[Hourglass Series #1]
Tentang delapan pemuda yang dipenuhi semangat dan mimpi, disatukan menjadi satu tim yang akan berlayar menjelajahi luasnya lautan. Rintangan demi rintangan tengah menunggu kedatangan mereka. Apakah tim bernama ATEEZ yang dipimp...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sekali lagi, Hongjoong memastikan anggota timnya tidak meninggalkan barang bawaan mereka. Dirinya, dibantu Seonghwa, memantau para anggota tim yang baru saja selesai bersiap untuk kembali ke pelabuhan. Mereka tidak bisa terus bergantung pada Eden yang saat ini mungkin, tengah sibuk bersama Raja Varsha. Karena mulai hari ini, Hongjoong akan berusaha untuk menjadi seorang Kapten sesungguhnya tanpa terus meminta pertolongan dari seniornya tersebut.
Dengan kacamata yang bertengger di hidungnya, Hongjoong keluar dari kamar yang dipakai Mingi dan Jongho. Semua kamar sudah kembali dirapikan oleh masing-masing dari mereka tanpa menunggu pelayan Istana datang. Ia berjalan diikuti oleh Seonghwa menuju aula Istana.
"Kita akan langsung pergi begitu saja?" tanya Seonghwa. Ia menoleh, mendapati beberapa prajurit serta pelayan yang memperhatikan mereka berdua dengan tatapan yang cukup aneh. Hongjoong tetap memandang ke depan, tetapi kepalanya mengangguk.
"Ya. Lebih cepat lebih baik, kita memulai perjalanannya," ujar Hongjoong. Ia mengeluarkan sebuah kompas dari saku celananya, lalu menyerahkan benda itu pada Seonghwa. "Bisa, bukan?" tanya Hongjoong. Kali ini, ia menoleh ke arah Seonghwa dengan tatapan bertanya.
Seonghwa menatap kompas itu beberapa saat. Tentu saja, ia memiliki keraguan besar dalam dirinya. Walaupun sejak awal, dirinya sudah ditunjuk untuk menjadi Wakil Kapten oleh Hongjoong sendiri, tetapi memiliki benda itu rasanya cukup berat. Memegang kompas, itu berarti Hongjoong mempercayakan pelayaran mereka kepada dirinya.
"Aku berpikir, bukan aku yang berhak memegang benda itu, Hongjoong. Aku tidak sehebat itu untuk membaca lautan," ujar Seonghwa. Ia mendorong tangan Hongjoong yang memegang kompas itu. Kepalanya juga menggeleng, menegaskan jika dirinya memang tidak bisa memegang kendali kapal sekalipun Hongjoong yang memintanya.
"Aku memang Wakilmu. Tetapi, yang sangat bisa kulakukan ialah mengurus semua anggota. Untuk mengemudikan kapal, aku minta maaf karena itu bukan kemampuanku," jelas Seonghwa. Hongjoong menghela napas. Ia tidak bisa terus mendesak Seonghwa lagi. Dimasukkannya kembali kompas itu ke dalam saku celana.
"Lantas, siapa menurutmu yang bisa memegangnya?" tanya Hongjoong. Seonghwa menggeleng pelan. Walaupun dirinya yang cukup sering berinteraksi dengan anggota lain, ia tidak bisa asal menyebutkan nama salah satu dari mereka begitu saja. Mengendalikan kapal, itu bukan sesuatu yang bisa dikatakan mudah.
"Bagaimana jika sementara kamu yang memegang kendali? Nanti, aku yakin ada anggota yang memiliki kemampuan itu di tengah perjalanan kita," saran Seonghwa. Hongjoong mengangguk paham.
"Ya, kamu benar. Akan lebih baik mereka melakukannya atas keinginan diri sendiri. Terima kasih atas sarannya," ujar Hongjoong. Ia tersenyum sambil menepuk bahu Seonghwa pelan. Ucapan pria itu hanya dijawab anggukan saja oleh Seonghwa.
Keduanya tanpa terasa sudah sampai di aula. Di sana, mereka dapat melihat seluruh anggota yang sudah siap kembali ke pelabuhan termasuk Eden dan dua orang kepercayaannya. Di samping itu, ada juga Raja Varsha dan putrinya yang menyambut kedatangan keduanya dengan senyuman ramah.