28. Halateez (2)

298 68 0
                                        

Welcome back~

Seonghwa menatap kembali belanjaannya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Seonghwa menatap kembali belanjaannya. Setelah memastikan tidak ada barang yang terlewat, senyuman tipis hadir di wajahnya. Setelah itu, barulah kepalanya menoleh ke sekeliling. Tentunya, ia mencari sosok Hongjoong yang sejak tadi tidak terlihat. Melangkah perlahan, Seonghwa berusaha untuk menemukan temannya itu diantara banyaknya orang di pasar. Langkahnya sengaja ia pelankan, karena semakin siang, orang-orang justru semakin banyak yang datang ke pasar.

"Kemana orang itu?" gumam Seonghwa. Sekarang, ia menyesal tidak menyuruh Honjoong untuk menghampirinya kembali dibanding meminta Hongjoong pulang sebelum jam makan malam. Dirinya tidak ingin menjadi sasaran teman-temannya yang lebih muda itu karena kembali tanpa sosok Hongjoong. Selain itu, Seonghwa tidak menampik jika dirinya mulai khawatir dengan keadaan Hongjoong saat ini. Ia khawatir, hal buruk akan terjadi kepada temannya itu.

Seonghwa terus berjalan dengan kepala yang terus menerus mempertanyakan keadaan Hongjoong. Hingga ia berada di ujung pasar, ia masih belum menemukan sosok pria itu. Seonghwa menghela napas panjang. Ia menghentikan langkah kakinya itu. Kepalanya menoleh ke sekeliling. Memastikan, apakah ia melewatkan suatu tempat atau tidak. Tetapi, jalan masuk ke pasar hanya ada satu. Dahi Seonghwa semakin mengerut.

"Benar begitu, Kapten?"

Kepala Seonghwa langsung menoleh ke arah hutan. Telinganya masih sangat jelas mendengar ada seseorang yang berbicara dari arah hutan di depannya. Dan suara orang itu begitu mirip dengan San. Tidak, hampir mirip.

Dengan langkah yang mengendap-endap, Seonghwa mendekati hutan itu. Dengan rasa penasarannya yang tinggi, ia mencoba untuk mencari tahu siapa saja di hutan itu yang berbicara. Terlebih, ia penasaran dengan seseorang yang memiliki suara mirip San.

Baru saja Seonghwa akan mendekat ke arah sebuah pohon, seseorang menepuk bahunya dari belakang. Hampir saja Seonghwa berteriak karena terkejut, jika saja orang di belakangnya tidak segera membekap mulutnya.

"Ssst ... diamlah," bisik Hongjoong. Seonghwa berusaha menoleh ke belakang. Setelah yakin jika di belakangnya adalah Hongjoong, barulah Seonghwa mengangguk. Ia menghela napas lega setelah Hongjoong melepaskan bekapan pada mulutnya.

"Kamu darimana saja? Aku men—"

"Kita harus segera pergi dari sini," ujar Hongjoong memotong ucapan Seonghwa. Tanpa menunggu jawaban dari Seonghwa, Hongjoong segera menarik tangannya. Mereka pergi menjauh dari hutan itu dengan langkah lebar yang dibuat sehati-hati mungkin agar tidak menimbulkan suara yang mencurigakan.

Cukup lama mereka berjalan, lalu benar-benar berhenti begitu keduanya sudah ada kembali di tengah-tengah pasar. "Jadi, bisa kamu jelaskan sudah pergi kemana saja?" Sekarang Seonghwa langsung bertanya. Ia benar-benar kesal karena Hongjoong terlihat santai, padahal dirinya sudah begitu cemas dengan keadaan Hongjoong.

"Tidak pergi kemana pun. Aku hanya mengikuti mereka," ujar Hongjoong. Ia berkata jujur, tetapi Seonghwa justru menatap dirinya dengan mata menyipit dan dahi mengerut. Ia tidak percaya pada ucapan Hongjoong barusan.

Menegapkan punggungnya, Seonghwa masih mempertahankan tatapan menyelidiknya. "Benarkah? Lalu ... kenapa kamu mengikuti mereka? Kamu mengenal mereka?" tanya Seonghwa lagi. Hongjoong tidak langsung menjawab. Ia kembali berjalan menuju arah klinik yang langsung diikuti oleh Seonghwa.

"Tidak. Aku tidak mengenal mereka," ujar Hongjoong. Ia menghela napas pelan. "Tapi, salah satu dari kita sepertinya mengenal dia," lanjutnya. Seonghwa langsung terdiam. Untuk beberapa saat, ia berhenti melangkah sebelum menyusul Hongjoong dengan raut wajah yang berusaha untuk terlihat biasa saja.

"Salah satu dari kita? Maksudmu?" Hongjoong menoleh ke arah Seonghwa. Raut wajahnya menjadi lebih serius dibandingkan sebelumnya.

