Seperti yang mereka duga, Hongjoong marah. Hongjoong marah bukan karena mereka mendaftar pertandingan tanpa meminta izin. Tidak, Hongjoong belum mengetahuinya. Tetapi, karena mereka berlima tidak dapat ditemukan dimana pun di penginapan ketika Hongjoong mencari. Ini karena San, Wooyoung, dan Jongho yang terlambat pulang ke penginapan. Juga, Hongjoong yang tidak bisa menemukan Yunho serta Mingi dimana pun.
"Sudahlah, Hongjoong. Mereka hanya berjalan-jalan di sekitar penginapan. Aku melihatnya sendiri," ujar Seonghwa. Sejak tadi, dirinya memang berusaha untuk menenangkan Hongjoong. Walaupun sebenarnya, ia cukup terkejut ketika mengetahui jika Yunho dan Mingi tidak berada di penginapan.
Hongjoong masih mengunci rapat mulutnya. Ia menatap tajam kelima orang yang kini berdiri di hadapannya dengan kepala yang menunduk. Di sebelahnya, Yeosang duduk dengan tegap. Walaupun bukan dirinya yang tengah dimarahi, tetapi ia juga merasakan takut pada Hongjoong.
"Berikan alasan terbaik kalian, kenapa kalian berada di luar penginapan tanpa seizinku?" ujar Hongjoong. Kelima pemuda itu tersentak. Mereka saling melirik, mencoba menyuruh salah satu dari mereka untuk berbicara duluan.
"Eum ... Kak." Akhirnya, Jongho memilih menjadi orang yang pertama berbicara. Ia mengangkat tangannya, membuat atensi Hongjoong teralih pada Jongho sepenuhnya. Menelan ludahnya dengan sedikit kesusahan, Jongho melirik ke arah empat Kakaknya itu. Mereka memberikan semangat pada Jongho dengan raut wajah. "Kami ... sebenarnya berniat mencari benda yang disuruh Tuan Charlos di sekitar penginapan. Kami berpikir, lebih cepat lebih baik mencari benda itu, terlebih pelabuhan di sini memiliki banyak toko," ujar Jongho.
Hongjoong menganggukkan kepalanya beberapa kali. Mereka diam-diam menghela napas lega melihat hal tersebut. Berpikir jika Hongjoong tidak akan marah, tetapi mereka salah. Hongjoong kembali menatap mereka dengan cepat. "Bukan berarti kalian bisa tidak izin padaku, bukan? Apakah sulit melakukannya?" Semua menggeleng. Kepala mereka kembali menunduk.
"Sebenarnya kami berencana mengikuti pertandingan tanpa senjata yang diadakan di sini," ujar Mingi secara tiba-tiba. Semua langsung menoleh ke arah Mingi dengan raut wajah terkejut. Terlebih keempat orang yang sudah sepakat untuk tetap menyembunyikan perihal pertandingan itu. Ucapan Mingi diluar dari rencana mereka. Bahkan, Jongho yang terakhir tahu tentang rencana ini pun, tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
Seonghwa, Hongjoong, dan Yeosang langsung menatap mereka terkejut. Seonghwa dan Yeosang bahkan langsung menoleh ke arah Hongjoong untuk melihat reaksi seperti apa yang akan Hongjoong tampilkan.
"Kalian bercanda?" tanya Hongjoong. Dirinya berusaha yakin jika ucapan Mingi hanya bualan saja. Bukan hal yang benar. Tetapi, raut wajah Mingi terlalu serius untuk dianggap candaan biasa.
"Tidak. Kami sangat serius tentang hal itu. Alasan kami, adalah karena kami harus menjadi lebih kuat untuk pelayaran nanti," ujar Yunho pada akhirnya. Ia merasa, akan sangat sia-sia saja menyembunyikannya. Karena pada akhirnya juga, mereka akan tahu tentang hal ini.
"Juga." Mingi melirik ke arah San yang berdiri di sebelahnya, lalu ke arah Seonghwa yang masih terlihat terkejut. "Aku merasa ada hal penting yang disembunyikan oleh San dan Kak Seonghwa," ujar Mingi. Awalnya, ia hanya menduga hal ini saja. Akan tetapi, begitu melihat raut terkejut Seonghwa, dugaannya semakin menguat.
Di sisi lain, Hongjoong langsung menoleh ke arah Seonghwa. Ia menatap Seonghwa dengan meminta penjelasan. Semua orang, langsung menatap ke arah dua orang itu. Menghela napas panjang, Seonghwa memejamkan matanya sebentar sebelum berdiri tegap.
"Ya. Memang ada hal yang aku dan San sembunyikan. Dan itu, penting. Sangat penting malah," ujar Seonghwa. Ia membuka kedua matanya. Menatap tepat ke arah San yang juga tengah menatap dirinya.
"Jelaskan kepada kami, sekarang," ujar Hongjoong dengan nada penuh perintah.
A to Z
San menatap Seonghwa penuh permohonan. Ia sangat berharap, Seonghwa tidak menceritakannya sekarang. Ini memang cukup egois, tapi ia khawatir anggota lain akan kesulitan untuk menerima fakta itu. Fakta jika dirinya lah yang harus mati. Tetapi sayangnya, Seonghwa memberikan gelengan kepala ringan ketika menatapnya. Tidak perlu dijelaskan. Sudah jelas jika Seonghwa tidak akan menuruti keinginan San kali ini.
"San. Dia akan mati." Hanya itu yang San dengar dari mulut Seonghwa. Seonghwa sepertinya sengaja hanya mengatakan hal itu pada anggota lain. Setelah mengatakan hal itu, kedua mata Seonghwa mulai berair. Dadanya kembali terasa sesak. Sedangkan San, dia hanya bisa semakin menundukkan kepalanya ketika merasakan jika orang-orang di sekitarnya, menatap dirinya dengan begitu dalam.
"Mati? Maksudnya?" tanya Hongjoong tidak mengerti. Kebingungannya semakin bertambah ketika dirinya melihat Seonghwa yang menahan diri untuk tidak menangis.
Seonghwa masih belum mau bicara, bahkan ketika anggota lainnya ikut bertanya. Karena itu, dengan cepat San membuka kausnya. Hal yang membuat mereka terkejut.
"Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu malah membuka bajumu, hah?" ujar Wooyoung dengan kesal. Tetapi, San tidak merespon seperti biasanya. Ia hanya diam dengan kepala yang masih menunduk.
"San, sejak kapan kamu memiliki tato?" tanya Mingi bingung. Pertanyaannya itu membuat anggota lain ikut memperhatikan tato di bahu kanan San. Raut wajah terkejut langsung terlihat di wajah mereka ketika menyadari jika tato tersebut membentuk pola seperti jam pasir.
"Itu adalah tanda ..., jika San yang ditunjuk untuk mengorbankan nyawanya demi misi kita ini," ujar Seonghwa. Kali ini, ia tidak bisa menahan diri lagi. Kakinya melangkah mendekati San. Membantu pemuda itu memakai kembali kausnya. Setelah itu, Seonghwa memeluk San erat.
"Tidak. Tidak akan ada seorang pun yang mati. Kita bisa mencari semua jam pasir dan pulau itu dengan selamat," ujar Hongjoong sangat yakin. Seonghwa menggeleng. Ia melepaskan pelukannya, menoleh ke arah Hongjoong dengan kedua mata yang berair.
"Aku juga berharap begitu. Tetapi, apakah kalian sudah tahu, kenapa kita bersusah payah mencari jam pasir itu? Apakah kalian sudah tahu, jam pasir itu untuk apa?" Semua terdiam mendengar pertanyaan dari Seonghwa tersebut. Mereka hanya menerima misi itu tanpa bantahan dan bertanya untuk apa. Seonghwa menghela napas. Ia mengusap punggung San.
"Jam pasir itu, bisa membawa kita ke dimensi yang berbeda. Kita juga bisa menggunakannya untuk berpindah ruang dan waktu. Hanya saja, harus ada yang dikorbankan dalam setiap penggunaannya," ujar Seonghwa.
"Jadi ... San akan dikorbankan agar kita bisa menggunakan jam pasir itu?" tanya Wooyoung yang langsung dijawab anggukkan kepala oleh Seonghwa.
"Ya. Charlos akan menggunakannya untuk menyelamatkan semua warga Azland, bukan? Itu berarti, dia akan menggunakan nyawa San untuk menyelamatkan warga Azland."
Hongjoong mengepalkan tangannya. Ini benar-benar tidak pernah diduga oleh dirinya sama sekali. Fakta jika jam pasir yang mereka cari memiliki kekuatan besar dan mengerikan. Terlebih, mengharuskan mereka untuk mengorbankan satu nyawa. Tidak. Hongjoong sama sekali tidak pernah ingin itu terjadi.
"Selain itu." Sekarang, San bersuara. Suaranya terdengar serak, seperti habis menangis. "Kita tidak tahu akan melawan siapa saja yang juga mengincar jam pasir itu. Kita harus merebut semua jam pasir itu, agar tidak ada orang jahat yang menggunakannya dengan niat buruk," ujar San.
Kepala Hongjoong terangkat. Raut wajahnya terlihat sangat rumit. "Tidak. Lebih baik kita melupakan misi mencari jam pasir itu saja. Aku tidak ingin, salah satu dari kita terluka," ujar Hongjoong. Ketika ia berdiri dan hendak keluar dari ruangan itu, Yunho menahan lengannya. Tatapn Yunho begitu tajam terarah kepada dirinya.
"Misi ini akan tetap berjalan, meskipun resikonya sangat tinggi. Jika benda itu bisa memutar waktu dan berpindah dimensi, kehancuran besar dunia bisa terjadi kapan saja. Dan kita, akan dianggap pengecut karena memilih untuk menyerah dengan misi ini," ujar Yunho. Hongjoong menoleh ke arah anggota lain. Dari raut wajah mereka, sepertinya mereka memiliki pemikiran yang sama dengan Yunho. Tetap melanjutkan misi berkategori gila ini.
To be Continued ....
29 Agustus 2021
KAMU SEDANG MEMBACA
HOURGLASS : PIRATE KING [The End]
Fanfiction[Hourglass Series #1] Tentang delapan pemuda yang dipenuhi semangat dan mimpi, disatukan menjadi satu tim yang akan berlayar menjelajahi luasnya lautan. Rintangan demi rintangan tengah menunggu kedatangan mereka. Apakah tim bernama ATEEZ yang dipimp...
![HOURGLASS : PIRATE KING [The End]](https://img.wattpad.com/cover/280081229-64-k422854.jpg)