hyeri sambil menggandeng tangan Kenzie.

.
.
.

"Pakai ini! ",ucap Hyeri sambil menyodorkan tisu kepada Kenzie yang saat ini duduk di sebelahnya.

Mereka berdua duduk di sebuah bangku pinggir taman yang mulai sepi karena suasana sudah semakin gelap. Padahal masih sekitar jam 6 sore.

"Terimakasih nyonya. ",ucap Kenzie lalu mengambil tisu itu dan menghapus sisa airmatanya.

"Eumm.. Ternyata kamu anak yang sangat sopan ya. Pasti ibumu mengajarimu dengan baik. ",sahut Hyeri setelah memperhatikan Kenzie.

"Sa... Saya sudah tidak punya ibu, nyonya. ",balas Kenzie dengan wajah yang sedikit murung.

"Ahh... Aku tidak bermaksud.. Maafkan aku. ",sesal Hyeri.

"Tidak apa nyonya itu sudah lama berlalu. Sebelumnya saya tidak pernah belanja dengan ibu saya. Jadi... Saya sangat terbantu hari ini, saya juga merasa senang. Mungkin seperti itu rasanya kalau belanja dengan seorang ibu. Reynand pasti senang memiliki mama seperti nyonya. ",ucap Kenzie.

My Dearest Boy [BL]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang