[Hourglass Series #1]
Tentang delapan pemuda yang dipenuhi semangat dan mimpi, disatukan menjadi satu tim yang akan berlayar menjelajahi luasnya lautan. Rintangan demi rintangan tengah menunggu kedatangan mereka. Apakah tim bernama ATEEZ yang dipimp...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kriiing....
Suara lonceng itu terdengar ketika pintu di sebuah toko terbuka. Aroma kayu yang sangat khas, menjadi hal yang dapat terhirup kala menginjakkan kaki di ruangan penuh kertas itu. Ya, itu adalah sebuah toko buku yang dipilih oleh Yeosang dan San. Tidak ada niat khusus. Keduanya hanya asal masuk karena yang lain sudah pergi ke tempat lain lebih dahulu. Meninggalkan keduanya dalam kebingungan.
"Selamat pagi," sapa San pada seorang wanita paruh baya yang sedang membersihkan salah satu rak buku dengan kemoncengnya. Wanita itu menoleh. Ia membalas senyuman San dengan ramah.
"Selamat pagi. Kalian ingin mencari buku seperti apa?" tanya wanita itu dengan senyum ramah yang masih terukir di wajahnya.
San langsung menoleh ke arah Yeosang. Sedangkan Yeosang, ia langsung membuang muka dan berpura-pura sibuk memperhatikan deretan buku di sebelahnya. San menghela napas pelan. Ia kembali menoleh ke arah wanita itu dengan senyuman yang jauh lebih lebar dibanding sebelumnya. Memperlihatkan lesung di kedua pipinya.
"Anu ... eum ... bolehkah kami melihat-lihat dahulu? Sejujurnya, aku bingung ingin membeli buku yang mana. Semua buku di tempat ini begitu bagus," ujar San. Ia menggaruk belakang kepalanya. Perasaannya sedikit takut jika wanita itu malah akan memarahi dirinya. Tetapi, wanita itu justru tertawa pelan. Ia mendekati San dan menepuk bahu pemuda itu.
"Tidak apa-apa. Benar tidak apa-apa. Mari, aku akan menunjukkan koleksi buku terbaik di tokoku," ujar wanita itu. Mendapatkan respon yang bagus, San tersenyum lebar. Ia mengangguk penuh semangat dan berjalan mengikuti langkah wanita itu ke salah satu sudut di toko tersebut. Sehingga, tinggal Yeosang yang ada di sana. Ia menatap punggung San yang menjauh sebelum tangannya mengambil sebuah buku secara acak.
Yeosang membuka lembar pertama buku itu. Dirasa tidak menarik, ia menyimpannya kembali dan mengambil buku lainnya. Toko yang hening itu cukup membantu Yeosang untuk memahami sekilas buku yang ia ambil tersebut. Beberapa saat kemudian, San dan wanita pemilik toko itu kembali. Raut senang terukir di wajah San. Itu bukan hal aneh bagi Yeosang. Ia hanya tertarik pada sebuah buku tebal yang berada di dalam pelukan San.
"Kamu sudah menemukan bukunya?" tanya San. Ia menoleh sebentar ke arah wanita itu, ketika wanita tersebut pamit untuk ke ruangan lain. San membungkuk dan tersenyum.
"Belum," jawab Yeosang. Ia kembali menatap ke arah buku di pelukan San lagi. "Itu buku apa?" tanya Yeosang penasaran. San menunduk, menatap buku di pelukannya. Ia tersenyum dengan menaik-turunkan kedua alisnya.
"Aku akan memberitahumu nanti. Cepatlah pilih. Aku tidak ingin mendapat amarah dari Kak Hongjoong," ujarnya lalu berbisik di kalimat terakhir. Yeosang hanya menggeleng pelan. Perhatiannya kini teralih pada rak buku di sisi lainnya. Ia membaca bagian judulnya saja, lalu mengambil sebuah buku tentang laut. Buku yang bisa berguna, itu yang ia pikirkan.