"Ya. Salah satu diantara kita mengenalnya. Dan dia, adalah San," ujar Hongjoong dengan yakin.

A to Z

"Tunggu, tunggu dulu, Hongjoong. Kamu sangat yakin, jika San mengenal orang yang kamu maksud itu?"

Yeosang dan Wooyoung yang tidak tertidur di ruang klinik itu, langsung saling menatap. Keduanya sama-sama memasang wajah bingung dengan suara yang ada di luar. Itu suara Seonghwa.

"Itu Kak Seonghwa, bukan?" tanya Wooyoung yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Yeosang.

"Dia sepertinya bertengkar dengan seseorang. Aku ingin lihat," ujar Yeosang. Ia segera berdiri yang langsung diikuti Wooyoung. Keduanya berjalan dengan langkah lebar namun tidak berisik, mendekati sebuah jendela untuk melihat ke luar ruangan. Wooyoung menoleh kembali ke belakang. Memastikan jika anggota Ateez yang lain tidak terbangun karena kegaduhan di luar.

Tanpa terduga, pintu dibuka secara kuat dari luar. Suara bedebum yang cukup keras, berhasil mengejutkan keenam pemuda yang ada di ruangan itu. Benar-benar mengejutkan karena keempat anggota Ateez yang tengah tertidur langsung terbangun.

"Tenanglah Hongjoong! Kamu membuat mereka terkejut," ujar Seonghwa. Raut wajahnya mulai terlihat kesal. Begitupun dengan Hongjoong. Ia terlihat menahan amarah setelah kepalanya menemukan garis hubung antara orang aneh yang ia sempat lihat tadi, dan San. Sekarang, tatapan matanya kembali tajam. Ia menelusuri sekeliling ruangan, sebelum tatapan tajamnya itu terkunci pada sosok San yang kini menatap polos ke arah dirinya.

"San. Katakan dengan sangat jujur," ujar Hongjoong. Walaupun raut wajahnya sudah terlihat sangat kesal, ia masih menahan suaranya agar tidak terdengar membentak. San langsung mengangguk.

"Baiklah. Aku akan berkata dengan jujur," ujar San. Dari suara serta raut wajahnya, terlihat jika San belum sepenuhnya sadar dari kantuknya.

Hongjoong menghela napas panjang. Ia berjalan mendekat ke arah San. Begitu sampai di depan pemuda itu, Hongjoong berjongkok di depan San yang sedang duduk di sebuah sofa bersama Jongho.

"Saat malam pertama kita berlayar, kamu bertemu dengan seseorang dengan pakaian serba hitam, bukan?" Semua orang langsung menatap bingung ke arah Hongjoong. Karena hal ini memang tidak diketahui oleh mereka. Ketika San mengangguk, rasa penasaran itu semakin besar.

"Orang itu juga, yang memberikanmu tato. Yang menyuruhmu untuk mengorbankan diri. Benar, bukan?" San kembali mengangguk. Hongjoong menghela napas panjang. Ia menundukkan kepalanya. Beberapa saat kemudian, ia meraih tangan kanan San dan meremasnya pelan.

"Kamu tahu, dia siapa?"

"Yunho. Dia Yunho," jawab San. Semua orang, terkecuali San dan Hongjoong langsung terkejut bahkan menahan napas untuk beberapa saat. Mereka langsung mengalihkan atensinya ke arah Yunho yang sudah berdiri dan menatap bingung dan terkejut ke arah San.

"Aku? Aku tidak pernah melakukannya, sungguh! Aku bahkan tidak tahu tentang kejadian malam pelayaran kita itu," ujar Yunho. Mingi langsung menarik tangan kiri Yunho. Ia mengusap lengan sahabatnya itu agar menjadi sedikit lebih tenang.

Hongjoong tersenyum tipis. Ia menepuk kepala San sebentar. "Tidurlah lagi," ujarnya pelan yang langsung diangguki San. Tanpa menunggu waktu lama, San sudah kembali tertidur pulas di sebelah Jongho yang masih kebingungan.

"Memang. Itu bukan kamu, Yunho," ujar Hongjoong. Ia membalikkan badannya. Menatap ke arah anggota Ateez lain yang masih menatap dirinya penuh penasaran. Terlebih Yunho, yang sepertinya tidak ingin disalahkan atas tato di tubuh San. Raut wajah Hongjoong kembali serius. "Tapi dia Yunho. Yunho yang berbeda. Benar begitu, Seonghwa?"

To be Continued....

14 September 2021

Fia's Note :

Aku lagi bucin banget sama Ateez. Maaf kalau telat banget. Tapi tenang, aku bakal fokus namatin ini dulu. Soalnya semalem iseng mau bikin cerita baru malah gak bisa😭

Di sini Hongjoong udah marah dua kali, ya? Tenang, ini belum ke bumbu konflik. Masih jauh😅

Sampai jumpa lagi.

HOURGLASS : PIRATE KING [The End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang